Lelang SUN Sepi Peminat, Penawaran Cuma Rp 20 Triliun

Rabu, 11 Mei 2022 | 06:13 WIB
Lelang SUN Sepi Peminat, Penawaran Cuma Rp 20 Triliun
[ILUSTRASI. Obligasi]
Reporter: Aris Nurjani | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seperti sudah diduga, pasar surat utang negara (SUN) juga keserempet efek negatif kenaikan agresif Fed fund rate. Lelang SUN yang digelar pemerintah kemarin gagal mencapai target penawaran.

Sekadar informasi, pemerintah mematok target indikatif penawaran yang masuk sebesar Rp 20 triliun. Sementara target penawaran maksimal dipatok Rp 30 triliun.

Nyatanya, total penawaran yang masuk dalam lelang kali ini hanya sebesar Rp 19,74 triliun. Ini merupakan nilai penawaran investor terendah tahun ini. Dari penawaran yang masuk tersebut, pemerintah hanya menyerap dana Rp 7,76 triliun.

Penurunan minat terhadap lelang SUN ini terjadi lantaran pelaku pasar tengah melakukan risk aversion, merespons kebijakan moneter agresif The Fed, yang berpotensi diikuti bank sentral lain di dunia. "Kondisi risk off tersebut berdampak pada appetite investor terhadap emerging market secara global, yang turut mempengaruhi penawaran masuk di lelang SUN hari ini," kata Deni Ridwan, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, dalam keterangan resmi, kemarin.

Lantaran tengah berada di posisi risk off, investor juga meminta yield lebih tinggi dalam lelang kali ini. Head of Fixed Income Bank Negara Indonesia Fayadri menyebut, ini sejalan juga dengan tingkat yield obligasi yang cenderung meningkat secara global.

Ambil contoh, penawaran yield terendah untuk SUN seri FR0091 kemarin mencapai 7,21%. Sementara yield tertinggi yang masuk untuk SUN acuan tenor 10 tahun ini 7,95%. Pemerintah menetapkan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk seri SUN ini sebesar 7,33%.

Buat perbandingan, dalam lelang SUN yang digelar pada 12 April lalu, yield tertinggi yang diminta investor untuk seri FR0091 masih 7,07%. Dalam lelang tersebut, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan pemerintah masih sebesar 6,89%.

Meski begitu, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai pasar SUN dalam negeri masih menarik. Pasar SUN juga sudah tidak terlalu terpapar risiko outflow dana asing, sebagaimana yang terjadi di 2013 dan 2015. Secara fundamental, kondisi ekonomi Indonesia juga lebih kuat.

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Persaingan Gadai di Daerah Semakin Ketat
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 04:50 WIB

Persaingan Gadai di Daerah Semakin Ketat

Perusahaan gadai swasta yang mengantongi izin usaha skala nasional dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) makin bertambah. 

Astra Agro Lestari (AALI) Fokus Replanting Kebun
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 04:20 WIB

Astra Agro Lestari (AALI) Fokus Replanting Kebun

Menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,4 triliun pada 2027.

Kapolri Baru dan Tantangan Kejahatan Siber
| Sabtu, 10 Oktober 2026 | 04:11 WIB

Kapolri Baru dan Tantangan Kejahatan Siber

Kepolisian diharapkan mampu melakukan update dan mengungguli kecanggihan teknologi digital yang dikuasai pelaku kejahatan siber.

BRIS Makin Tertekan Usai Muncul Kabar Rencana Rights Issue 6,8 Miliar Saham
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:10 WIB

BRIS Makin Tertekan Usai Muncul Kabar Rencana Rights Issue 6,8 Miliar Saham

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B untuk memperkuat permodalan.

Laba TAPG Masih Kencang, Tapi El Niño dan Biaya Pupuk Menguji 2027
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Laba TAPG Masih Kencang, Tapi El Niño dan Biaya Pupuk Menguji 2027

Produksi yang lebih rendah oleh TAPG dapat tetap diimbangi oleh volume penjualan yang lebih tinggi melalui pelepasan persediaan.

Akhir Tahun Trafik Bakal Naik, Prospek Emiten Jalan Tol JSMR dan CMNP Kian Menarik
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:30 WIB

Akhir Tahun Trafik Bakal Naik, Prospek Emiten Jalan Tol JSMR dan CMNP Kian Menarik

Selain trafik yang akan naik seiring mobilitas masyarakat yang meninggi jelang pergantian tahun, kenaikan tarif tol juga memberi angin segar.

Percepatan Penyaluran FLPP Menjadi Katalis Pendorong Kinerja BBTN
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 20:50 WIB

Percepatan Penyaluran FLPP Menjadi Katalis Pendorong Kinerja BBTN

Prospek BBTN masih cukup positif, tetapi akan bergantung pada percepatan FLPP, kondisi pendanaan, dan kualitas aset.

Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Pola Konsumsi Jadi Faktor Penentu Sektor Ritel
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 16:21 WIB

Indeks Keyakinan Konsumen Menurun, Pola Konsumsi Jadi Faktor Penentu Sektor Ritel

Penurunan tipis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 ke level 118,1 dari 118,5 menempatkan persepsi masyarakat di zona optimistis.

Perdagangan Obat di Minimarket Diperketat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten Farmasi?
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Perdagangan Obat di Minimarket Diperketat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten Farmasi?

Emiten farmasi besar seperti KLBF, KAEF, SIDO dan TPSC masih memiliki banyak pilihan kanal distribusi sehingga tidak bergantung dengan minimarket.

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026
| Jumat, 09 Oktober 2026 | 12:02 WIB

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total dana kelolaan reksadana pada September 2026 tercatat sebesar Rp 641,10 triliun.

INDEKS BERITA

Terpopuler