Kisah Mereka yang Tetap Touring Bersama di Usia Senja

Minggu, 20 September 2026 | 07:10 WIB
Kisah Mereka yang Tetap Touring Bersama di Usia Senja
[ILUSTRASI. Komunitas Forum Bikers Lansia Indonesia (Dok/FBLI)]
Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Asnil Amri

Bagi Nowo Alvarel, hobi mengendarai sepeda motor sudah lama ia geluti, bahkan sejak masih kuliah. Namun, ketika memasuki usia 50-an, ia mulai merasa kurang cocok mengikuti sejumlah komunitas motor yang mayoritas beranggotakan anak muda.

Bukan karena kehilangan minat untuk touring. Justru setelah pensiun, Nowo memiliki lebih banyak waktu untuk menjelajahi berbagai daerah dengan sepeda motornya. Hanya saja, perbedaan usia dan kecepatan membuatnya beberapa kali tertinggal saat ikut touring bersama anggota yang lebih muda.

"Sebelumnya saya banyak mengikuti komunitas motor yang rata-rata anggotanya anak muda. Ternyata kurang cocok karena saya sering ketinggalan saat touring," kisah Nowo, Ketua Komunitas Riders Lansia Malang Raya (RLMR).

Pengalaman itu kemudian mendorongnya mencari teman yang kurang lebih seusia melalui Facebook. Tidak disangka ternyata responsnya cukup besar. Pria yang berusia 52 tahun ini memutuskan membuat grup WhatsApp agar komunikasi menjadi lebih intens.

Alhasil, RLMR resmi terbentuk pada Juli 2026. Dalam waktu kurang dari sebulan, jumlah anggotanya mencapai lebih dari 350 orang dengan anggota tertua berusia 87 tahun.

Bagi Nowo, komunitas tidak hanya menjadi wadah bagi mereka yang gemar touring. Sebagian anggota justru bergabung untuk mencari teman berbincang atau sekadar ngopi. Karena itu, kegiatan komunitas dibuat fleksibel dan tidak mewajibkan anggota ikut touring.

Baca Juga: Taktik Memprioritaskan atau Menunda Tujuan Keuangan

"Memang banyak juga yang hobi touring, tetapi kami tidak membatasi. Jadi kalau ada acara touring tipis-tipis, yang mau ikut silakan, yang tidak ikut juga tidak masalah," katanya.

Kebutuhan untuk berkumpul dengan sesama penghobi motor yang memiliki rentang usia sepantaran ini juga menjadi salah satu alasan Yudi membentuk Forum Bikers Lansia Indonesia (FBLI).

Komunitas yang dideklarasikan pada September 2026 itu menghimpun anggota dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan sekitarnya. Saat ini, FBLI telah memiliki anggota sekitar 165 orang, paling sepuh berusia 79 tahun.

Selain menjadi ruang berkumpul, komunitas juga menjadi jaringan pertemanan ketika anggota melakukan perjalanan. Jika mengalami kendala di daerah lain, mereka dapat menghubungi anggota yang berada di sekitar lokasi.

"Kalau terjadi sesuatu, kami bisa saling menjaga, membantu, dan memberikan pertolongan di jalan," jelas Yudi.

Sementara itu, Bernad Dinata membentuk Komunitas Turing Motor Lansia Indonesia (KTMLI) setelah bertemu dengan banyak penghobi motor seusianya saat touring.

Kecintaan Bernad terhadap sepeda motor bermula dari kegemarannya terhadap merek sepeda motor Suzuki. Pria yang berusia 60 tahun ini sebelumnya membentuk komunitas Suzuki Bandit 150 Indonesia untuk menghimpun pemilik dan penggemar motor tersebut.

Saat menggunakan Suzuki Bandit untuk touring, Bernad bertemu dengan banyak pengendara yang usianya kurang lebih sama. Pertemuan itu kemudian memunculkan gagasan untuk membuat wadah khusus bagi penghobi motor lansia. Alhasil, KTMLI pun berdiri pada awal 2026.

Seiring bertambahnya anggota, KTMLI mengembangkan chapter berdasarkan provinsi. Saat ini terdapat chapter di sejumlah wilayah, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Jumlah anggota KTMLI di grup WhatsApp nasional kini sudah hampir mencapai 1.000 orang, dengan anggota terbanyak berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Anggotanya pun tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan yang memiliki hobi mengendarai sepeda motor.

Beragam merek

Menariknya, usia tidak menjadi batasan untuk jenis kendaraan yang digunakan. Jika berkumpul, para penghobi touring lansia datang dengan berbagai jenis, merek dan juga kapasitas mesin sepeda motornya.

Yudi mengatakan, kendaraan anggota FBLI sangat beragam. Bahkan, ada anggota yang menggunakan motor keluaran sebelum 1940. Kapasitas mesin juga bervariasi, mulai dari 90 cc, 650 cc, hingga 1.000 cc.

Di KTMLI, anggota yang mau bergabung juga bebas menggunakan sepeda motor matik, sepeda motor bebek, maupun motor kopling dengan kapasitas mesin mulai dari 150 cc hingga 500 cc atau lebih.\

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Sepekan Ini Tertekan Bunga Acuan AS

Menurut Bernad, perbedaan kendaraan tidak menjadi persoalan selama anggota dapat menjaga kebersamaan. "Yang penting kami bisa bersaudara dan bergaul bersama tanpa memandang suku, agama, maupun kondisi ekonomi," ujarnya.

RLMR juga memiliki anggota dengan jenis tunggangan yang terbilang beragam, mulai dari motor lama alias jadul, hingga sepeda motor besar. Untuk menjaga kenyamanan berkendara, touring biasanya dilakukan dalam kelompok kecil, dengan jumlah peserta sekitar tiga hingga 20 orang.

Ke depan, RLMR berencana menggelar kegiatan bersama setiap tiga bulan dengan jarak perjalanan touring yang tidak terlalu jauh. Wilayah Malang Selatan, Malang Barat, dan Malang Timur akan bergantian menjadi tuan rumah.

Misalnya, ketika Malang Selatan menjadi tuan rumah, anggota dari wilayah lain dapat berkunjung dan menikmati destinasi pantai di kawasan tersebut. Jumlah peserta bisa mencapai 50100 orang, tetapi keikutsertaannya tetap bersifat sukarela.

Sementara itu, kegiatan KTMLI banyak berlangsung di tingkat chapter, seperti kopdar di Bogor, Karawang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan sejumlah daerah lainnya.

Ke depan KTMLI berencana untuk mengadakan kopdar dalam skala nasional dengan mengumpulkan seluruh chapter. FBLI juga berencana rutin menggelar kopdar dan touring minimal sebulan sekali. Kegiatan tersebut tidak bersifat wajib, anggota bebas mengikuti kegiatan sesuai waktu dan kemampuan masing-masing.

Sehat dan bahagia

Prinsip dari anggota klub, touring bukan sekadar perjalanan menggunakan sepeda motor saja. Bernad bilang, berkendara dengan sepeda motor membuat berbagai indra dan anggota tubuh bekerja, mulai dari mata, telinga, tangan, jari, sampai kaki.

"Orang yang menikmati motor itu pasti kesehatannya terjaga," kata Bernad. Hal senada disampaikan Yudi, di mana aktivitas touring dapat menjadi cara bagi lansia melihat kemampuan tubuh mereka dalam menjalani perjalanan. Menurutnya, aktivitas tersebut dapat membantu anggota mengetahui kondisi sensorik, motorik, daya tahan tubuh, hingga kemampuan fokus selama berkendara.

Nowo juga merasakan touring memberikan dampak positif terhadap kebugaran tubuh. Menurutnya, aktivitas tersebut seperti pengganti olahraga. "Kalau tidak touring, badan malah capek, mengantuk, dan kurang semangat. Tetapi kalau sudah berada di atas motor, meskipun menempuh perjalanan beberapa ratus kilometer, badan tetap terasa segar," ujar Nowo.

Baca Juga: Moody's Ratings Pangkas Outlook BYAN

Menurut Nowo, touring juga memberikan pengaruh terhadap kondisi mental mereka. Ia dan anggota komunitas merasakan tubuh menjadi lebih segar setelah berkendara jauh, tidur lebih nyenyak, serta tidak mudah merasa lelah.

Yudi menambahkan, kebahagiaan juga menjadi salah satu tujuan utama para anggota ketika melakukan touring. Perjalanan bukan sekadar menunjukkan kemampuan berkendara, tetapi juga menjadi pengalaman yang dapat dikenang dan diceritakan kepada anak maupun cucu.

"Kami menjelajahi Nusantara tercinta dengan berkendara secara santun, sehat, serta menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain," kata Yudi.

Badan, motor, dompet sehat

Bagi penggemar touring sepeda motor yang memasuki usia lanjut, persiapan perjalanan perlu dilakukan lebih matang. Founder Komunitas Touring Motor Lansia Indonesia (KTMLI) Bernad Dinata mengatakan, ada tiga hal utama yang perlu dipersiapkan sebelum touring, yakni kesehatan, waktu, dan dana.

"Kalau salah satu tidak ada, tidak jadi touring," ujar Bernad. Menurutnya, dana menjadi penting karena kebutuhan pengendara lansia berbeda dengan anak muda. Jika anak muda masih memungkinkan tidur di tempat seadanya saat perjalanan. Sementara, pengendara lansia membutuhkan tempat beristirahat dan penginapan yang layak agar kondisi tubuh tetap terjaga.

Baca Juga: Bos YB Sekuritas: Pentingnya Membangun Integritas dan Kepercayaan

"Kalau kita sudah lansia, tidur sembarangan besoknya masuk angin. Jadi memang lansia ini agak ribet," ujarnya. Maka itu, cek kesehatan secara rutin juga perlu dilakukan mengingat biasanya lansia memiliki riwayat penyakit seperti jantung.

Sementara itu, Ketua Komunitas Riders Lansia Malang Raya (RLMR) Nowo Alvarel mengatakan, kendaraan juga perlu dipersiapkan sesuai jarak perjalanan. Untuk perjalanan lebih dari 100 kilometer (km), kendaraan sebaiknya diperiksa ke bengkel sekitar satu minggu sebelum keberangkatan. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi mesin dan juga periksa CVT bagi pengguna sepeda motor matik.

"Intinya, bekal utama adalah motor sehat, badan sehat, dan dompet sehat, baru berangkat," tambah Nowo. Ketua Komunitas Forum Bikers Lansia Indonesia (FBLI) Yudi menambahkan, kesehatan tubuh dan sepeda motor perlu menjadi pusat perhatian secara bersamaan.

Keberadaan komunitas juga dapat membantu anggota ketika menghadapi kendala selama perjalanan. Dengan anggota yang tersebar di berbagai daerah, para biker dapat saling berbagi informasi dan memberikan bantuan apabila terjadi masalah. "Selama perjalanan juga pelan-pelan saja karena tujuannya bahagia," kata Yudi.

 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Moneymaxxing, Cara Cerdik Mengoptimalkan Tiap Rupiah yang Ada
| Minggu, 08 November 2026 | 16:21 WIB

Moneymaxxing, Cara Cerdik Mengoptimalkan Tiap Rupiah yang Ada

Moneymaxxing belakangan jadi tren dalam pengelolaan keuangan. Simak penjelasannya!                  

Waralaba Perlu Inovasi biar Tak Tenggelam Saat Pasar Jenuh
| Minggu, 08 November 2026 | 08:58 WIB

Waralaba Perlu Inovasi biar Tak Tenggelam Saat Pasar Jenuh

Industri waralaba di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan, meski lajunya melambat di tengah kondisi ekonomi yang menantang. 

Inspirasi Bos OSL Indonesia: Belajar Mandiri dari Sosok Ayah
| Minggu, 08 November 2026 | 07:55 WIB

Inspirasi Bos OSL Indonesia: Belajar Mandiri dari Sosok Ayah

Kemauan untuk mencari tahu dan ketekunan dalam mempelajari sesuatu juga menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai hal.

Memetik Cuan dari Jasa Foto Instan
| Minggu, 08 November 2026 | 06:35 WIB

Memetik Cuan dari Jasa Foto Instan

Jasa foto instan menjadi peluang usaha yang menarik di tengah maraknya berbagai event. Pelaku usaha menawarkan pengalama

Sambung Konektivitas dan Kontribusi Nyata di Wilayah 3T
| Minggu, 08 November 2026 | 06:15 WIB

Sambung Konektivitas dan Kontribusi Nyata di Wilayah 3T

TBIG menjaga keterhubungan jaringan untuk kelangsungan bisnis dengan menerapkan prinsip keberlanjutan. Apa saja upayanya

Sagu Sebagai Substitusi Tapioka
| Minggu, 08 November 2026 | 06:10 WIB

Sagu Sebagai Substitusi Tapioka

Impor tapioka sebesar 267.062 ton pada tahun 2024,  jumlahnya turun ketimbang 2019 sebesar 300.000 ton per tahun. 

Dari Premi Kecil Menuju Pasar yang Lebih Besar
| Minggu, 08 November 2026 | 06:10 WIB

Dari Premi Kecil Menuju Pasar yang Lebih Besar

Dengan premi lebih murah dan kanal digital, asuransi mikro berpeluang menjangkau masyarakat yang belum memiliki perlindungan.

 
Menara Gading Ekonomi
| Minggu, 08 November 2026 | 06:10 WIB

Menara Gading Ekonomi

Di atas kertas, Indonesia tampil sebagai salah satu ekonomi pesat di antara negara-negara besar dunia.

Dorong Penetrasi lewat Ojek Online hingga Kurir
| Minggu, 08 November 2026 | 06:10 WIB

Dorong Penetrasi lewat Ojek Online hingga Kurir

Pemerintah mendorong ojol, kurir, perusahaan, dan instansi menggunakan motor listrik. Kebijakan yang tepat?

Masa Berat dan Paradoks Angka 33 Juta Investor
| Minggu, 08 November 2026 | 05:30 WIB

Masa Berat dan Paradoks Angka 33 Juta Investor

Apapun profil risiko, hindari saham tidak likuid, konsentrasi kepemilikan tinggi dan rekomendasi media sosial yang menjanjikan keuntungan instan.

INDEKS BERITA

Terpopuler