Jebakan Angka 5%

Senin, 15 Mei 2023 | 08:00 WIB
Jebakan Angka 5%
[]
Reporter: Barly Haliem | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sebentar lagi habis. Namun sejauh ini, sepanjang dua periode masa pemerintahannya, Presiden Jokowi belum mampu membawa ekonomi Indonesia meroket di angka 7% seperti janji kampanye periode pertama. 

Alih-alih melesat tinggi, laju ekonomi Indonesia  cenderung stagnan di angka 5%. Pada kuartal I-2023, misalnya, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% secara tahunan. 

Salah satu penyebab mengapa laju ekonomi dalam negeri sulit tumbuh tinggi adalah kecenderungan masyarakat mengerem belanja.

Padahal selama ini belanja masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi konsumsi masyarakat mencapai lebih dari 50% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I-2023, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,54% secara tahunan atau  year on year. Angka ini cenderung stagnan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang berada di angka 4,48%. 

Ada sejumlah hal yang ditengarai mengerem laju konsumsi masyarakat. Misalnya, tekanan inflasi, kenaikan suku bunga pinjaman serta tingginya ketidakpastian situasi ekonomi global. 

Selain berbagai faktor di atas, beban pengeluaran pajak juga disinyalir menghambat belanja masyarakat. 

Sebagai gambaran, berdasarkan reportase KONTAN kepada sejumlah pekerja formal, saat ini beban pajak penghasilan (PPh) masuk dalam tiga besar biaya yang dikeluarkan mereka, setelah pengeluaran makan-minum dan biaya pendidikan. 

Pembayaran PPh mengambil porsi minimal 6% dari total penghasilan kotor pekerja. Kalkulasi beban pajak tersebut belum memperhitungkan pungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas setiap belanjaan konsumen.

Beban pajak masyarakat akan lebih besar lagi jika memperhitungkan total  PPN belanjaan yang ditanggung oleh konsumen (Harian KONTAN, 10 Mei 2023).

Kita menyadari bahwa pembayaran pajak merupakan kewajiban masyarakat. Dari pajak pula negara ini bisa membangun sarana pendidikan, menambal jalan berlubang, hingga fasilitas kesehatan yang murah. 

Namun demikian, pemerintah juga harus berjuang dan bekerja keras membawa ekonomi negara ini tumbuh lebih tinggi. Indonesia berisiko besar jika tidak segera keluar dari jebakan pertumbuhan 5%.

Misalnya, angka pengangguran terus tinggi akibat pertumbuhan ekonomi tak cukup lagi membuka lapangan kerja lebih luas, serta kedodoran dalam mengimbangi laju penambahan angkatan kerja. 

Efek selanjutnya, setoran pajak menjadi stagnan karena minimnya pertambahan wajib pajak baru, sehingga utang baru terus digali untuk menutup kebutuhan negara dan defisit anggaran.

Melonjaknya utang menyebabkan alokasi dana pembangunan makin tipis karena mayoritas duit negara habis untuk membayar cicilan utang. 

Itulah lingkaran setan yang bakal kita hadapi. Maka dari itu, tiada jalan lain bagi pemerintah selain segera  memutus mata rantai jebakan pertumbuhan 5% ini. 

Bagikan

Berita Terbaru

Strategi Melawan Pump and Dump di Bursa Efek Indonesia
| Senin, 23 Februari 2026 | 04:48 WIB

Strategi Melawan Pump and Dump di Bursa Efek Indonesia

Peran BEI sangat krusial dalam meminimalkan praktik pump and dump karena BEI adalah frontline market operator, garis pertahanan pertama.

Simak Rekomendasi Emiten Migas di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas
| Senin, 23 Februari 2026 | 04:33 WIB

Simak Rekomendasi Emiten Migas di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas

Dengan berbagai sentimen geopolitik, harga minyak Brent untuk tahun 2026 secara moderat di kisaran US$ 62–US$ 67 per barel.

Pasar Dihantui Kecemasan, Harga Bitcoin Tertekan
| Senin, 23 Februari 2026 | 04:17 WIB

Pasar Dihantui Kecemasan, Harga Bitcoin Tertekan

Risiko volatilitas bitcoin di kuartal I-2026 masih cukup tinggi, terlihat dari Indeks Fear & Greed yang berada di area extreme fear

Sentimen Tarif Donald Trump di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 23 Februari 2026 | 04:17 WIB

Sentimen Tarif Donald Trump di Awal Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Di awal pekan ini,  pelaku pasar akan mencermati keputusan terbaru dari Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif Presiden Donald Trump.

Tarif Dagang Tak Imbang, Bursa Saham Gamang
| Senin, 23 Februari 2026 | 04:14 WIB

Tarif Dagang Tak Imbang, Bursa Saham Gamang

Ketidakpastian kebijakan tarif dagang yang kembali muncul, dapat menimbulkan gejolak baru di pasar saham..

Bayar Utang Jumbo, Saranacentral Bajatama (BAJA) Menggelar Rights Issue
| Senin, 23 Februari 2026 | 04:05 WIB

Bayar Utang Jumbo, Saranacentral Bajatama (BAJA) Menggelar Rights Issue

Tujuan PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) menggelar rights issue untuk membayar utang kepada pihak terafiliasi, yaitu PT Sarana Steel. ​

Ditahannya Bunga Acuan Persulit Leasing Genjot Pembiayaan
| Senin, 23 Februari 2026 | 03:35 WIB

Ditahannya Bunga Acuan Persulit Leasing Genjot Pembiayaan

Bunga acuan yang bergeming selama enam bulan terakhir, bisa membuat tugas multifinance semakin menantang dalam upaya memperbaiki kinerja.

Menadah Berkah dari Saham Dividen
| Senin, 23 Februari 2026 | 03:35 WIB

Menadah Berkah dari Saham Dividen

Saat harga saham yang murah, dividen dinilai menjanjikan imbal hasil atau return menarik bagi investor.

Bank Diharap Percepat Penurunan Bunga Kredit
| Senin, 23 Februari 2026 | 03:20 WIB

Bank Diharap Percepat Penurunan Bunga Kredit

​BI rate sudah turun 1,25%, tapi bunga kredit baru susut 40 bps ke 8,8%. Meski insentif likuiditas digelontorkan, transmisi ke nasabah lambat

Bisnis Parkir Terdorong Populasi Kendaraan
| Senin, 23 Februari 2026 | 03:10 WIB

Bisnis Parkir Terdorong Populasi Kendaraan

Manajemen Secure Parking Indonesia memproyeksikan bisnis perparkiran nasional masih akan tumbuh pada 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler