Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif
Berita Opini

Jebakan Pengalaman dalam Menjadi Agen Perubahan

Oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan
Minggu, 28 Maret 2021 | 09:05 WIB
Jebakan Pengalaman dalam Menjadi Agen Perubahan

Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Coba lihat iklan lowongan kerja yang beredar di sekitar kita. Banyak yang menjadikan pengalaman sebagai salah satu kriteria, bahkan kriteria utama, dalam urusan rekrutmen. Apalagi, jika posisi yang hendak direkrut adalah jabatan tinggi.

Maklumlah, kita terbiasa dengan adagium bahwa pengalaman adalah guru terbaik, yang tak dapat digantikan oleh ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku sekolah. Pengalaman, terutama pengalaman keberhasilan, seringkali dianggap jaminan mutu untuk mendatangkan keberhasilan lainnya di masa yang akan datang.

Namun, mantan CEO Honeywell, David Cote, memiliki pandangan yang agak berbeda. Dalam wawancaranya dengan Harvard Business Review (January-February, 2021), Cote membagikan hasil refleksinya atas pengalaman memimpin perusahaan dengan pendapatan sekitar US$ 35 miliar tersebut.

Sebelum ditunjuk sebagai CEO Honeywell, ia hanyalah seorang pimpinan perusahaan otomotif dan dirgantara TRW Inc. selama 7 bulan; periode yang jauh lebih dari kata cukup untuk membangun reputasi sebagai seorang pemimpin sukses. Tak pelak, saat diangkat menjadi pimpinan puncak perusahaan langganan Fortune 100 tersebut, banyak komentar miring yang menghampirinya.

Beberapa di antaranya bahkan menuding bahwa dirinya bukanlah pilihan pertama untuk memimpin perusahaan, pasca akuisisi Honeywell oleh AlliedSignal, dan sama sekali tak yakin bahwa ia akan berhasil melakukan perubahan positif bagi perusahaan.

Sejarah akhirnya membuktikan bahwa Cote adalah salah satu CEO terbaik yang pernah dimiliki oleh Honeywell. Kondisi perusahaan yang merugi pada saat penunjukkannya sebagai CEO, berhasil dikembalikan ke jalur keuntungan dalam waktu yang relatif singkat. Selanjutnya, perusahaan pun menunjukkan kinerja operasional dan kontribusi publik yang mengesankan, yang membuatnya dipercaya menjadi pimpinan puncak selama 15 tahun.

Pada saat mempersiapkan masa pensiunnya di tahun 2017, Cote pun merefleksikan secara mendalam kualitas diri yang dibutuhkan oleh seorang CEO yang sukses, dan dituangkannya dalam buku bertajuk Winning Now, Winning Future (2020).

Secara umum, Cote menilai bahwa selama ini kita terlalu melebih-lebihkan (overrate) faktor pengalaman. Banyak orang yang memiliki pengalaman yang begitu kaya, namun toh tak berhasil menjadi agen perubahan yang berhasil. Mengapa? Karena yang bersangkutan tak memiliki rasa lapar untuk melakukan perubahan dan menciptakan perbedaan, jawab Cote.

Sebaliknya, seorang CEO yang miskin pengalaman justru seringkali memiliki rasa lapar yang lebih besar untuk melakukan perubahan. Tatkala seseorang masih belum memiliki reputasi yang dapat dibanggakan, ia akan lebih merasa lapar untuk meraih kesuksesan.

Namun, lebih dari sekadar rasa lapar, Cote juga menekankan pentingnya sikap keterbukaan dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik haruslah terbuka pada berbagai fakta dan pandangan, dan menyadari bahwa dia bukanlah sosok yang serba tahu. Kerendahan hati untuk belajar dan keterbukaan terhadap hal-hal baru adalah tantangan mental terbesar bagi seorang pemimpin, khususnya pemimpin puncak.

Untuk urusan pembelajaran di tengah kepenuhan pengalaman, cerita berikut pantas disimak.

Merasa lapar

Bruce Lee, artis kungfu Hollywood terpopuler sepanjang sejarah dan juga penemu aliran bela diri Jet Kun Do, pernah kedatangan seorang peminat bela diri dari aliran lain. Dengan serius, si peminat bela diri meminta sang maestro mengajarkan segala ilmu bela diri yang dikuasainya.

Bruce Lee pun sesaat terdiam dan segera membawa dua cangkir berisi air. Katanya, "Cangkir pertama mewakili semua yang saya ketahui tentang bela diri, sementara cangkir kedua mewakili semua yang Anda ketahui tentang bela diri." Agar si peminat bela diri tersebut bisa mendapatkan ilmu Bruce Lee, sang maestro memberikan syarat yang berat baginya, yakni harus terlebih dahulu mengosongkan cangkirnya. Artinya, ia harus rela menanggalkan segala ilmu bela diri yang pernah dipelajari sebelumnya dan menempatkan dirinya sebagai orang naif yang tak mengerti apa pun tentang ilmu bela diri.

Bruce Lee memberlakukan syarat tersebut dengan maksud agar dapat mengisi kembali orang tersebut dengan ilmu bela diri darinya.

Steve Jobs, salah satu CEO terbaik sejagad di abad modern memiliki jargon hidup yang sangat terkenal, stay hungry, stay foolish.

Sang pendiri Apple ini jelas bukan orang yang tak punya uang untuk membeli makanan, ataupun intelejensi yang tak memadai sehingga terkesan dungu. Ia adalah salah satu orang paling kaya di muka bumi, sekaligus juga salah satu sosok paling jenius sekelas Einstein.

Namun, ia tak pernah merasa puas dengan pencapaian yang diraihnya, dan terus belajar tiada henti untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya. Menggunakan perspektif Cote, rasa lapar Jobs untuk belajar jauh melampaui rasa bangga akan segenap pengalamannya.


Baca juga