Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO

Jumat, 03 April 2026 | 06:16 WIB
Kebijakan WFH bagi ASN, Belum Menjadi Game Changer Bagi Emiten Telko dan GOTO
[ILUSTRASI. Menaker imbau penerapan WFH untuk efisiensi energi (ANTARA FOTO/Salma Talita)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan work from home (WFH) atau bekerja di rumah satu hari per minggu bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dinilai bisa memberikan sentimen jangka pendek walau belum mampu mengubah prospek fundamental emiten telekomunikasi dan sektor on-demand seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)

Sebagai informasi, Pemerintah melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan telah mantap mengambil opsi skema bekerja dari rumah atau WFH untuk ASN setiap hari Jumat guna menghemat energi. Badan Energi Ineternasional atau The International Energy Agency (IEA) pernah menjelaskan, WFH mampu memangkas konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mobil 2%-6% secara nasional.

Dikutip dalam laman resminya, Kamis (2/4), IEA menilai WFH berdampak dalam upaya penghematan BBM kendaraan pribadi.

Melihat hal ini, Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan bahwa emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) bisa menuai kenaikan trafik data karena utilisasi jaringan.

Baca Juga: Profitabilitas GOTO Makin Dekat, Fintech Jadi Kunci Utama?

"Trafik data dapat meningkat terutama pada layanan fixed broadband (FMC). Namun, dorongan terhadap ARPU cenderung terbatas dan moderat, karena konsumen lebih memilih paket kuota besar (bulk) atau unlimited yang menekan yield per GB," ucap Wafi saat dihubungi oleh KONTAN, Kamis (2/4).

Hal senada juga disebutkan oleh Pengamat Bisnis dan Pasar Modal Reydi Octa yang menyebutkan WFH memang mendorong kenaikan trafik data, bahkan bisa mencapai belasan persen saat periode WFH.

"Namun, dampaknya ke ARPU tidak selalu linear, karena konsumsi data cenderung volume driven, sementara harga masih kompetitif. Jadi, trafik naik, tapi monetisasi terbatas, ARPU naik tipis, bukan lonjakan signifikan," imbuh Reydi.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi menambahkan bahwa WFH memberikan dampak positif namun bersifat incremental. Pengaruhnya lebih terasa di segmen fixed broadband seperti IndiHome TLKM dibanding seluler.

"ARPU industri diproyeksikan naik dari Rp 40.300 di 2025 menjadi Rp 42.500 di 2026, didorong tingginya penggunaan data dan perbaikan yield. WFH menjadi salah satu penopang volume, namun bukan satu-satunya penggerak utama," ucapnya.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kredit Pajak untuk Zakat, Adil bagi Siapa?
| Selasa, 14 Juli 2026 | 10:59 WIB

Kredit Pajak untuk Zakat, Adil bagi Siapa?

Pendekatan yang lebih layak ditempuh adalah kredit pajak berjenjang dengan batas persentase maksimum terhadap pajak terutang.

Melestarikan Budaya
| Selasa, 14 Juli 2026 | 10:47 WIB

Melestarikan Budaya

Kekayaan budaya bukan sekadar identitas masa lalu, tapi bagian dari jati diri bangsa. Jangan sampai hilang karena kita terlambat sadar.

Belajar dari EMAS dan TLKM, Akankah Gelombang Dual Listing Emiten RI Berlanjut?
| Selasa, 14 Juli 2026 | 10:13 WIB

Belajar dari EMAS dan TLKM, Akankah Gelombang Dual Listing Emiten RI Berlanjut?

Dual listing tak selalu jadi pilihan terbaik jika manfaat tidak lagi sebanding dengan biaya dan kompleksitas yang harus ditanggung.

MBMA Perkuat Rantai Pasok Nikel Terintegrasi, Ekspansi Tambang Jadi Penopang Kinerja
| Selasa, 14 Juli 2026 | 09:08 WIB

MBMA Perkuat Rantai Pasok Nikel Terintegrasi, Ekspansi Tambang Jadi Penopang Kinerja

MBMA akan tetap fokus pada efisiensi operasional, disiplin alokasi modal, serta melanjutkan pengembangan hilirisasi sebagai motor pertumbuhan.

SMCB Resmi Likuidasi Anak Usaha SBI Bangun Nusantara
| Selasa, 14 Juli 2026 | 09:07 WIB

SMCB Resmi Likuidasi Anak Usaha SBI Bangun Nusantara

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) melakukan pembubaran disertai dengan likuidasi PT SBI Bangun Nusantara (SBN).

Dapat Restu RUPSLB, RMK Energy (RMKE) Eksekuisi Stock Split dengan Rasio 1:5
| Selasa, 14 Juli 2026 | 09:02 WIB

Dapat Restu RUPSLB, RMK Energy (RMKE) Eksekuisi Stock Split dengan Rasio 1:5

Stock split emiten pertambangan batubara itu akan dilakukan dengan rasio 1:5 atau satu saham lama menjadi lima saham baru.

Peta Market Cap BEI: BBCA di Puncak Klasemen, DCII dan MORA Masuk Top 10
| Selasa, 14 Juli 2026 | 08:59 WIB

Peta Market Cap BEI: BBCA di Puncak Klasemen, DCII dan MORA Masuk Top 10

Peta emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) berubah dalam enam bulan terakhir, DCII dan MORA masuk top 10. 

Usai Lunasi Surat Utang Rp 38,29 Miliar, Kinerja BWPT Ke Depan Bergantung Harga CPO
| Selasa, 14 Juli 2026 | 08:57 WIB

Usai Lunasi Surat Utang Rp 38,29 Miliar, Kinerja BWPT Ke Depan Bergantung Harga CPO

Senin (13/7), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) telah melunasi pokok dan bagi hasil ke-4 Sukuk Mudharabah Tahun 2025 sebesar Rp 38.29 miliar. 

Harga Komoditas Layu, Laju Saham Bahan Baku Masih Lesu
| Selasa, 14 Juli 2026 | 08:49 WIB

Harga Komoditas Layu, Laju Saham Bahan Baku Masih Lesu

Ketidakpastian di pasar, pelemahan rupiah, dan kenaikan suku bunga acuan BI, jadi sentimen negatif bagi kinerja indeks bahan baku.​

Tambah Modal Usaha, Emiten Rajin Serap Dana IPO
| Selasa, 14 Juli 2026 | 08:43 WIB

Tambah Modal Usaha, Emiten Rajin Serap Dana IPO

Realisasi penyerapan dana hasil penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) emiten berada di atas 50% dari total emisi.

INDEKS BERITA

Terpopuler