Ketahanan Energi

Kamis, 26 Maret 2026 | 06:10 WIB
Ketahanan Energi
[ILUSTRASI. TAJUK - Haris Hadinata (KONTAN/Indra Surya)]
Harris Hadinata | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis energi akibat kenaikan harga energi semakin nyata di Asia Tenggara. Negara-negara tetangga sudah mulai sibuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan minyak dan tingginya harga. 

Vietnam dan Thailand misalnya, sama-sama kompak mengizinkan work from home (WFH) untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, seiring kekhawatiran kekurangan pasokan. Kedua negara tersebut juga aktif mencari komoditas energi dari sumber baru.

Filipina bahkan lebih ekstrim lagi. Pemerintah Filipina telah menerapkan status darurat energi nasional. Dengan ini, pemerintah Filipina bisa mempercepat pengadaan BBM, bahkan dengan pembayaran di muka. 

Pemerintah Filipina mengambil langkah ini lantaran menyadari pasokan minyak di dalam negeri ini sangat terbatas. Maklum, negara ini sangat bergantung pada impor energi. Sementara cadangan energi diprediksi hanya sekitar 45 hari.

Jadi, Filipina sudah menerapkan status darurat energi meski masih punya cadangan 45 hari. Sementara di Indonesia, menurut publikasi Kementerian ESDM sebelum libur lebaran pekan lalu, memiliki cadangan BBM sekitar 27-28 hari.

Sampai saat ini, pemerintah Indonesia belum mengumumkan langkah konkret memitigasi ancaman krisis energi. Sejauh ini, pemerintah baru melontarkan wacana penerapan WFH. Itu pun belum berjalan.

Setidaknya ada sedikit kabar baik. Sepertinya pemerintah serius menjaga harga BBM agar tidak naik. Kemarin, Menteri Keuangan menyebut ada potensi dana Rp 80 triliun dari efisiensi anggaran, termasuk efisiensi program MBG Rp 40 triliun. Jadi, defisit anggaran juga tidak akan bengkak ke atas 3%.

Pemerintah perlu bergerak lebih cepat memitigasi ancaman krisis energi ini. Jangan ketinggalan dibanding negara tetangga. Ini solusi jangka pendek. Dalam jangka panjang, pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi dalam negeri.

Pemerintah perlu mempercepat reformasi sektor hulu migas untuk menahan laju penurunan produksi domestik. Selain itu, percepatan transisi energi harus menjadi prioritas. Pengembangan energi terbarukan perlu didorong. Apalagi, Indonesia punya sumber daya besar soal energi terbarukan, seperti panas bumi, tenaga surya, hingga angin.

Tentu saja, penguatan cadangan energi strategis perlu dilakukan. Info saja, negara International Energy Agency diwajibkan punya cadangan minyak setara 90 hari. Jadi, jumlah cadangan Indonesia jauh di bawah itu.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pemerintah Dorong Infrastruktur Ekonomi Digital, Ini Imbasnya untuk DCII dan INET
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:19 WIB

Pemerintah Dorong Infrastruktur Ekonomi Digital, Ini Imbasnya untuk DCII dan INET

DCII menjadi salah satu emiten yang paling relevan karena bisnis utamanya memang berada di sektor data center.

Konsumen Beralih ke Kebutuhan Primer, Bagaimana Nasib Saham Sektor Konsumsi?
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:02 WIB

Konsumen Beralih ke Kebutuhan Primer, Bagaimana Nasib Saham Sektor Konsumsi?

​Di tengah pergerakan Indeks Penjualan Riil yang fluktuatif, sejumlah emiten konsumen justru mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan.

Asing Kembali Borong Saham BBRI, Valuasi Jadi Pemicu Repricing
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:08 WIB

Asing Kembali Borong Saham BBRI, Valuasi Jadi Pemicu Repricing

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mulai kembali menjadi incaran investor asing dalam sepekan.

GOTO Didepak dari Indeks MSCI, Butuh Katalis Material untuk Lepas Dari Level Gocap
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:35 WIB

GOTO Didepak dari Indeks MSCI, Butuh Katalis Material untuk Lepas Dari Level Gocap

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard pada rebalancing periode Agustus 2026.

Harga Emas Global Mulai Naik Lagi, Saham PSAB Dapat Katalis Positif
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 10:32 WIB

Harga Emas Global Mulai Naik Lagi, Saham PSAB Dapat Katalis Positif

Kenaikan harga emas global kembali ke level US$ 4.300 per ons troi dinilai menjadi katalis positif bagi PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Setoran Bea Keluar Emas Masih Minim
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:40 WIB

Setoran Bea Keluar Emas Masih Minim

Sejak Desember 2025, pemerintah mulai mengenakan bea keluar atas sejumlah produk emas ekspor        

Pergerakan Saham Grup Barito Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan MSCI
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:38 WIB

Pergerakan Saham Grup Barito Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan MSCI

Pergerakan saham Grup Barito tidak semata-mata technical rebound, melainkan kombinasi dari rebalancing MSCI, aksi korporasi, akumulasi investor.

Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:33 WIB

Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya

Pengelompokan desil dinilai kurang tepat untuk menentukan kelas ekonomi masyarakat                  

Menguji Ambisi Ekonomi Pemerintah Tahun Depan
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:21 WIB

Menguji Ambisi Ekonomi Pemerintah Tahun Depan

Ruang fiskal yang kian terbatas membuat pemerintah harus berhati-hati menjaga keseimbangan antara ambisi belanja, target pertumbuhan, dan utang

PBSA Berencana Melakukan Stock Split dengan Rasio 1:2
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:08 WIB

PBSA Berencana Melakukan Stock Split dengan Rasio 1:2

PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) berencana melakukan pemecahan saham alias stock split dengan rasio 1:2.

INDEKS BERITA

Terpopuler