Krisis Kepercayaan

Selasa, 09 Juni 2026 | 07:37 WIB
Krisis Kepercayaan
[ILUSTRASI. Adi Wikanto (KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Perekonomian nasional baik-baik saja. Itulah yang selalu pemerintah sampaikan di tengah gejolak ekonomi saat ini.

Memang, data makro menyatakan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 masih tinggi sebesar 5,61%. Inflasi terkendali sebesar 3,08% secara tahunan pada Mei 2026. Pengelolaan anggaran negara juga terkendali, dengan defisit hanya 0,7% selama lima bulan pertama tahun ini.

Namun, pasar keuangan menunjukkan cerita yang berbeda. Rupiah terus melemah hingga menciptakan rekor terendah lagi di sepanjang masa. Senin (8/6/2026), rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,84% dibanding penutupan Jumat (5/6/2026).

Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tertekan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup di level 5.342,14 turun 4,52% secara harian dan anjlok 38,93% sejak awal tahun ini. Kini IHSG berada di level terendah sejak 23 Oktober 2020 di 5.112.

Kondisi ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya menilai kesehatan ekonomi dari angka-angka makro, tetapi juga dari kualitas kebijakan dan tingkat kepercayaan terhadap arah pemerintahan. Masalah utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah krisis kepercayaan.

Investor global membutuhkan kepastian bahwa kebijakan pemerintah dapat diprediksi, konsisten, dan tidak berubah secara mendadak. Ketika muncul berbagai kebijakan yang dianggap meningkatkan intervensi negara atau menambah ketidakpastian regulasi, pasar akan meminta premi risiko yang lebih tinggi. Akibatnya, modal asing memilih mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih konkret daripada sekadar menyampaikan narasi bahwa ekonomi dalam kondisi baik. Pertama, disiplin fiskal harus menjadi prioritas utama. Kedua, independensi Bank Indonesia harus dijaga dan dikomunikasikan secara jelas kepada pasar.

Ketiga, transparansi terhadap pengelolaan dana negara untuk memperkecil ruang spekulasi negatif, termasuk peran Danantara dan berbagai proyek strategis. Keempat, pemerintah perlu meningkatkan kepastian regulasi dan memperkuat dialog dengan pelaku usaha serta investor internasional. Pasar dapat menerima kebijakan yang berbeda, tetapi sulit menerima ketidakjelasan.

Ya, fundamental ekonomi yang kuat memang penting, tetapi kepercayaan adalah faktor penentu keputusan investasi.

Bagikan

Berita Terbaru

SE Sisa Kuota Internet Langkah Tepat tapi Perlu Dinaikkan Jadi Permen Agar Mengikat
| Senin, 31 Agustus 2026 | 11:05 WIB

SE Sisa Kuota Internet Langkah Tepat tapi Perlu Dinaikkan Jadi Permen Agar Mengikat

Kemkomdigi memberi batas waktu hingga 28 September 2026 bagi operator menyampaikan laporan pemenuhan kewajiban.

Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak
| Senin, 31 Agustus 2026 | 10:10 WIB

Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikator penting untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi sudah memiliki basis permintaan yang kuat.

Risiko Politik Tetap Membayangi IHSG, Tercermin dari Valuasi hingga Cost of Capital
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:31 WIB

Risiko Politik Tetap Membayangi IHSG, Tercermin dari Valuasi hingga Cost of Capital

Pemberantasan korupsi, good corporate governance (GCG), dan kepastian hukum penting bagi kesehatan pasar modal.

Daftar Antrean IPO dan Rights Issue di BEI Masih Panjang
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:20 WIB

Daftar Antrean IPO dan Rights Issue di BEI Masih Panjang

Minat korporasi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) masih tinggi.

Pendapatan Naik Dua Digit, BNBR Malah Berbalik Rugi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:14 WIB

Pendapatan Naik Dua Digit, BNBR Malah Berbalik Rugi

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan kinerja top line dan bottom line yang tak seragam di semester I-2026.

Rencana Merger MTEL-TBIG Bakal Menguntungkan TLKM
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:04 WIB

Rencana Merger MTEL-TBIG Bakal Menguntungkan TLKM

Setelah lebih dari satu dekade berlalu, spekulasi merger MTEL dan TBIG kembali berembus di pengujung Agustus 2026.

Harga Saham LUCY Melaju Kencang, Aksi Jual HP Capital Resources Perlu Jadi Perhatian
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:58 WIB

Harga Saham LUCY Melaju Kencang, Aksi Jual HP Capital Resources Perlu Jadi Perhatian

Kenaikan harga saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) belum didukung oleh perbaikan fundamental yang signifikan.

Harga Pangan hingga Emas Diramal Mengerek Inflasi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:51 WIB

Harga Pangan hingga Emas Diramal Mengerek Inflasi

Laju inflasi Agustus 2026 diramal meningkat dengan pemicu utamanya kenaikan harga bahan pangan       

Suku Bunga Tinggi Memicu Saham Properti Layu
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:49 WIB

Suku Bunga Tinggi Memicu Saham Properti Layu

Kinerja saham emiten milik konglomerat Sugianto Kusuma alias Aguan, jadi salah satu pemberat kinerja indeks properti.

Waspada Imbas Penyusutan Restitusi Pajak
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:45 WIB

Waspada Imbas Penyusutan Restitusi Pajak

Ditjen Pajak Kementerian Keuangan mencatat, realisasi restitusi pajak hingga Juli 2026 mencapai Rp 185,38 triliun

INDEKS BERITA

Terpopuler