Lembar Asumsi bagi Pendatang Baru Nuklir
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Angkanya tampak sederhana, padahal memuat modal pinjaman, harga bahan, dan lama dagangan menunggu pembeli. Harga listrik dari pembangkit nuklir pertama Indonesia kelak akan tampil sesederhana itu. Sebuah kajian atas pembangkit nuklir Rooppur di Bangladesh menghasilkan rata-rata simulasi biaya listrik sepanjang umur pembangkit sebesar US$ 84 per megawatt-jam. Angka itu hanya berlaku bila pembangunan selesai sesuai jadwal dasar kajian dan dibiayai pinjaman dari negara pemasok reaktor dengan biaya modal, yaitu harga dana, yang relatif rendah. Bila pembangunan molor beberapa tahun, biaya listrik naik 10%-20%. Dalam analisis kepekaan kajian yang sama, biaya modal menjadi masukan yang paling menentukan hasil.
Pelajarannya relevan bagi Indonesia, negara pendatang baru energi nuklir (newcomer country). Harga listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama akan banyak ditentukan oleh tiga asumsi di atas kertas, yaitu biaya modal, tahun dasar harga dan lama konstruksi, sebelum reaktornya sendiri ikut dihitung. Tanpa ketiganya, sebutan murah atau mahal belum bisa dinilai.
Baca Juga: Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality
