Kelas Menengah dan Bayang-Bayang Krisis
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis belum datang, namun tandanya terasa. Daya beli melemah, ruang usaha menyempit dan tekanan ekonomi datang dari berbagai arah, baik global maupun domestik. Dalam situasi ini, kelas menengah justru berada di garis depan: bukan yang paling terlindungi, tetapi paling banyak menanggung beban.
Jumlah kelas menengah turun dari 57 juta (2019) menjadi 47 juta (2024), sementara kelompok menuju kelas menengah naik dari 128 juta menjadi 138 juta. Penerimaan pajak masih bersumber pada dua kelompok (kelas menengah-bawah) sebesar 85,2% menurut data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Hal tersebut menunjukkan kelompok ini tidak menyerah dan penyangga utama penerimaan negara. Namun pertanyaannya, berapa lama mereka bisa terus dipaksa untuk bertahan?
