Kerugian Garuda Indonesia (GIAA) Membengkak Sepanjang 2025, Masih Layak Diselamatkan?

Minggu, 29 Maret 2026 | 11:00 WIB
Kerugian Garuda Indonesia (GIAA) Membengkak Sepanjang 2025, Masih Layak Diselamatkan?
[ILUSTRASI. Garuda Indonesia (Dok/Garuda Indonesia)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) masih babak belur. Sepanjang tahun 2025 kemarin, kerugiannya membengkak menjadi US$ 319,39 juta atau sekitar Rp 5,42 triliun (kurs Rp 17.000/US$). Pada tahun lalu, kerugian GIAA berada di angka US$ 69,77 juta atau sekitar Rp 1,18 triliun.

Walau kerugian membengkak, pos ekuitas GIAA berhasil berbalik positif menjadi US$ 91,9 juta atau sekitar Rp 1,52 triliun dari posisi negatif US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 22,27 miliar. Perbaikan ekuitas ini juga berhasil tercapai berkat kucuran permodalan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) senilai Rp 23,7 triliun atau sekitar uS$ 1,4 miliar.

GIAA juga sudah kembali diperdagangkan dan keluar dari papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BE) dan langsung disambut positif dengan lonjakan harga yang cukup signifikan.

Pada pembukaan pasar Jumat (27/3) berdasarkan data dari Stockbit, saham GIAA sempat dibuka melonjak pada pukul 9.35 WIB sebesar 21,92% ke Rp 89 serta menyentuh batas auto reject (ARA). Tetapi, pada penutupannya, GIAA kembali tersungkur 7,14% ke Rp 78. Sepanjang tahun 2025 ini, saham GIAA juga telah terkoreksi 20,41%.

Baca Juga: Garuda Indonesia (GIAA) Berupaya Memulihkan Kinerja

Melihat kinerja di sepanjang 2025, Manajemen Garuda menyebutkan bahwa momen keluarnya GIAA dari papan pemantauan khusus menjadi momen penting untuk memperbaiki persepsi pasar. Sebelumnya, saham GIAA diperdagangkan menggunakan mekanisme Full Call Auctin (FCA) dan masuk ke papan pengembangan. Selain itu, notasi khusus "E" yang menandakan ekuitas negatif turut dihapus sehingga kini sahamnya diperdagangkan dengan mekanisme reguler.

Melihat hal ini, Analis Infovesta Utama Ekky Topan menilai bahwa memang perbaikan struktur permodalan Garuda Indonesia memang sangat penting, namun tidak serta-merta dapat langsung menjamin turnaround kinerja.

"Permasalahan utama Garuda saat ini bukan hanya soal ketersediaan likuiditas, tetapi lebih ke aspek operasional, seperti utilisasi pesawat, optimalisasi rute, serta disiplin dalam pengelolaan biaya. Jadi, suntikan dana yang diberikan saat ini lebih berfungsi sebagai ruang dan waktu bagi manajemen untuk melakukan pembenahan, bukan solusi instan terhadap kinerja," ujar Ekky kepada Kontan, Jumat (27/3).

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Inflasi Juli 2026 Melandai ke 2,88%, Harga Pangan Turun Secara Bulanan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 17:02 WIB

Inflasi Juli 2026 Melandai ke 2,88%, Harga Pangan Turun Secara Bulanan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan atau year on year (yoy). 

Dua Bulan Minus, Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450,5 Juta pada Juni 2026
| Senin, 03 Agustus 2026 | 15:42 WIB

Dua Bulan Minus, Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450,5 Juta pada Juni 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia sebesar US$ 450,5 juta pada Juni 2026.

Penerimaan Negara dari Sawit Melonjak, Manfaat untuk Daerah Penghasil Masih Tersendat
| Senin, 03 Agustus 2026 | 10:15 WIB

Penerimaan Negara dari Sawit Melonjak, Manfaat untuk Daerah Penghasil Masih Tersendat

Sekitar 63% volume dan 80% nilai ekspor CPO serta produk turunannya pada 2025 berasal dari 57 perusahaan penerima fasilitas Kawasan Berikat.

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)
| Senin, 03 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)

Sentimen pasar awal pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data makro, baik dari dalam negeri maupun global. 

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:47 WIB

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mulai merasakan manfaat dari energi terbarukan. Bukan hanya mengurangi emisi GRK, sekaligus efisiensi energi.

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas

Di balik upaya menjaga pasokan energi tersebut, para pekerja pengeboran migas di sektor hulu menjadi garda terdepan.

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%

Pemulihan industri otomotif nasional juga turut mendorong peningkatan permintaan terhadap produk komponen otomotif perusahaan. 

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Apabila imbal hasil US Treasury masih terus tinggi, maka ada kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:33 WIB

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri

Kementerian Perindustrian memantau kondisi industri secara berkala guna mendeteksi potensi persoalan sejak dini.

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:31 WIB

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua

Rig pengeboran minyak PDSI 11.2 menjulang kokoh ke langit. Rig milik Pertamina EP Papua Field itu berdiri sebagai simbol eksplorasi energi negeri.

INDEKS BERITA

Terpopuler