Konsumsi Domestik Pacu Ekonomi di Asia Tenggara

Sabtu, 24 Februari 2024 | 04:05 WIB
Konsumsi Domestik Pacu Ekonomi di Asia Tenggara
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: A Malaysia Ringgit note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo]
Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat S&P Global Market Intelligence memprediksi prospek ekonomi jangka pendek di kawasan Asia Tenggara tahun ini masih akan tetap positif. Permintaan domestik akan menjadi penopangnya. Tapi, sejumlah negara di Asia Tenggara menunjukkan data ekonomi berbeda. 

Malaysia, misalnya. Kurs ringgit melemah ke level terendah sejak krisis keuangan Asia pada Januari 1998. Ringgit Malaysia melemah ke RM 4,8 per dollar AS. 

Ekonomi China, mitra dagang terbesar Malaysia, yang melambat ikut membebani perekonomian Malaysia yang sangat bergantung pada ekspor. Bloomberg memberitakan, para ekonom juga telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik bruto tahun ini menjadi 4,3% dari proyeksi sebelumnya di 4,5%.

Baca Juga: Nvidia Hits $2 Trillion Valuation as AI Frenzy Grips Wall Street

Meski begitu, melemahnya kurs ringgit berdampak positif bagi pariwisata Malaysia dan perusahaan yang jadi pengimpor bahan baku. Gubernur Bank Negara Malaysia Abdul Rasheed Ghaffour juga menganggap, pelemahan ringgit tidak mencerminkan prospek perekonomian Malaysia di masa depan. Ini hanya faktor eksternal yang merugikan ringgit.

Awasi fluktuasi

Meski begitu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim tidak mau diam saja. Jumat (23/2), ia menegaskan pelemahan ini sangat mengkhawatirkan dan meminta pihak berwenang mengawasi fluktuasi Ringgit. 

"Kami sudah menugaskan bank sentral memantau. Ini bisa berdampak ke semua negara," kata Anwar, dikutip Bloomberg. 

Prospek ekonomi Thailand juga kurang cerah. Pemerintah Thailand juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini menjadi 2,8% dari sebelumnya sebesar 3,2%. 

Target pertumbuhan ekonomi tersebut dinilai wajar. Pasalnya, pada 2023, Thailand tak bisa memenuhi target pertumbuhan PDB yang semula digadang sebesar 2,7%, dan cuma terealisasi di 1,8%. 

"Kami akan menghidupkan kembali ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini dengan suntikan dana 500 miliar baht dan subsidi sebesar 10.000 baht kepada 50 juta warga Thailand untuk belanja dalam waktu enam bulan," kata Perdana Menteri Srettha Thavisin dikutip Bloomberg. Thailand juga memangkas target kunjungan wisatawan asing di 2024 menjadi 33,5 juta dari target di 34,5 juta. 

Baca Juga: Malaysia's Ringgit Fall is Concerning But Economic Fundamentals Strong, PM Says

Pertumbuhan PDB Brunei Darusalam yang selama ini dianggap menjadi negara kaya juga tak besar. Perekonomian Brunei baru kembali tumbuh 0,7% secara tahunan di kuartal III-2023. Di kuartal sebelumnya, ekonomi Brunei mengalami kontraksi 3,1%.          

Bagikan

Berita Terbaru

MSCI Sentil Free Float, Kredibilitas Bursa Efek Indonesia Jadi Taruhan
| Kamis, 29 Januari 2026 | 19:36 WIB

MSCI Sentil Free Float, Kredibilitas Bursa Efek Indonesia Jadi Taruhan

MSCI frontal menyatakan bahwa pasar modal Indonesia tidak memberikan transparansi perihal data free float dan struktur kepemilikan saham.

Indonesia Terancam Masuk Frontier Market MSCI, Ibarat Turun ke Seri C di Liga Italia
| Kamis, 29 Januari 2026 | 19:24 WIB

Indonesia Terancam Masuk Frontier Market MSCI, Ibarat Turun ke Seri C di Liga Italia

MSCI meminta otoritas bursa saham Indonesia untuk menyediakan informasi struktur kepemilikan yang lebih detail, transparan, dan andal.

Sudah Masuk Pasar Modal, Danantara Atur Ulang Portofolio Investasi Pasca Putusan MSCI
| Kamis, 29 Januari 2026 | 14:01 WIB

Sudah Masuk Pasar Modal, Danantara Atur Ulang Portofolio Investasi Pasca Putusan MSCI

CIO Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir merespons keputusan MSCI sudah sangat tepat menekankan pada transparansi, keterbukaan, dan likuiditas.

Perubahan Batas Minimum Free Float, Simak Kata Emiten dan Pelaku Pasar
| Kamis, 29 Januari 2026 | 11:00 WIB

Perubahan Batas Minimum Free Float, Simak Kata Emiten dan Pelaku Pasar

Investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham yang tertera dalam Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI maupun BEI.

Sebanyak 43 Saham LQ45 Berdarah-darah, DSSA dan EXCL Pimpin Kejatuhan
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:50 WIB

Sebanyak 43 Saham LQ45 Berdarah-darah, DSSA dan EXCL Pimpin Kejatuhan

Hanya ada dua emiten LQ45 yang mampu menghijau kala efek keputusan MSCI menghantam IHSG: INDF dan MDKA.

Efek Pembekuan MSCI, Investor Disarankan Fokus ke Saham Penyebar Dividen
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:28 WIB

Efek Pembekuan MSCI, Investor Disarankan Fokus ke Saham Penyebar Dividen

Keputusan MSCI bikin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk dan asing net sell Rp 6,17 triliun sehari.

Menakar Prospek Saham HRTA di Tengah Ambruknya IHSG & Rekor All Time High Harga Emas
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:23 WIB

Menakar Prospek Saham HRTA di Tengah Ambruknya IHSG & Rekor All Time High Harga Emas

Pada 2026 volume penjualan emas HRTA diperkirakan naik menjadi 20,6 ton atau tumbuh 5% secara tahunan.

Tugas 22 Pejabat Baru Bea Cukai di Depan Mata
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:16 WIB

Tugas 22 Pejabat Baru Bea Cukai di Depan Mata

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 22 pejabat baru Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Rabu (28/1)

Chandra Asri Pacific (TPIA) Operasikan Anak Usaha Untuk Layanan Back Office
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:14 WIB

Chandra Asri Pacific (TPIA) Operasikan Anak Usaha Untuk Layanan Back Office

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi mengoperasikan PT Chandra Asri Sentral Solusi (CASS) sebagai shared service center (SSC).

Pengendali Techno9 Indonesia (NINE) Tuntaskan Penawaran Tender Wajib
| Kamis, 29 Januari 2026 | 08:11 WIB

Pengendali Techno9 Indonesia (NINE) Tuntaskan Penawaran Tender Wajib

PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) resmi mengumumkan hasil akhir dari proses penawaran tender wajib yang dilakukan oleh PT Poh Investments Indonesia.

INDEKS BERITA

Terpopuler