Laba Bank Tokcer, Simak Rekomendasi Saham BBRI, BBCA dan BMRI

Minggu, 14 Agustus 2022 | 12:00 WIB
Laba Bank Tokcer, Simak Rekomendasi Saham BBRI, BBCA dan BMRI
[]
Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - Pemulihan ekonomi membawa berkah bagi sektor perbankan. Seiring menggeliatnya aktivitas sektor riil, penyaluran kredit turut melesat.

Ditopang penyaluran kredit yang terus membesar itu kinerja perbankan pun tampil kinclong. Hal itu tercermin dari kinerja keuangan semester I-2022 yang menggembirakan.

Namun, bukan berarti sektor perbankan sepi dari tantangan. Bukan lagi pandemi, tantangan datang dari gejolak ekonomi global yang mempengaruhi makro ekonomi dalam negeri.

Sejauh ini, sih, kondisi makro ekonomi nasional masih kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I 2022 tumbuh 5,23% secara tahunan. Kepala BPS, Margo Yuwono mengatakan, pertumbuhan ekonomi itu relatif tahan banting dari gangguan global, seperti konflik geopolitik Rusia-Ukraina.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif itu, kinerja emiten perbankan pun tumbuh ke atas. Sebut saja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), kompak mencatatkan pertumbuhan laba hingga dua digit.

Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengatakan, kinerja sektor perbankan memuaskan karena didukung pemulihan ekonomi yang terus berlanjut. Dampaknya merembet pada pemulihan kinerja korporasi dan penjualan sektor perdagangan dan industri. Akhirnya, kemampuan bayar korporasi naik dan bank jadi makin percaya diri dalam memberikan kredit.

Hal senada juga disampaikan Analis Kanaka Hita Solvera, Andika Cipta Labora. Menurut dia, membaiknya kinerja bank ditopang penyaluran kredit yang terus bertumbuh seiring pemulihan perekonomian Indonesia. "Pasca pandemi permintaan kredit dari sektor riil meningkat untuk ekspansi bisnis," kata Andika, Rabu (10/8).

Baca Juga: Market Cap BEI Tembus Rp 9.000 Triliun, BBCA dan BBRI Jadi Juara

Hal ini sejalan dengan laporan Bank Indonesia, yang menyebut kredit perbankan di Juni 2022 tercatat sebesar Rp 6.156,2 triliun atau tumbuh 10,3% secara tahunan. Realisasi ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang naik 8,7% secara tahunan.

Pertumbuhan tinggi

Suria Darma, Kepala Riset Samuel Sekuritas bahkan memprediksi, tahun ini, bank-bank besar berpotensi mencatat laba bersih tertinggi dalam sejarah. Setidaknya ada tiga faktor yang membuat kinerja perbankan bisa meroket. Pertama, perbaikan pertumbuhan kredit yang sudah di atas 10% per Juni 2022.

Kedua, likuiditas yang masih tinggi dan mendorong peningkatan rasio dana murah atau current account and saving account (CASA), sehingga cost of fund (CoF) tetap rendah. Ketiga, penurunan biaya provisi.

Sementara kinerja perbankan di semester II-2022 diprediksi bakal mencatatkan pertumbuhan lagi, karena adanya perbaikan ekonomi dan peningkatan kredit.

Cheril juga melihat, faktor yang mendukung kinerja perbankan ke depan adalah mayoritas loan to deposit ratio (LDR) perbankan besar masih aman, yakni berada di bawah 100. Sedangkan, non performing loan (NPL) atawa kredit macet di semester I-2022 juga relatif rendah di kisaran 3%.

Sementara tren kenaikan suku bunga acuan BI ke depan juga akan memberikan sentimen positif bagi perbankan. "Suku bunga BI naik bisa menambah pendapatan perbankan di tengah naiknya pertumbuhan kredit," kata Cheril.

Senada, Andika juga mengatakan, kenaikan suku bunga cenderung memberi sentimen positif bagi perbankan. Diproyeksikan margin perbankan bisa naik seiirng naiknya suku bunga kredit.

Dari sisi penyaluran kredit, Cheril sependapat dengan target Bank Indonesia yang mematok pertumbuhan kredit 9%-11% di tahun ini. "Target tersebut cukup optimistis bisa dicapai," kata Cheril.

Kredit bisa tumbuh karena didukung pemulihan ekonomi yang terus berlanjut. Penjualan korporasi yang meningkat karena terkendalinya pandemi di dalam negeri, serta prospek komoditas unggulan akan menopang pertumbuhan ekonomi dan kinerja perbankan.

Sementara proyeksi pertumbuhan kredit dari Andika lebih tinggi, yaitu 15%-20% sampai akhir tahun ini. Faktor pendukung datang dari perbaikan ekonomi yang membuat bisnis riil melakukan ekspansi dan membutuhkan kredit dari perbankan.

Namun, bagaimana pun, Andika mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai perkembangan dari efek ketidakpastian ekonomi global, seperti inflasi di AS dan Eropa, serta ancaman resesi yang menjadi sentimen negatif bagi sektor perbankan.

Baca Juga: Rekomendasi Saham-saham Pilihan Analis di Tengah Solidnya Pertumbuhan Ekonomi RI

Cheril menambahkan, kekhawatiran yang berlanjut dari efek tren kenaikan suku bunga yang tinggi di AS dapat memicu dana asing keluar dan menjadi sentimen negatif.

Namun, Andika juga melihat langkah digitalisasi yang kini perbankan lakukan juga bisa berdampak positif. "Cost emiten perbankan bisa berkurang karena menutup kantor cabang," kata Andika.

Ia merekomendasikan pelaku pasar dapat akumulasi beli saham perbankan di saat harganya terkoreksi, karena dalam jangka panjang harga berpotensi naik.

Seperti apa rekomendasi analis untuk tiap emiten perbankan yang lain? Simak ulasan berikut ini.

BBRI

Sepanjang semester I-2022, BBRI berhasil mengantongi laba bersih konsolidasi (BRI Group) senilai Rp 24,88 triliun pada kuartal II 2022. Nilai itu meningkat 98,38% yoy dibandingkan realisasi tahun lalu.

Tercatat, BRI Group berhasil menyalurkan kredit Rp 1.104,79 triliun atau naik 8,75% yoy pada kuartal II 2022 yang ditopang segmen mikro yang tumbuh 15,07%, segmen konsumer 5,27%, segmen korporasi 3,76% serta segmen kecil dan menengah 2,71% 1.136,98 triliun.

Budi Rustanto, Analis Valbury Sekuritas dalam riset 1 Agustus memproyeksikan, kredit BBRI tumbuh 9% secara tahunan di 2022. Hal ini didukung dari kualitas pinjaman yang membaik dan optimalisasi ekosistem ultra mikro. BBRI juga telah mengamankan KUR sebesar Rp 330 triliun di 2023.

Kamis (11/8), BBRI diperdagangkan naik 0,93% ke Rp 4.350. Budi merekomendasikan beli BBRI dan memasang target harga di 5.400 per saham.

Baca Juga: Ini 10 BUMN Penyetor Dividen Terbesar hingga Juli 2022

BBCA

Bank swasta besar, BBCA berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih 24,9% secara year on year (yoy) menjadi Rp 18 triliun hingga Juni 2022. Ini berkat pendapatan operasional yang tercatat sebesar Rp 40,9 triliun atau naik 6,3% yoy.

BCA mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 28,9 triliun selama semester I-2022 atau naik 5,3% yoy. Sementara pendapatan non bunga tumbuh 8,9% yoy menjadi Rp 11,1 triliun, ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi yang tumbuh 15,0% yoy.

Arief Machrus, Analis NH Korindo Sekuritas dalam riset 4 Agustus memproyeksikan, BBCA akan mampu meningkatkan loan to funding ratio (LFR) ke atas 65% di tahun ini. Di semester I-2022, LFR BCA tercatat berada di 63,5%.

Arief menilai, posisi LFR tersebut cukup rendah dan memberikan ruang bagi BBCA untuk ekspansi pinjaman seiring pertumbuhan ekonomi.

Arief merekomendasikan beli BBCA dan memasang target harga yang lebih tinggi di Rp 9.000. Kamis (11/8), BBCA ditutup menguat 0,63% ke Rp 7.950 per saham.

Baca Juga: Bunga Tetap Tinggi, Margin Perbankan Menebal

BMRI

Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan laba bersih 61,7% yoy menjadi Rp 20,2 triliun di sepanjang semester I-2022. Realisasi pertumbuhan kredit Bank Mandiri secara konsolidasi per kuartal II 2022 menembus Rp 1.138,31 triliun atau tumbuh 12,22%. Lewat pencapaian tersebut Bank Mandiri juga menjadi bank dengan penyaluran kredit terbesar di Indonesia.

Pertumbuhan kredit ini juga turut mendorong pertumbuhan total aset Bank Mandiri secara konsolidasi yang mencapai Rp 1.786 triliun atau tumbuh 13% yoy sampai dengan kuartal II 2022.

Dari sisi profitabilitas, bank berkode emiten BMRI ini berhasil mencatat perbaikan. Hal ini terlihat dari net interest margin (NIM) secara konsolidasi yang mencapai 5,37% di kuartal II 2022, tumbuh 32 basis poin (bps) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri mencapai Rp 1.318,42 triliun per kuartal II 2022, tumbuh 12,76% yoy.

Posisi rasio non performing loan (NPL) Bank Mandiri (bank only) turun menjadi 2,47%. Tidak hanya itu, berkat optimalisasi kualitas aset serta efisiensi, biaya kredit atau cost of credit (CoC) Bank Mandiri pun berhasil ditekan menjadi 1,27% pada semester I 2022.

Edward Lowis, analis Sucor Sekuritas dalam riset 29 Juli 2022, menaikkan proyeksi pendapatan BMRI menjadi Rp 38 triliun tahun ini. Hal ini disebabkan oleh cost of fund yang lebih rendah dan perbaikan permintaan kredit.

Edward merekomendasikan beli dan memasang target harga di Rp 10.000. Pertimbangannya BMRI memiliki kualitas kinerja yang baik, ROE yang kompetitif dan valuasi yang masuk akal. Kamis (11/8), BMRI tercatat turun 0,87% ke Rp 8.525.

Bagikan

Berita Terbaru

Kurang dari 24 Jam, Friderica Widyasari Ditetapkan Isi Posisi Ketua & Wakil Ketua OJK
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 20:46 WIB

Kurang dari 24 Jam, Friderica Widyasari Ditetapkan Isi Posisi Ketua & Wakil Ketua OJK

Mahendra Siregar sebelum pengunduran dirinya, menegaskan bahwa OJK akan melakukan reformasi secara keseluruhan secara cepat, tepat dan efektif.

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:00 WIB

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?

Pergerakan saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) pada perdagangan hari ini menunjukkan tekanan jangka pendek di tengah dinamika pasar.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:33 WIB

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25

Untuk stock split, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)  akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui RUPSLB pada 11 Maret 2026.​

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:28 WIB

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham

PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengumumkan rencana untuk pembelian kembali (buyback) saham sebesar Rp 200 miliar. 

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan

Membeli asuransi perjalanan saat ke luar negeri jadi hal biasa. Tapi, apakah tetap butuh asuransi buat perjalanan di dalam negeri?

Pasar Saham Semakin Suram
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51 WIB

Pasar Saham Semakin Suram

Tekanan yang dialami pasar saham Indonesia semakin besar setelah para petinggi OJK dan bos bursa mengundurkan diri.

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan

Harga nikel global terus anjlok, manajemen IFSH beberkan cara jaga profit. Temukan langkah konkret IFSH untuk amankan laba di 2026

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?

Bitcoin anjlok 7% dalam sepekan, memicu likuidasi besar-besaran. Investor wajib tahu penyebabnya dan langkah mitigasi. 

Masih Rapuh
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:10 WIB

Masih Rapuh

Pengaturan ulang kembali bursa dengan standar dan tata kelola yang lebih jelas menjadi kunci penting.

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:05 WIB

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa

Dalam indeks global, free float adalah inti dari konsep bisa dibeli yang menjadi pakem para investor kebanyakan.​

INDEKS BERITA

Terpopuler