Margin Budidaya Kedelai Lokal Rendah, Meski Harganya Tinggi

Minggu, 10 Januari 2021 | 09:05 WIB
Margin Budidaya Kedelai Lokal Rendah, Meski Harganya Tinggi
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Awal tahun 2021 ditandai dengan naiknya harga kedelai. Perajin tempe dan tahu sempat menghentikan produksi. Indonesia memang sangat bergantung pada kedelai impor, terutama dari AS. Produksi kedelai nasional kita hanya 940.000 ton, impor mencapai 2,75 juta ton.

Harga kedelai impor selama ini berkisar antara Rp 6.500 sampai Rp 7.000 per kilogram. Tiba-tiba akhir 2020 melonjak menjadi Rp 9.200 sampai dengan Rp 10.000 per kilogram. Kemungkinan besar harga ini masih akan terus naik.

Kenaikan harga kedelai di pasar global disebabkan oleh kebutuhan kedelai China selama pandemi 2020 melonjak tajam. China merupakan produsen kedelai peringkat empat dunia dengan hasil 15,7 juta ton. Selama ini China mengimpor kedelai dari AS sebesar 15 juta ton. Tiba-tiba 2020 impor kedelai China dari AS naik dua kali lipat menjadi 30 juta ton.

AS sendiri tidak masalah memenuhi kebutuhan kedelai China yang naik dua kali lipat. AS merupakan produsen kedelai peringkat dua dunia, dengan hasil 96,7 juta ton. Inilah 10 besar produsen kedelai dunia menurut FAO 2019 (juta ton). Brasil 114,2: AS 96,7; Argentina 55,2; China 15,7; India 13,2; Paraguay 8,5; Kanada 6,0; Russia 4,3; Ukraina 3,6; Uruguay 2,8. Kedelai adalah tumbuhan sub tropis, yang perlu panjang hari pada musim panas sampai 17 jam. Di kawasan tropis rata-rata panjang hari hanya 12 jam. Tetapi de facto, Indonesia bisa menghasilkan kedelai meski hanya 940.000 ton.

Kedelai lokal kita kebanyakan diserap industri tahu. Sebab meskipun berharga lebih tinggi dari kedelai impor, rendemen tahu kedelai lokal lebih besar dari kedelai impor. Karenanya industri tahu lebih suka kedelai lokal.

Lain halnya dengan industri tempe. Mereka tak mau menggunakan kedelai lokal, karena volume tempe yang dihasilkan lebih kecil dibanding kedelai impor. Dengan kondisi seperti ini, industri tempe nasional sangat rawan gejolak harga kedelai di pasar global. Meskipun kebutuhan kedelai nasional kita sebenarnya masih di bawah empat juta ton per tahun.

Dari sejak pemerintahan Orde Baru, pemerintah punya program swasembada kedelai. Program ini tak pernah berhasil, karena yang diminta menanam kedelai para petani. Terutama para petani padi lahan tadah hujan. Setelah ditanami padi pada musim penghujan dan musim gadu, petani masih punya kesempatan untuk menanam kedelai. Kedelai tahan kekurangan air, hingga selama musim kemarau tetap bisa produktif tanpa perlu pengairan khusus. Tapi sejak era reformasi, di sentra padi Pantura Jawa, Sulawesi Selatan dan Merauke, yang menanam padi bukan lagi petani melainkan pemilik penggilingan gabah.

Kebutuhan bisa terpenuhi panenan lokal

Para juragan pemilik penggilingan itu rata-rata punya lebih dari satu huller. Menyewa lahan petani secara acak, sampai belasan bahkan puluhan hektare. Berarti petani sudah tidak menjadi tuan di tanah sendiri? Bagi petani itu tidak penting. Petani hanya menggunakan kalkulasi logis. Dengan menyewakan lahan, mereka terima uang di muka, dan tidak menanggung risiko gagal panen maupun harga jatuh. Para petani juga masih menggarap lahan mereka, tetapi kali ini sebagai buruh. Mereka dibayar juragan untuk mengolah lahan, menanam, menyiangi, memupuk, dan memanen.

Agroindustri padi di Pantura Jawa menjadi lebih efisien. Karenanya, sejak reformasi, meski tak ada Bimas, Inmas, Insus, Supra Insus, dan KUT, produksi gabah nasional terus naik. Korupsi di sekitar aneka program itu juga lenyap. Meskipun para juragan menyewa lahan petani selama setahun, dalam praktik, di lahan berpengairan teknis sekalipun, mereka hanya bisa menanam padi sebanyak dua musim. Sebab, selama musim kemarau, sebagian besar lahan sawah di Pantura Jabar sulit mendapat jatah air dari Waduk Jatiluhur. Praktis sawah-sawah sepanjang Pantura menganggur pada musim kemarau.

Kedelai hanya bisa dibudidayakan di lahan sawah dengan hasil optimum, justru, selama musim kemarau. Masalahnya, air harus diadakan, dengan sumber pompa pantek, pompa sedot (dari sungai terdekat), atau mobil tangki. Semua memerlukan energi yang nantinya akan dibebankan sebagai harga pokok produksi (HPP) kedelai. Secara hitung-hitungan, para pengusaha penggilingan rugi apabila menanam kedelai. Itu juga bukan bidang mereka. Hingga untuk mengurus budidaya, dan menyimpan dan memasarkan, perlu belajar lagi. Margin budidaya kedelai juga sangat rendah, meski harga kedelai lokal lebih tinggi dari kedelai impor.

Presiden bisa menugaskan Gubernur Jabar, untuk mengumpulkan para pemilik penggilingan, dan juragan kedelai, guna memanfaatkan lahan sawah Pantura yang nganggur selama musim kemarau, ditambah lahan di sentra padi lain. Dengan asumsi hasil produksi 1,5 ton per hektare per musim tanam selama tiga bulan; hanya diperlukan 2 juta hektare lahan sawah untuk mendapatkan tiga juta ton kedelai. Masih dimungkinkan mengingat luas lahan sawah kita 7,5 juta hektare. Dari lahan sawah di Jawa yang 3 juta hektare pun sudah cukup.

Meski ada subsidi dan kemudahan dari pemerintah, upaya swasembada kedelai selalu gagal. Kartel importir kedelai tak rela kita swasembada. Dengan berbagai cara, mereka akan menutup celah agar ketergantungan impor kedelai berlangsung terus.

Mereka bodoh. Sebab seandainya benar kita bisa memproduksi empat juta ton kedelai per tahun, para perajin tempe tetap akan minta kedelai impor yang lebih murah dan lebih baik hasilnya. Sebaliknya produsen tahu akan lebih memilih kedelai lokal. Tentu ada kelebihan pasokan. Jepang dan China pernah minta kedelai lokal kita untuk tahu meski berharga lebih tinggi dari kedelai AS.

Kita tak mampu memenuhi. Ini peluang, yang tak akan mengganggu periuk nasi importir kedelai.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Negara Bisa Pakai Aset Debitur Nunggak
| Senin, 27 April 2026 | 14:48 WIB

Negara Bisa Pakai Aset Debitur Nunggak

Pemerintah resmi mengubah pendekatan dalam pengelolaan piutang negara melalui terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23 Tahun 2026

Pajak Si Super Kaya Bisa Tambal Defisit APBN
| Senin, 27 April 2026 | 14:25 WIB

Pajak Si Super Kaya Bisa Tambal Defisit APBN

Berdasarkan laporan Celios, nilai kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia melampai APBN              

Efek Perang Permintaan PLTS Melonjak, Ekspor Panel Surya Cina Capai Rekor Tertinggi
| Senin, 27 April 2026 | 10:00 WIB

Efek Perang Permintaan PLTS Melonjak, Ekspor Panel Surya Cina Capai Rekor Tertinggi

Skala program ini membuka peluang industri nyata, yakni manufaktur panel surya domestik, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi hijau.

Sideways Sepanjang April 2026, Ke Mana Arah Harga Emas?
| Senin, 27 April 2026 | 09:00 WIB

Sideways Sepanjang April 2026, Ke Mana Arah Harga Emas?

Pembukaan Selat Hormuz jadi kunci penting, jika harga minyak stabil di bawah US$ 80 per barel, maka harga emas bisa terangkat lagi.

Badai Krismon Tahun 1998 Pasti Kembali?
| Senin, 27 April 2026 | 08:42 WIB

Badai Krismon Tahun 1998 Pasti Kembali?

Badai krisis bisa kembali! Pelajaran dari 1998 sangat penting. Pemerintah harus bertindak cepat. Cari tahu langkah krusialnya.

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG
| Senin, 27 April 2026 | 08:00 WIB

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG

Implementasi program MBG masih menopang kinerja JPFA, program ini menambah konsumsi ayam nasional secara signifikan di 2026.

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May
| Senin, 27 April 2026 | 07:41 WIB

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May

Bursa saham Indonesia tertatih-tatih berjalan. Apakah fenomena Sell in May berpeluang memperparah IHSG?

Prospek  Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis
| Senin, 27 April 2026 | 07:22 WIB

Prospek Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencetak laba fantastis 2025. Prediksi pertumbuhan 2026 tidak lagi tiga digit, simak proyeksi terbarunya!

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 27 April 2026 | 06:57 WIB

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Badai menerjang IHSG, investor asing lepas saham besar-besaran. Jangan sampai salah langkah, pahami risikonya sebelum Anda bertindak.

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu
| Senin, 27 April 2026 | 06:55 WIB

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu

​Kredit konsumer perbankan melambat seiring daya beli masyarakat melemah, mendorong bank semakin ketat menyalurkan pembiayaan.

INDEKS BERITA

Terpopuler