Kinerja Paten, Harga Saham Erajaya Swasembada (ERAA) Masih Diskon

Selasa, 24 Mei 2022 | 04:40 WIB
Kinerja Paten, Harga Saham Erajaya Swasembada (ERAA) Masih Diskon
[]
Reporter: Aris Nurjani | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laba bersih PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) tembus Rp 1 triliun, setelah di akhir 2021 labanya melonjak 65,4% year on year (yoy). Kondisi tersebut ditopang kenaikan pendapatan ERAA sebanyak 27,4% yoy menjadi Rp 43,5 triliun.

Analis mengapresiasi kinerja ERAA tahun 2021. Bahkan analis Ciptadana Sekuritas Asia Robert Sebastian menyatakan kenaikan laba bersih ERAA mencapai 102% dari prediksinya dan sudah sesuai harapan.

Gross profit margin ERAA tahun 2021 lalu naik 110 bps yoy menjadi 11,1%. Hal ini  karena cost of good solds (COGS) ERAA tahun 2021 lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Baca Juga: Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Kocek hingga Rp 319 Miliar untuk Buyback Saham

Margin laba operasi ERAA tahun 2021 naik 90 bps yoy menjadi 3,8%. "Laba operasional ERAA memenuhi proyeksi kami. Laba operasi ERAA meningkat 73,2% secara tahunan menjadi Rp 1,5 triliun," tutur Robert, Senin (23/5).

Meski demikian, Kepala Riset Yuanta Sekuritas Chandra Pasaribu masih menilai net income ERAA di bawah ekspektasi. Hal ini karena kenaikan biaya operasional dan melemahnya penjualan pada kuartal III-2021.

"Hal itu terjadi karena ada pembatasan mobilitas. Sementara pendapatan masih inline, sekitar 106% dari ekspektasi," terang Chandra.

Analis Sucorinvest Central Benyamin Mikael berpendapat, kinerja ERAA tahun 2021 cukup baik. "Tahun ini, kami memperkirakan kinerja ERAA tetap tumbuh," ucap dia, Senin, (23/5).

Kinerja ERAA yang positif juga ditopang dari utang usaha yang lebih rendah yakni Rp 616 miliar di 2021, dari Rp 1 triliun di tahun 2020. Kata Benyamin, earning per share (EPS) terdongkrak naik juga karena jumlah saham yang beredar berkurang karena aksi pembelian kembali (buyback) saham dengan anggaran Rp 319 miliar.

Baca Juga: Penjualan Ritel Meningkat, Emiten Mulai Ekspansi Gerai

Efek buyback

Di tengah aksi buyback tersebut, ERAA merancang ekspansi dengan membuka 400-500 toko baru di tahun 2022 ini. Asal tahu saja, akhir tahun 2021 kas dan setara kas ERAA mencapai Rp 520,69 miliar.

Benyamin mengungkapkan cashflow ERAA menjadi lebih berat kalau aksi buyback terealisasi semuany. Dia menambahkan, aksi buyback ERAA karena valuasi sahamnya sudah cukup murah dan underappreciated. 

Manajemen ERAA memandang, kinerja perusahaan yang baik tidak sejalan dengan harga sahamnya.

Baca Juga: Erajaya Swasembada (ERAA) Catat Rekor Laba pada Tahun Lalu, Ini Pendorongnya

Sementara Chandra berpendapat, efek buyback tidak akan signifikan mengerek harga saham ERAA. Sentimen yang bisa mendukung kinerja ERAA adalah aktivitas masyarakat yang kembali normal. 

"Lalu lintas mal kembali meningkat dan penjualan bisa ke tingkat normal, terutama setelah ada pembukaan toko baru," ucap Chandra. Terlebih lagi, ERAA kini juga kerjasama membuka Paris Baguette dan JD Sport.

Tak hanya itu, Benyamin menilai, ERAA memiliki keunggulan market share dengan distribusi terbesar. Market share ERAA 13% dan ke depannya bisa naik menjadi sekitar 25% dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

"Sehingga bargaining power ERAA akan lebih tinggi sehingga profit margin pun bisa ikut naik. ERAA juga memiliki keunggulan branding kuat sehingga bisa membangun kerjasama dengan siapa saja," tukas Benyamin

Tahun 2022 ini, Robert memperkirakan pendapatan dan laba bersih ERAA masing-masing bisa mencapai Rp 48,2 triliun dan Rp 1,15 triliun. Sedangkan pendapatan dan laba bersih ERAA tahun 2023 masing-masing Rp 52,98 triliun dan Rp 1,32 triliun.

Robert mempertahankan rekomendasi beli saham ERAA dengan target harga Rp 990. Faktor yang bisa menghambat kinerja ERAA adalah jika ada varian Covid-19 baru, plus pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) lebih rendah dari yang diharapkan.

Baca Juga: Permintaan Masih Tinggi, Erajaya Swasembada (ERAA) Mencetak Rekor Laba Bersih

Benyamin dan Chandra juga menyarankan buy dengan target saham ERAA masing-masing di Rp 850 dan Rp 705 per saham. Senin (23/5), saham ERAA stagnan di Rp 505 per saham. 

Bagikan

Berita Terbaru

Laba dan Pendapatan Teladan Prima Agro (TLDN) Melejit Dua Digit Pada 2025
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:09 WIB

Laba dan Pendapatan Teladan Prima Agro (TLDN) Melejit Dua Digit Pada 2025

PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) mengantongi laba bersih Rp 1,10 triliun pada 2025, naik 34,03% secara tahunan.​

Itsec Asia (CYBR) Berencana Menggelar Stock Split dengan Rasio 1:2
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:06 WIB

Itsec Asia (CYBR) Berencana Menggelar Stock Split dengan Rasio 1:2

PT Itsec Asia Tbk (CYBR) berencana melakukan aksi pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:2.

Hibah Lahan di Meikarta, Emiten Grup Lippo Bisa Terpapar Program 3 Juta Rumah
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:01 WIB

Hibah Lahan di Meikarta, Emiten Grup Lippo Bisa Terpapar Program 3 Juta Rumah

Grup Lippo resmi memberikan lahan hibah seluas 30,7 hektare di Cikarang untuk program 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).​

Tambang Baru & Harga Emas Global Dorong Laba Bumi Resources Minerals (BRMS)
| Rabu, 11 Maret 2026 | 05:00 WIB

Tambang Baru & Harga Emas Global Dorong Laba Bumi Resources Minerals (BRMS)

Laba bersih BRMS diproyeksi melonjak 94,8% pada 2026, didorong produksi emas. Analis berikan rekomendasi dan target harga saham terbaru.

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:30 WIB

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara

Rupiah ditutup melemah pada Senin (9/3) di Rp16.949 per dolar AS. Sentimen global dan harga minyak picu tekanan. Simak proyeksi terbarunya

Ekspansi Bisa Memacu Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Kembali Perkasa Pada 2026
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:22 WIB

Ekspansi Bisa Memacu Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Kembali Perkasa Pada 2026

Tahun 2025 jadi momentum penting bagi PT TBS Energi Utama Tbk untuk memperkuat fondasi bisnis hijau. Upaya ini bisa mendongkrak kinerja di 2026.

Investor Wajib Tahu! Ini Pilihan Aset Aman Saat Gejolak Ekonomi
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:15 WIB

Investor Wajib Tahu! Ini Pilihan Aset Aman Saat Gejolak Ekonomi

Harga emas melonjak 16,58% sejak awal 2026. Konflik Timur Tengah picu kenaikan safe haven, lindungi aset Anda dari ketidakpastian global

Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat pada Rabu (11/3)
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:15 WIB

Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat pada Rabu (11/3)

Nilai tukar rupiah naik 0,51% ke Rp 16.863 per dolar AS hari ini. Komunikasi Trump-Putin jadi kunci. Simak prediksi besok!

Musim Pembagian Dividen Memacu Laju Indeks BUMN
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:11 WIB

Musim Pembagian Dividen Memacu Laju Indeks BUMN

Mayoritas indeks utama di Bursa Efek Indonesia tergerus di atas 2% sejak awal tahun 2026 (YtD). Namun, indeks BUMN20 hanya terkoreksi tipis 0,91%.

Kinerja ADRO, ADMR, AADI Tahun Lalu Merana: Bagaimana Proyeksi 2026?
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Kinerja ADRO, ADMR, AADI Tahun Lalu Merana: Bagaimana Proyeksi 2026?

Eluang perbaikan kinerja mereka tetap terbuka pada 2026, bergantung pada perkembangan harga komoditas batubara hingga agenda hilirisasi mineral.

INDEKS BERITA

Terpopuler