Ketegangan Geopolitik Timur Tengah, Guncang Industri Otomotif Dalam Negeri

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:00 WIB
Ketegangan Geopolitik Timur Tengah, Guncang Industri Otomotif Dalam Negeri
[ILUSTRASI. Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuat industri otomotif tanah air was-was. Konfik yang memanas di kawasan Timur Tengah tersebut, berpotensi memberikan guncangan terhadap jalur distribusi mobil produksi dalam negeri, serta permintaan.

Hal tersebut disayangkan, sebab di awal tahun 2026 ini, optimisme penjualan wholesales  mobil menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data yang disusun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales pada Januari 2026 mencapai 66.447 unit, naik 7% year on year (YoY) dibanding Januari 2025 sebesar 62.084 unit.

Sedangkan retail sales (dari dealer ke konsumen) sebanyak 66.936 unit pada periode yang sama, naik 4,5% dibandingkan dengan periode Januari 2025 sebesar 64.076 unit.



Lalu pada Februari 2026 ini, penjualan mobil secara ritel naik 16,7% dibandingkan awal tahun atau sebanyak 78.219 unit. Secara wholesales, angka penjualan menembus 81.159 unit sepanjang Februari 2026 atau naik 22,1% dari capaian Januari yang sebesar 66.447 unit. Dengan begitu, secara total penjualan mobil baru ada sebesar 145.228 unit.

Walau demikian, segmen wholesales pada Januari 2026 memang melemah 29,4% secara bulanan alias month to month, dibandingkan dengan Desember 2025 yang sebesar 94.100 unit. Retail bulanan juga turun 28,7% dibandingkan dengan 93.833 unit pada Desember tahun 2025 lalu.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto juga menyampaikan tahun ini asosiasi memandang bisnis otomotif lebih optimistis dan realistis. Dia membidik target penjualan tahun ini dipasang di angka sekitar 850.000 unit, naik sekitar 5% dari realisasi 2025 yang berada di kisaran 803.000 unit.

Melihat tantangan ini, Sri Agung Handayani Marketing & Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sendiri memberikan tanggapan bahwa hingga saat ini, situasi di Timur Tengah belum berdampak langsung terhadap aktivitas produksi Daihatsu.

Daihatsu mengekspor mobil ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah, yakni Qatar, Oman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Lebanon, hingga Kuwait. Salah satu model yang banyak diekspor ke Timur Tengah yakni Raize yang dirakit di pabrik Daihatsu, Karawang.

Pihaknya tidak mengelak bahwa ada tantangan dari sisi logistik pengiriman sehingga Daihatsu menyiapkan langkah antisipatif.

"Sebagai langkah antisipatif, kami saat ini menyiapkan area penyimpanan sementara bagi kendaraan yang telah diproduksi, sambil terus berkoordinasi dengan prinsipal terkait langkah selanjutnya," ucapnya kepada Kontan.

Asal tahu saja, pada 2025, Daihatsu telah mengekspor kendaraan utuh (completely built up/CBU) lebih dari 124.000 unit, atau naik 13% yoy dibandingkan dengan 2024 sekitar 110.000 unit. Secara keseluruhan, ADM telah mengekspor beberapa model kendaraan kolaborasi ke lebih dari 60 negara di dunia, meliputi negara di Asean, Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin.

Bob Azam Wakil Presiden Direktur PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMI) juga menyampaikan bahwa hingga kini masih terus mencermati perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Hingga saat ini, komitmen kami kepada para importir di kawasan tersebut tetap berjalan dan kegiatan produksi di Indonesia juga tetap dilakukan sesuai dengan pesanan," papar Bob Azam.

Dia melanjutkan, memang terdapat tantangan dari sisi logistik karena beberapa jalur pengapalan mengalami gangguan. Oleh karena itu, saat ini TMMI sedang mempelajari beberapa alternatif rute pengiriman agar ekspor kendaraan tetap dapat berjalan.

Sementara itu, untuk ekspor komponen, pengiriman masih dapat dilakukan melalui jalur udara sehingga relatif tetap lancar. Dalam jangka pendek, dampak langsung kemungkinan terjadi pada sisi logistik, terutama apabila terjadi gangguan pada jalur pengiriman internasional.

Dalam jangka menengah, dampak yang lebih signifkan dapat terjadi apabila konflik ini memicu kenaikan harga minyak global yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi. Sementara itu, dalam jangka panjang, apabila konflik meluas dan melibatkan negara-negara lain, hal tersebut dapat memengaruhi rantai pasok global, khususnya untuk raw material.

Secara keseluruhan pada tahun 2025 Toyota Indonesia mengekspor sekitar 298.457 unit kendaraan ke berbagai negara. Dari jumlah tersebut, kontribusi pasar Timur Tengah berada di kisaran 17% hingga 20% dari total ekspor.

Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pasar ekspor yang penting bagi kendaraan produksi Indonesia, selain kawasan ASEAN dan Amerika Latin. Meski demikian, di tengah ketidakpastian geopolitik, perseroan menetapkan target ekspor yang relatif moderat pada 2026 di kisaran 300.000 unit.

Pengamat Otomotif sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menjabarkan kenaikan harga minyak yang menembus sampai US$ 100 per barel, akan menaikkan biaya produksi otomotif Indonesia lebih dari 5%.

"Tekanan ini utamanya datang dari kenaikan kenaikan biaya energi, ongkos logistik, serta harga komponen impor yang sensitif terhadap kurs dan tarif pengiriman," papar Yannes kepada Kontan, Senin (9/3).

Dia melanjutkan di sisi ekspor, pasar Timur Tengah menyumbang sekitar 11,8% dari total ekspor mobil Indonesia. Tetapi jika ketegangan berlangsung berminggu-minggu, permintaan dari kawasan itu tetap berisiko turun sampai sekitar 30% akibat biaya distribusi yg membengkak dan sentimen pasar yang melemah.

Dengan demikian walau dampaknya tidak mengguncang keseluruhan ekspor secara ekstrim, tekanan ini tetap dapat sedikit mengganggu utilisasi pabrik nasional, terutama bila tidak segera diimbangi pengalihan pasar ke kawasan lain yang lebih stabil.

Kawasan Timur Tengah memang memainkan peran strategis sebagai salah satu penyangga produksi otomotif dalam negeri melalui serapan ekspor kendaraan utuh yang mencapai sekitar 11,8% dari total 518.212 unit CBU pada 2025.

Bahkan pencapaian tersebut mampu menopang penjualan domestik yang melemah sekitar 7,2% pada tahun lalu. Kontribusi ekspor ke kawasan ini turut membantu menjaga utilisasi pabrik agar tidak turun lebih dalam.

Dengan begitu, kenaikan dolar AS dan eskalasi ketegangan geopolitik ini memang hanya akan menambah tekanan baru bagi industri otomotif nasional karena industri kita tetap terhubung erat dengan global value chain.

"Dengan kata lain, industri otomotif dalam negeri akan langsung terdampak oleh lonjakan biaya logistik, kenaikan energi manufaktur, dan risiko kelangkaan komponen impor," imbuhnya.

Senada, Pengamat Otomotif Bebin Djuana juga mengatakan bahwa ketegangan geopolitik antara AS-Iran di Timur Tengah jelas akan mempengaruhi permintaan dari area tersebut.

"Jika ada permintaan pun, produsen belum tentu dapat memastikan pengiriman kendaraan bisa sampai ke pemesan dengan aman," ucap Bebin kepada Kontan.

Ia mengatakan, sulit memprediksi kapan konflik akan berakhir karena selama situasi belum stabil, normalisasi perdagangan dengan negara-negara di Timur Tengah juga sulit diharapkan. Meski demikian, pasar Timur Tengah tetap dianggap memiliki potensi besar. Permintaan dari kawasan tersebut relatif stabil dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi neraca perdagangan, melainkan lebih didorong oleh kebutuhan dari pihak pembeli.

Oleh karena itu, produsen otomotif Indonesia selama ini berupaya menjaga dan memelihara hubungan baik dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Bebin menambahkan, pada awal tahun sebenarnya sempat muncul harapan bahwa penjualan ke Timur Tengah bisa lebih baik dibandingkan 2025. Namun harapan itu memudar setelah konflik kembali memanas dan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz menghadapi gangguan.

"Harapannya konflik tidak berlangsung berkepanjangan dan dapat segera diselesaikan sehingga kehidupan masyarakat dapat kembali normal dan industri otomotif Indonesia dapat kembali memperluas kiprahnya di pasar Timur Tengah," kata dia.

Di sisi lain, Yannes melihat optimisme yang sempat dibayangkan oleh pelaku bisnis otomotif di awal tahun ini dengan adanya kenaikan penjualan wholesales sebesar 7% YoY dengan lebih skeptis.

Yanes melihat kenaikan penjualan itu lebih banyak dipengaruhi oleh carry-over effect dari akumulasi surat pemesanan kendaraan (SPK) pada November–Desember 2025, bukan karena pemulihan permintaan yang benar-benar kuat secara fundamental.

Ia menilai, dari sisi makroekonomi, eskalasi konflik di Timur Tengah justru berpotensi mendorong pasar otomotif Indonesia masuk ke kontraksi yang lebih dalam.

Jika konflik memicu kenaikan harga bahan bakar minyak, ruang belanja kelas menengah akan semakin tertekan sehingga rencana pembelian mobil baru melalui skema kredit cenderung dibatalkan karena beban operasional harian meningkat.

Selain itu, perang berskala besar juga berisiko menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya produksi pabrik perakitan domestik yang masih bergantung pada komponen impor, sehingga harga kendaraan on the road (OTR) berpotensi naik di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.

Kondisi tersebut, lanjutnya, akan membuat proses persetujuan kredit kendaraan yang sudah ketat menjadi semakin sulit ditembus, terutama bagi kelompok kelas menengah bawah yang menjadi pembeli utama segmen low cost green car (LCGC).

Untuk menjaga kinerja industri otomotif nasional dari ancaman stagnasi dan guncangan geopolitik, Yannes menilai pemerintah perlu segera menghadirkan stimulus fiskal yang lebih tepat sasaran. Salah satunya melalui relaksasi pajak bagi segmen mobil rakyat dan kendaraan komersial yang memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi riil.

Di saat yang sama, lembaga pembiayaan didorong untuk menghadirkan skema kredit yang lebih fleksibel dengan uang muka yang tetap terjangkau agar pasar tidak semakin tersumbat oleh ketatnya persyaratan perbankan.

Langkah tersebut juga perlu dibarengi upaya agresif dari pabrikan untuk memperdalam tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) guna menahan tekanan kenaikan harga akibat pelemahan rupiah.

"Selain itu, ekspor kendaraan perlu diperluas ke berbagai pasar potensial seperti negara-negara ASEAN yang menyerap sekitar 50,9% ekspor otomotif Indonesia, Meksiko sekitar 10,2%, kawasan Amerika sekitar 15,8%, serta pasar non-tradisional lainnya," urai Yannes.

Menurut dia, strategi ini penting agar utilisasi pabrik tetap terjaga dan industri otomotif nasional tidak terlalu bergantung pada daya beli domestik yang sedang melemah.

Sementara itu, TMMI melihat industri otomotif tahun ini masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik kondisi ekonomi domestik maupun dinamika global, termasuk situasi geopolitik dan kondisi logistik internasional.

"Namun demikian, kami tetap melihat adanya potensi pertumbuhan secara bertahap. Indonesia masih memiliki pasar domestik yang besar serta peran yang semakin penting sebagai basis produksi dan ekspor otomotif," tandas Bob. 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Analis mengingatkan perlu berhati-hati agar tidak menganggap seluruh nilai ekonomi dari bursa karbon akan otomatis masuk ke kantong emiten EBT.

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M

Pasar sedang berspekulasi tinggi terhadap JGLE seiring dengan adanya rencana rights issue sambil mengejar tren harga saham yang terbaca uptrend.

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
INDEKS BERITA

Terpopuler