Kepercayaan Pasar Rontok

Jumat, 23 Januari 2026 | 06:12 WIB
Kepercayaan Pasar Rontok
[ILUSTRASI. Adi Wikanto (KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terus berlanjut. Pada perdagangan Kamis (22/1/2026), satu dollar AS diperdagangkan dengan kurs jual Rp 17.047,81 dan kurs beli Rp 16.878,19, menurut kurs transaksi di website Bi.go.id. Sejak tahun 1998, belum pernah rupiah menembus Rp 17.000 per 1 dollar AS. 

Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan sebesar 18,15 poin atau 0,20% menjadi 8.992,18. Hal ini seiring net sell atau jual bersih investor asing sebesar Rp 1,33 triliun. Sehari sebelumnya, IHSG juga tertekan aksi jual investor asing sebesar Rp 1,9 triliun.

Total sudah empat hari net sell asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Derasnya arus keluar dana asing menjadi sinyal nyata runtuhnya kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. 

Fenomena ini bukan semata soal fundamental ekonomi global, melainkan soal keyakinan terhadap independensi otoritas moneter dan tata kelola kebijakan. Ketidakpastian institusional meningkat karena pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Pencalonan Thomas Djiwandono—keponakan Presiden Prabowo Subianto—menjadi titik krusial dalam membaca sentimen ini. BI adalah institusi yang secara konstitusional harus independen dari kekuasaan politik. Kini, pelaku pasar khawatir tercampurnya kebijakan moneter dan kepentingan politik kekuasaan.

Ini adalah dejavu pada era Orde Baru. Ketika itu, Presiden Soeharto menunjuk anaknya, Siti Hardianti Rukmana sebagai Menteri Sosial. Hasilnya, krisis 1998 menjadi sejarah mahal yang harus dibayar bangsa Indonesia.

Hari ini, konteks tentu berbeda. Namun pola kekuasaan yang memberi ruang besar pada kedekatan personal kembali memicu trauma kolektif pasar. Investor global belajar dari sejarah: independensi institusi adalah prasyarat utama stabilitas jangka panjang. Ketika prinsip tersebut dipertanyakan, modal akan mencari tempat yang lebih aman.

Pelemahan rupiah dan keluarnya dana asing bukan sekadar reaksi jangka pendek, melainkan refleksi dari krisis kepercayaan. Jika pemerintah ingin memulihkan stabilitas ekonomi, langkah paling mendesak bukan hanya intervensi pasar, melainkan memastikan bahwa lembaga-lembaga kunci negara dijaga dari bayang-bayang nepotisme. Tanpa itu, tekanan terhadap perekonomian nasional berpotensi semakin dalam dan berkepanjangan.

Selanjutnya: Saham JPFA: Potensi Cuan Dobel dari Gizi Nasional & Hilirisasi Unggas

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 13:00 WIB

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000

Saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) naik 5,78% dalam sepekan melebihi kinerja IHSG yang turun -4,47%, efek euforia pasca spin off dari BMRI.

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 11:00 WIB

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen

WIKON diajukan PKPU oleh PT Pratama Widya Tbk (PTPW), sedangkan PTPP diajukan PKPU oleh PT Sinergi Karya Sejahtera.

 Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:00 WIB

Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin

BPJS Kesehatan tidak memiliki kewenangan menonaktifkan kepesertaan PBI JK karena menjadi kewenangan Kemensos

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:58 WIB

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah

Danantara melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia. Total nilai mencapai US$ 7 miliar. 

 Revolusi Melalui Teladan
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:56 WIB

Revolusi Melalui Teladan

Perjalanan karier Joao Angelo De Sousa Mota dari dunia konstruksi ke pertanian, hingga menjadi Dirut Agrinas

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:37 WIB

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek

Jika pemangkasan outlook membuat tekanan terhadap pasar SBN berlanjut dan mempengaruhi nilai tukar rupiah, maka imbal hasil berisiko naik

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:28 WIB

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah

Penerbitan global bond oleh pemerintah belum mampu menyokong cadangan devisa Indonesia              

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:25 WIB

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah

Prospek industri multifinance diperkirakan akan lebih cerah tahun ini setelah tertekan pada 2025.​ Piutang pembiayaan diprediksi tumbuh 6%-8%

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:05 WIB

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim

Ilmu pengetahuan kini sudah bisa menjadi penghubung antara adanya emisi gas rumah kaca dan bencana alam.

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:00 WIB

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin

Bitcoin anjlok lebih dari 50% dari ATH, Ethereum senasib. Pahami risiko likuidasi massal dan hindari kerugian lebih parah.

INDEKS BERITA

Terpopuler