Kinerja Dua Emiten Halo-Halo Merosot

Rabu, 27 Februari 2019 | 07:15 WIB
Kinerja Dua Emiten Halo-Halo Merosot
[]
Reporter: Aldo Fernando | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang 2018, kinerja dua emiten telekomunikasi alami penurunan. Ini tampak dari laporan keuangan PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

ISAT memang belum resmi memaparkan kinerjanya. Tapi berdasarkan laporan induk usahanya, Ooredoo, pendapatan Indosat pada tahun lalu merosot 22,69% menjadi Rp 23,14 triliun secara tahunan.

Untuk earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) ISAT juga turun 43,9% menjadi Rp 7,68 triliun. Laporan Ooredoo memaparkan, merosotnya EBITDA Indosat pada kuartal IV akibat biaya investasi untuk ekspansi jaringan dan biaya pemasaran.

Hasilnya, populasi jaringan 4G ISAT sudah mencapai 80% dan jumlah Base Transceiver Station (BTS) 4G naik menjadi 17.000. Pelanggan juga terus bertambah menjadi 58 juta. ISAT juga telah meluncurkan layanan 4G Plus di empat provinsi. Saat ini, ISAT berusaha merealisasikan penyesuaian tarif untuk setiap lini produk demi meningkatkan revenue share.

EXCL juga mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,30 triliun pada 2018 dari tahun 2017 yang masih mencetak untung bersih Rp 375,24 miliar. Sementara, pendapatan XL sebesar Rp 22,94 triliun, naik 0,27% secara tahunan.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji, merosotnya kinerja kedua emiten tersebut disebabkan iklim investasi bidang telekomunikasi yang kompetitif. "Karena di Indonesia banyak pemain," ujar dia, Selasa (26/2).

Meski kinerja emiten telekomunikasi memburuk, pergerakan harga saham duo emiten ini justru naik pesat sepanjang tahun ini. Harga saham ISAT, misalnya, naik 86,94% menjadi Rp 3.150 secara year to date (ytd). Sedangkan EXCL naik 26,26% jadi Rp 2.500 per saham ytd.

Namun dalam beberapa hari terakhir, harga saham emiten telekomunikasi ini cenderung turun karena sentimen kinerja. Kemarin, saham ISAT turun 3,47%. "Turunnya rating ISAT dari Fitch juga menjadi sentimen negatif bagi ISAT," jelas Nafan.

Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Turina Farouk menambahkan, meski outlook negatif, Pefindo dan Fitch Rating Indonesia masih tetap memberikan rating AAA bagi ISAT. Moodys juga memberikan outlook stable untuk ISAT.

Secara industri, Mino analis Indo Premier Sekuritas yakin, prospek emiten halo-halo masih positif. Apalagi, pemerintah mengeluarkan peraturan mempermudah konsolidasi.

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Minyak Lesu, Saham Migas Masih Simpan Peluang di 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 13:00 WIB

Harga Minyak Lesu, Saham Migas Masih Simpan Peluang di 2026

Sektor migas dinilai lebih cocok sebagai peluang trading hingga investasi selektif, bukan lagi sektor spekulatif berbasis lonjakan harga komoditas

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia
| Senin, 12 Januari 2026 | 10:15 WIB

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia 2026 diprediksi US$ 56 per barel, begini rekomendasi saham RATU, ELSA, MEDC, ENRG, hingga PGAS.

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer
| Senin, 12 Januari 2026 | 09:23 WIB

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer

Kenaikan UMP 2026 rata-rata 5,7% & anggaran perlindungan sosial Rp 508,2 triliun dukung konsumsi. Rekomendasi overweight konsumer: ICBP top pick.

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:57 WIB

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional

Akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen seasonal jadi amunisi pertumbuhan industri poultry.

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:30 WIB

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang

Kendala pembangunan rumah subsidi saat ini mencakup keterbatasan lahan, lonjakan harga material, hingga margin pengembang yang semakin tertekan.

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:29 WIB

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga

Ada risiko koreksi yang cukup dalam apabila proses transaksi akuisisi BULL pada akhirnya hanya sebatas rumor belaka.

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:20 WIB

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak

Selama ini, perusahaan tersebut dikenal cukup kuat di segmen properti bertingkat atawa high rise dan strata title.

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:11 WIB

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?

RLCO sebelumnya mendapatkan negative covenant dari Bank BRI dan Bank Mandiri karena rasio utang belum memenuhi rasio keuangan yang dipersyaratkan.

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:10 WIB

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026

Pasar dalam negeri masih menjadi tumpuan bagi industri gelas kaca. APGI pun berharap, tingkat konsumsi dan daya beli bisa membaik.

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:04 WIB

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api

Harga tembaga seakan tak lelah berlari sejak 2025 lalu. Mungkinkah relinya bisa mereda setelah menyentuh rekor?

INDEKS BERITA

Terpopuler