"Lehman Skala Mini" Mengawali Kiprah Otoritas China Mengonsolidasi Perbankan.

Jumat, 07 Juni 2019 | 10:19 WIB
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Industri perbankan China diprediksi akan memasuki babak konsolidasi dalam waktu dekat. Otoritas perbankan mulai menimbang konsolidasi sebagai opsi untuk menjauhkan industrinya dari dari ancaman risiko sistematis di saat Negeri Tembok Raksasa menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi serta konflik dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Prediksi itu muncul setelah otoritas perbankan mengambilalih Baoshang Bank yang berpusat di kawasan Mongolia. Yang patut menjadi catatan, regulator di China teramat jarang melakukan pengambilalihan untuk menyembuhkan bank bermasalah.

Industri perbankan China tengah dibayangi penumpukan kredit bermasalah serta lonjakan biaya dana. Analis menilai strategi terjitu untuk menyehatkan kembali perbankan adalah menggabungkan bank kecil yang lebih rapuh dengan pesaingnya yang lebih kuat.

Pengambilalihan Baoshang Bank pada 25 Mei lalu dinilai analis sebagai langkah awal Beijing mengonsolidasikan industri. Memang, Beijing menyatakan tidak ada rencana pengambilalihan bank lain.

Namun, “Ini seperti momen Lehman dalam skala mini bagi China,” tutur Alicia Garcia Herrero, chief economist di Natixis. “Regulator mulai mempertimbangkan konsolidasi sebagai pilihan. Baoshang menjadi pemicu untuk itu,” ujar dia.

Bank sentral China (PBOC) dan Komite Regulasi Perbankan dan dan Asuransi China (CBIRC) tidak menanggapi pertanyaan Reuters.

Untuk memutar roda ekonominya lebih cepat, Beijing berharap perbankan bisa menjadi motor pendanaan. Nah, agar bisa menjalankan misi itu, Beijng berniat mengokohkan stabilitas industri yang terdiri dari 4.000 lebih bank.

Lima pemain terbesar saat ini, seperti Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) dan Bank of China, mendominasi industri perbankan. Namun masih ada banyak bank berskala kecil, yang menguasai hingga seperempat dari total aset industri perbankan.

Nilai aset bank berskala menengah ke bawah mencapai 68,6 triliun yuan pada akhir 2018, setara 26% dari total nilai aset perbankan.  Sepuluh tahun silam, bank berskala menengah bawah menguasai 18% dari total aset industri keuangan.

Bank berskala kecil dinilai perlu dicermati bukan karena bank-bank semacam itu memiliki risiko sistematis. Namun yang perlu diwaspadai adalah cara bank kecil tersebut memenuhi kebutuhan dananya dalam jangka pendek. Jika banyak bank skala kecil mencari dana dari pasar uang jangka pendek, jelas industri akan terjerumus ke masalah sistematik saat ada bank skala kecil yang gagal melunasi utangnya.

Risiko lain yang bisa datang dari bank-bank kecil adalah banyak dari bank mini yang mendanai produk shadow banking, yang populer disebut receivables on balance sheet. Namun yang patut dicatat, kerap kali transaksi pendanaan ini merupakan transaksi penyaluran pinjaman. Tak heran nilai outstanding untuk piutang dalam buku ini pun melonjak paling cepat di antara kelompok aset lain.

Risiko yang sudah lebih kasat mata datang dari 18 lembaga keuangan berskala kecil, yang hingga kini tak rutin menerbitkan laporan keuangan secara tepat waktu. Regulator seperti sudah mengendus adanya masalah di beberapa perusahaan itu, hingga menempatkan pejabat seniornya di perusahaan yang bersangkuta.

Pekan lalu, Bank of Jinzhou, menyatakan auditornya, EY mundur sebelum menerbitkan laporan audit. Penyebabnya, EY dan manajemen bank tersebut gagal bersepakat dalam penentuan metode pengecekan pinjaman, yang meragukan karena peruntukannya tidak sesuai dengan perjanjian.

“Di saat kredit macet meningkat, kegagalan satu-dua debitur melunasi pinjaman bakal menyeret bank kecil ke situasi yang sama dengan yang dialami Baoshang,” tutur seorang ahli hukum yang berbasis di Shaghai ke Reuters.

Identifikasi masalah 

Masalah yang tersisa bagi calon pemodal adalah mengidentifikasi bank kecil berikut yang akan terbelit masalah. Serta, seperti bagaimana konsolidasi itu akan berlangsung.

Dalam kasus Boashang, China Construction Bank, bank pemerintah yang masuk dalam kelompok lima besar, mendapat penugasan untuk mengelola selama setahun. Dalam laporan risetnya, JP Morgan menulis ada yang memprediksi CCB pada akhirnya akan diminta untuk menelan Baoshang.

Analis UBS Jason Bedford menilai konsolidasi bisa berlangsung lebih cepat, selama bank-bank yang akan digabung berada di provinsi yang sama. Upaya penggabungan dua atau lebih bank yang berada di provinsi berbeda bakal lebih sulit.

Sementara Harry Hu, senior director di S&P Global Ratings, menilai bank kecil dengan eksposur di sektor-sektor yang terimbas perang dagang akan lebih merasakan perlunya konsolidasi.

“Dalam pandangan kami, konsolidasi di sektor perbankan akan berlanjut. Kestabilan industri finansial dan kepentingan bisnis merupakan pertimbangan penting regulator saat ini,” ujar Hu, seperti dikutip Reuters.

Bagikan

Berita Terbaru

Kinerja Saham IPO 2025: COIN, RATU, CDIA Melesat, Dua Calon Emiten Mengantre
| Sabtu, 29 November 2025 | 19:56 WIB

Kinerja Saham IPO 2025: COIN, RATU, CDIA Melesat, Dua Calon Emiten Mengantre

Pelajari saham-saham IPO BEI 2025 yang menguat signifikan seperti COIN (3.470%) dan RATU. Intip potensi RLCO dan Super Bank (SUPA).

Kisah Antonius Auwyang: Membangun Jembatan Emas Produk Indonesia di Australia
| Sabtu, 29 November 2025 | 16:50 WIB

Kisah Antonius Auwyang: Membangun Jembatan Emas Produk Indonesia di Australia

Tity Antonius Auwyang, insinyur sipil, sukses membangun Sony Trading Australia, mendistribusikan ribuan produk Indonesia ke pasar Australia.

Tips Investasi Ala Direktur OCBC The Ka Jit: Jangan Tergoda Ambil Untung Cepat
| Sabtu, 29 November 2025 | 14:36 WIB

Tips Investasi Ala Direktur OCBC The Ka Jit: Jangan Tergoda Ambil Untung Cepat

Mengintip strategi investasi dan portofolio pribadi Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), The Ka Jit

Astra Graphia (ASGR) Mengincar Peluang Bisnis Solusi Teknologi
| Sabtu, 29 November 2025 | 14:25 WIB

Astra Graphia (ASGR) Mengincar Peluang Bisnis Solusi Teknologi

Mengupas rencana bisnis PT Astra Graphia Tbk (ASGR) yang tengah memperkuat bisnis solusi teknologi lewat anak usahanya

Fiskal Ngegas, Menkeu Minta Moneter Longgar
| Sabtu, 29 November 2025 | 09:02 WIB

Fiskal Ngegas, Menkeu Minta Moneter Longgar

Menteri Keuangan menilai fiskal masih menjadi pendorong utama ekonomi dan meminta bank sentral melonggarkan moneternya

Reformasi Bea Cukai demi Menutup Kebocoran Ratusan Triliun Rupiah
| Sabtu, 29 November 2025 | 08:51 WIB

Reformasi Bea Cukai demi Menutup Kebocoran Ratusan Triliun Rupiah

Maraknya praktik underinvoicing dalam ekspor-impor mengindikasikan bahwa ukuran shadow economy di Indonesia masih besar

Menyemai Inovasi di Setiap Kebijakan
| Sabtu, 29 November 2025 | 07:05 WIB

Menyemai Inovasi di Setiap Kebijakan

Indonesia ternyata kekurangan terkait strategi pengembangan kebijakan yang berbasis pada dampak yang dihasilkan.​

Aroma Neo Orde Baru
| Sabtu, 29 November 2025 | 07:05 WIB

Aroma Neo Orde Baru

Menyerahkan kembali fungsi pemeriksaan kepada entitas asing merupakan bentuk pertaruhan kedaulatan yang nekat.

IHSG Sepekan Menguat 1,12% di Akhir November, Saham-Saham Ini Naik Paling Tinggi
| Sabtu, 29 November 2025 | 06:10 WIB

IHSG Sepekan Menguat 1,12% di Akhir November, Saham-Saham Ini Naik Paling Tinggi

Pada periode 24-28 November 2025, IHSG mengakumulasi kenaikan 1,12%. IHSG ditutup pada 8.508,71 pada perdagangan terakhir, Jumat (28/11). 

Target Kontrak Baru Wijaya Karya Gedung (WEGE) Rp 3 Triliun di Tahun 2026
| Sabtu, 29 November 2025 | 05:25 WIB

Target Kontrak Baru Wijaya Karya Gedung (WEGE) Rp 3 Triliun di Tahun 2026

WEGE mulai menerapkan pendekatan bisnis dengan menggandeng mitra strategis untuk menggarap sebuah proyek baru.

INDEKS BERITA

Terpopuler