Margin bank boleh menipis, laba harus menebal

Rabu, 20 Februari 2019 | 18:50 WIB
Margin bank boleh menipis, laba harus menebal
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - Kemampuan bank dalam mendulang untung dari pendapatan bunga tak lagi merona. Tingkat suku bunga yang tinggi membuat permintaan kredit melambat dan risiko kredit meningkat. Selanjutnya, pengetatan likuiditas jadi penghambat bank mendekap pendapatan bunga.


Padahal, 10 tahun lalu margin bunga bersih atawa net interest margin (NIM) perbankan sangat tebal, rata-rata mencapai 9%–10%. Lambat laun, margin bank terkikis akibat kompetisi yang kian sengit. Alhasil, tahun ini kebanyakan bank menjaga rasio margin di level 5%.


Sebagai bank pencetak laba terbesar di Tanah Air, Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun tak mematok margin tinggi. Maklum, pendapatan bunga bersih mereka tahun lalu hanya tumbuh 6,4%. Sedang pertumbuhan pendapatan berbasis komisi alias fee based income melaju kencang, hingga 22,7%.


Meski secara nilai, fee based income baru sebesar Rp 23,42 triliun, masih jauh dari pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp 77,66 triliun. “Rasio NIM secara natural akan turun,” kata Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI.


Tahun ini, BRI akan menjaga rasio NIM di level 7,2%, lebih rendah dari tahun lalu pada posisi 7,3%. Dalam lima tahun terakhir, rasio NIM bank pelat merah tersebut terus susut, dari posisi 8,02% di 2014.


Sebab, BRI tengah mengalami peningkatan kredit bermasalah di sejumlah sektor seperti segmen kecil dan menengah. Alhasil, mereka cenderung membatasi pemberian kredit.
Makanya, BRI memutar otak demi mempertebal laba melalui  fee based income. Bank berkode saham BBRI ini menargetkan pendapatan berbasis komisi tumbuh 14% menjadi sekitar Rp 26 triliun di tahun ini. Digitalisasi perbankan jadi salah satu penopang pendapatan ini.


Dengan mempertebal kantong kanan dan kiri, Suprajarto, Direktur Utama BRI, menyampaikan, laba bersih banknya bisa tumbuh 10% hingga 12% sepanjang 2019. Dengan kata lain, laba BRI akan mencapai Rp 36 triliun sampai Rp 37 triliun dibanding raihan di 2018 sebanyak Rp 32,4 triliun.


Perlambatan pertumbuhan margin turut dirasakan Bank Mandiri. Kondisi ini masih bakal berlangsung hingga tahun ini. Soalnya, bank milik pemerintah itu tengah menata ulang penyaluran kredit mereka dan memperketat likuiditas.


Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama Bank Mandiri, mengatakan, banknya akan menjaga kestabilan rasio NIM tahun ini pada level 5,6%–5,8%. Rasio itu turun tipis dari 2018 sebesar 5,83%. “Masih akan terjadi persaingan dana,” ucapnya.


Bank Mandiri telah merasakan perebutan dana yang ketat sejak tahun lalu. Ini tercermin dari dana pihak ketiga (DPK) mereka yang tumbuh 7,2%, dengan pertumbuhan dana deposito cuma 3,3%. Akibatnya, loan to deposit ratio (LDR) Bank Mandiri bertengger di level 97,1% dan loan to funding ratio (LFR) 95,5%.


Agar NIM tetap pada pondasinya, Bank Mandiri akan mencari dana di wholesale funding yang lebih murah. Rencananya, bank dengan sandi saham BMRI ini menerbitkan medium term notes (MTN) senilai US$ 1 miliar–US$ 2 miliar. Tahap awal, yang terbit US$ 500 juta.


Tak ingin hanya bertumpu pada pendapatan bunga, Hery Gunardi, Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri, menambahkan, banknya bakal menjaga perolehan laba dari fee based income. Setidaknya, fee based income bisa tumbuh 3,5% di tahun ini dengan mendorong wholesale and retail.

Biaya Dana Tinggi

Segendang sepenarian, Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP, memperkirakan rasio NIM banknya akan menyusut. Pada 2019 ini, rasio akan berada di level 4% atau turun tipis dari posisi 4,5% di 2018 yang juga susut dibanding 2017 sebesar 4,8%.


Margin yang menciut itu lantaran biaya dana atau cost of fund masih relatif tinggi. Maklum, bunga deposito terus mekar mengikuti kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Sementara suku bunga kredit belum bisa naik.


Meski pertumbuhan NIM melambat, laba bersih OCBC NISP tahun lalu tumbuh 21% menjadi Rp 2,63 triliun. Pendorongnya: kredit bermasalah mereka mulai membaik sehingga biaya pembentukan cadangan kerugian turun dari Rp 1,31 triliun menjadi Rp 790 miliar.


Betul, Herry Sidharta, Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), menyebutkan, kenaikan bunga dana direspons lebih cepat ketimbang kenaikan bunga kredit. Pasalnya, bank mesti selektif dalam mengerek bunga kredit, biar tidak berdampak negatif pada kualitas aset yang berakhir pada peningkatan rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL). Selain itu, likuiditas ketat juga memberikan andil terhadap penurunan NIM.


Untuk tahun ini, Herry menambahkan, kondisi likuiditas masih cenderung ketat dengan tren suku bunga yang tetap mendaki meski tidak akan sebesar tahun lalu. “Tekanan NIM industri perbankan relatif tetap tinggi,” imbuh Herry.


Dengan berbagai pertimbangan itu, BNI akan mengupayakan menjaga NIM di 2019 sama seperti 2018, pada level 5%. Strategi utama mereka: meningkatkan porsi current account and saving account (CASA) yang tahun lalu sebesar 64%. Caranya, mendongkrak layanan digital banking. Contoh, mengejar pertumbuhan transaksi mobile banking di atas 10%.
Peningkatan biaya dana plus tekanan atas bunga kredit juga mendera Bank Mayora. Akibatnya, rasio NIM mereka makin hari makin tipis termasuk di 2019. “Tapi masih di atas 5,1%,” imbuh Irfanto Oeji, Direktur Utama Bank Mayora.


Ada dua strategi Bank Mayora untuk mempertahankan NIM. Pertama, meningkatkan dana murah dengan mengeluarkan program baru. Kedua, mengatur keseimbangan dana pihak ketiga (DPK).


Kondisi sama juga bakal menimpa Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) yang baru saja resmi merger dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia. Bahkan, penggabungan ini akan semakin menyusutkan rasio NIM BTPN yang sejatinya mencapai dua digit, yakni 11,5% di kuartal tiga tahun lalu.


Ongki Wanadjati Dana, Direktur Utama BTPN, menyampaikan, merger dengan Bank Sumitomo akan menciptakan diversifikasi pada kredit, yaitu, kredit korporasi dan konsumer akan menjadi bagian dari BTPN yang sebelumnya fokus pada segmen mass market. “Rasio NIM akan turun dengan posisi ada di tengah,” ucapnya.


Selama ini, BTPN bisa memiliki margin bunga tebal karena bermain di kredit segmen pensiunan, mikro, serta usaha kecil dan menengah (UKM).
Sebaliknya, Suhaimin Djohan, Direktur Utama Bank Nationalnobu (Bank Nobu), mengaku, banknya mengalami perbaikan NIM di 2018 menjadi 4,5%–4,6%. Pada 2019, Bank Nobu akan mempertahankan NIM sebesar 4,6%–4,8%.


Menurut Suhaimin, sebelum BI menaikkan suku bunga acuan pada semester satu tahun lalu, Bank Nobu sukses menjaga biaya dana, sehingga memberi kontribusi yang baik terhadap NIM. Tetapi, setelah masuk di semester dua, biaya dana mulai naik seiring kenaikan BI 7-day repo rate yang berkali-kali dan bunga pasar.


Ke depan, bank yang terafiliasi dengan Grup Lippo ini bakal menyesuaikan bunga kredit dengan pasar. Lalu, Bank Nobu akan meningkatkan kontribusi dana di tabungan dan giro yang berbiaya lebih murah.

Genjot Kredit

Adapun Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim) mampu mencetak rasio NIM sebesar 6,37% di tahun lalu. Ferdian Satyagraha, Direktur Keuangan Bank Jatim, mengatakan, rasio NIM tahun ini cenderung stabil, di 6,35%.


Itu sebabnya, Bank Jatim akan menjaga porsi dana murah sebesar 75% terhadap pendanaan dan menstabilkan bunga kredit supaya bisa mencapai target NIM tersebut. “Kami juga akan meningkatkan kredit di tahun ini,” ucap Ferdian.


Tahun ini, Bank Jatim membidik pertumbuhan kredit sebesar 9,5%, lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu 6,74%. Ferdian menambahkan, dengan menggelontor kredit ke UKM lebih banyak lagu, itu bisa mempertebal pendapatan bunga.


Pertumbuhan kredit yang tinggi di 2019 juga jadi incaran BRI. Demi mencapai target laba tahun ini, Haru menyatakan, pendapatan bunga kredit masih akan jadi tulang punggung. BRI mengincar pertumbuhan kredit 12% hingga 14%, dengan segmen kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih tetap menjadi anak emas.


BRI membidik kredit UMKM minimal tumbuh sebesar 15% per tahun. Sebab, bank yang identik dengan wong cilik ini akan menggemukkan porsi kredit UMKM menjadi 80% dalam empat tahun mendatang. Saat ini, kontribusi kredit UMKM sebesar 59% terhadap total kredit BRI yang tahun lalu mencapai Rp 804,3 triliun.


Enggak mau kalah, Parwati mengungkapkan, OCBC NISP memasang target pertumbuhan kredit dan dana sebesar 10%–15% di tahun ini. Demi menggenjot laba, bank berkode saham NISP ini akan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor dan segmen korporasi.


Hanya dalam mendorong aliran kredit UKM, NISP tidak ingin bersaing lewat pemberian bunga, melainkan dengan meningkatkan volume pinjaman. Caranya, dengan memberikan solusi yang lebih baik melalui proses yang lebih simpel, cepat, juga mudah. Lalu, menyediakan bermacam saluran dan produk yang dibutuhkan para pelaku UKM.


Sementara Bank Mandiri, Kartika menuturkan, masih akan menyalurkan kredit ke segmen yang minim risiko, yakni korporasi, mikro, dan konsumer. Aliran kredit ke UKM dan komersial akan selektif karena Bank Mandiri sedang menangani kredit bermasalah pada dua sektor tersebut.


Harapannya, kredit Bank Mandiri secara keseluruhan bisa tumbuh 11%–12% di tahun ini. Perinciannya, kredit korporasi tumbuh sekitar 20%, kredit mikro 30%, dan konsumer 18%. Tahun lalu, ketiga segmen kredit itu tumbuh dua digit.


Laba harus tetap gemuk.

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Tembaga Dunia Naik 18% Sepanjang 2026, AMMN dan MDKA Jadi Penerima Manfaat
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:29 WIB

Harga Tembaga Dunia Naik 18% Sepanjang 2026, AMMN dan MDKA Jadi Penerima Manfaat

Kenaikan harga tembaga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap permintaan yang tetap kuat di tengah kondisi pasokan global yang relatif terbatas.

PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Rebound Sesaat atau Sinyal Kebangkitan Industri?
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:30 WIB

PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Rebound Sesaat atau Sinyal Kebangkitan Industri?

Kenaikan produksi kembali terjadi untuk pertama kali sejak Februari dan pesanan baru mulai stabil, tetapi peningkatan output masih terbatas. 

Pemulihan Harga dan Permintaan Bikin Prospek Emiten Poultry Kembali Menarik
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:47 WIB

Pemulihan Harga dan Permintaan Bikin Prospek Emiten Poultry Kembali Menarik

Pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan memberikan dampak terhadap sektor poultry.

Indeks Dolar Dalam Tren, Berikut Prediksi Rupiah Hari Ini, Kamis (6/8)
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:32 WIB

Indeks Dolar Dalam Tren, Berikut Prediksi Rupiah Hari Ini, Kamis (6/8)

Pergerakan rupiah didorong oleh melemahnya permintaan terhadap dolar AS.  Pelemahan itu setelah peluang deeskalasi konflik AS–Iran.

Yield US Treasury Menurun, Indeks Dolar AS Ikut Melemah
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:27 WIB

Yield US Treasury Menurun, Indeks Dolar AS Ikut Melemah

Penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) menekan pergerakan indeks dolar AS (DXY).

Investor Asing Gelar Aksi Net Sell Lagi, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:26 WIB

Investor Asing Gelar Aksi Net Sell Lagi, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

 Angka ini memang lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 5,61%, tetapi lebih tinggi dari konsensus pasar sekitar 5,1%.

Penjualan Sarang Burung Walet Topang Pertumbuhan Laba Abadi Lestari (RLCO)
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:12 WIB

Penjualan Sarang Burung Walet Topang Pertumbuhan Laba Abadi Lestari (RLCO)

Hingga 30 Juni 2026, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mencatatkan laba bersih Rp 20,36 miliar, meningkat 13,39% secara tahunan.

BEI Masukkan ALKA dan AGAR ke Daftar Saham HSC
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:06 WIB

BEI Masukkan ALKA dan AGAR ke Daftar Saham HSC

BEI memasukkan saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) dan PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) ke daftar saham berkonsentrasi tinggi.

Tekanan Biaya Berpotensi Reda, Kinerja KLBF Bisa Lebih Sehat
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Tekanan Biaya Berpotensi Reda, Kinerja KLBF Bisa Lebih Sehat

Pada semester I-2026,  PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) harus mengalami penurunan laba bersih 2,80% yoy jadi Rp 1,97 triliun dari Rp 2,03 triliun.​

Strategi Promosi Mendorong Laba AMRT Semakin Tinggi
| Kamis, 06 Agustus 2026 | 07:54 WIB

Strategi Promosi Mendorong Laba AMRT Semakin Tinggi

Per akhir Juni 2026, pengelola jaringan minimarket Alfamart itu mencetak laba bersih Rp 2,02 triliun, naik 7,5% secara tahunan.

INDEKS BERITA

Terpopuler