Martina Berto (MBTO) Menggenjot Bisnis Perawatan Tubuh

Sabtu, 13 November 2021 | 04:20 WIB
Martina Berto (MBTO) Menggenjot Bisnis Perawatan Tubuh
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan produk riasan menurun sejak pandemi Covid-19 melanda. Agar tetap bisa bertahan, PT Martina Berto Tbk mencoba peruntungan lain di segmen perawatan tubuh. 

Direktur Utama PT Martina Berto Tbk (MTBO) Bryan David Emil meyakini, seiring meredanya kasus Covid-19, permintaan produk juga turut naik. "Secara tren penjualan sudah mulai membaik pada kuartal III-2021," kata Bryan ke KONTAN, Kamis (11/11).

Bryan menegaskan kinerja MBTO sudah jauh lebih baik dibandingkan kinerja tahun lalu. Di sembilan bulan pertama tahun ini, MBTO mencetak pendapatan Rp 146,95 miliar. Angka ini menurun 35,83% secara year on year (yoy). 

Baca Juga: Martina Berto (MBTO) anggap penting sertifikat halal agar tak ditinggal konsumen

Namun pada kuartal III saja, yakni pada Juli-September 2021, pendapatan MBTO naik 37,96% secara kuartalan menjadi Rp 56,15 miliar. Di kuartal II-2021 pendapatan emiten ini mencapai Rp 40,7 miliar. 

Walau penjualan di sembilan bulan pertama tahun ini kurang optimal, Bryan optimistis target yang dipasang dapat tercapai. Ia memperkirakan tahun ini MBTO bisa membukukan laba usaha sebesar Rp 87 miliar dan laba sebelum pajak Rp 71 miliar. Sementara rasio return on assets (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing sebesar 8,51% dan 13,70%.

Sepanjang tahun lalu, MBTO masih membukukan rugi usaha sebesar Rp 172,31 miliar. MBTO juga mencatat rugi sebelum pajak Rp 189,41 miliar. Akibatnya ROA dan ROE emiten ini masing-masing minus 20,68% dan minus 34,45%.

Produk non riasan

Bryan bercerita, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, permintaan produk tata rias menurun. Orang yang harus memakai masker dan di rumah saja membuat kebutuhan akan produk kosmetik anjlok. 

Karena itu, kini MBTO memfokuskan bisnis di kategori bisnis yang lain, yakni skincare, hair care, dan herbal, melalui merek Sariayu Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno, Biokos Martha Tilaar, dan Berto Imunku. 

Baca Juga: Marina Berto (MBTO) jadi official make up & hairdo gelaran Gantari, The Final Journey

Selain itu, MBTO juga telah mengeluarkan sejumlah produk baru dari berbagai kategori bisnis. MBTO berharap cara ini bisa menggenjot laju bisnis di tahun ini. 

Beberapa produk yang terus digenjot di antaranya Biokos Vital Nutrition, Mirabella effortless make up, RHC Pomade, Sariayu New Norm, PAC Satin Lip Cream, Sariayu Colour Trend 2020, hand sanitizer merek Quick N Fresh, serta Berta Imunku.

Sejak pandemi Covid-19, produk herbal milik MBTO, yakni Berto Imunku, mendapatkan sambutan positif dari konsumen. Bryan menyebut, MBTO rutin meluncurkan beberapa versi baru dari produk jamu tersebut.

"Untuk herbal kami cukup optimistis, produk herbal kami baru keluar tahun ini. Kami menargetkan penjualan dari kategori herbal bisa sekitar Rp 3 miliar-Rp 5 miliar di tahun ini," papar Bryan. 

Selain dari sisi produk, Bryan mengatakan, MBTO juga berupaya meningkatkan cara pemasaran. Rencananya, MBTO akan mendorong kontribusi penjualan melalui saluran digital. Di tahun ini, MBTO menargetkan kontribusi penjualan saluran digital bisa mencapai 7% terhadap total penjualan. 

Baca Juga: Martina Berto (MBTO) mengantongi kontrak kerja sama di ajang PON

Salah satu strategi pemasaran yang digunakan oleh MBTO adalah dengan menggandeng para key opinion leader semacam influencer. Strategi ini diharapkan bisa menggaet konsumen lebih banyak, seiring dengan tren pertumbuhan belanja online. 

Upaya lain yang diambil anak usaha Martha Tilaar Group ini adalah mengembangkan distribusi dari sole distributor (agen tunggal) menjadi multi distributor. Bryan menuturkan, MBTO akan membuat pusat gudang untuk mengatur kesesuaian produk antara kebutuhan dengan pengiriman, agar bisa lebih efisien.

Baru-baru ini, MBTO juga telah menjalin kerjasama dengan PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA) untuk memperluas jaringan distribusi. Lewat kerjasama ini, MBTO diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan bisnis modern trade sebesar 20%-25%, di mana TGKA memiliki coverage hingga 100% di modern trade channel secara nasional.

"Kami berharap produk bisa terdistribusi dengan lebih luas dan merata ke outlet-outlet yang disesuaikan dengan produk kami," kata Kilala Tilaar, Direktur dan CEO Martha Tilaar Grup dalam rilis. Harapannya, produk MBTO bisa lebih dekat dan lebih mudah didapatkan oleh konsumen di seluruh wilayah Indonesia. 

Beberapa produk pilihan MBTO didistribusikan ke modern trade key account Tigaraksa, di antaranya Sariayu Martha Tilaar, Rudy Hadisuwarno Cosmetics, Mirabella Martha Tilaar dan Biokos Martha Tilaar. MBTO menargetkan pertumbuhan bisnis secara total mencapai 10%-15% tahun ini. Sepanjang tahun ini, harga saham MBTO naik 41,05% ke Rp 134. 

Jual Aset Agar Kas Terisi

Pada Agustus lalu, PT Martina Berto Tbk menjual aset senilai Rp 180 miliar ke PT Kosmetika Global Indonesia (Kosme). Penjualan aset ke produsen MS Glow ini untuk memperbaiki cash flow seiring menurunnya penjualan.

"Penjualan aset kami lakukan karena aset tersebut tidak produktif dan cashflow memang terganggu. Sekarang cash flow MBTO sudah sangat jauh lebih baik," jelas Bryan David Emil, Direktur MBTO. Per akhir September, MBTO mengantongi kas setara kas Rp 27,49 miliar, meningkat dari akhir Desember 2020 sebesar Rp 2,19 miliar. 

Baca Juga: Dongkrak kinerja, Tigaraksa Satria (TGKA) tambah 8 prinsipal baru di semester I-2021

Kinerja MBTO cukup tertekan lantaran terus mencatatkan rugi bersih sejak 2017. Untuk itu, Bryan mengungkapkan, telah menutup outlet yang tidak menguntungkan, terutama di beberapa department store. "Ada beberapa yang ditutup, karena kalau tetap dibuka juga rugi. Jadi kami fokus pada yang menguntungkan saja," ujar dia. 

Bagikan

Berita Terbaru

Membedah ETF Emas; Cara Investasi, Pembentukan Harga, Modal, Prospek Hingga Risiko
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Membedah ETF Emas; Cara Investasi, Pembentukan Harga, Modal, Prospek Hingga Risiko

Di luar lima manajer investasi yang telah meluncurkan produk ETF Emas, ada sejumlah MI lain yang akan menyusul.

Asumsi Kurs Rp 17.500 di RAPBN 2027: Belajar dari Pengalaman 2026 yang Meleset Jauh
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:49 WIB

Asumsi Kurs Rp 17.500 di RAPBN 2027: Belajar dari Pengalaman 2026 yang Meleset Jauh

Banyak syarat untuk memenuhi asumsi rupiah, yang repotnya sebagian bergantung pada kondisi eksternal.

Proyeksi CPO Dipangkas, Saham Sawit Mana yang Masih Menarik?
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:26 WIB

Proyeksi CPO Dipangkas, Saham Sawit Mana yang Masih Menarik?

Ketika kenaikan harga CPO mulai terbatas, kinerja emiten tidak hanya bergantung pada pergerakan harga komoditas.

Ranjang Procrustes dan Kemasan Rokok
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:12 WIB

Ranjang Procrustes dan Kemasan Rokok

Rokok boleh kita pandang sebagai persoalan serius bagi kesehatan. Namun, janganlah kebencian terhadapnya membuat kita berlaku tidak adil.

Rupiah Selasa (18/8) Berpotensi Menguat Terbatas, Cek Sentimen Utamanya
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Rupiah Selasa (18/8) Berpotensi Menguat Terbatas, Cek Sentimen Utamanya

Pelemahan indeks dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sentimen utama yang menopang rupiah

Buktikan Wibawa BI
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:04 WIB

Buktikan Wibawa BI

Namun, independensi saja jelas tak akan cukup. Penentu wibawa bank sentral adalah konsistensi arah kebijakan yang dikomunikasikan secara jelas.

Penjualan ANTM Masih Tumbuh, Tapi Ada Risiko dari Tekanan Harga Komoditas
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Penjualan ANTM Masih Tumbuh, Tapi Ada Risiko dari Tekanan Harga Komoditas

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mendapatkan katalis positif dari kenaikan volume penjualan komoditas pada kuartal II-2026

Adu Kuat Saham WtE, Pengaruh Utama Pertumbuhan Fundamental atau Hanya Diversifikasi?
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Adu Kuat Saham WtE, Pengaruh Utama Pertumbuhan Fundamental atau Hanya Diversifikasi?

Investor kian memperhatikan kualitas proyek dan kemampuan emiten mengubah peluang bisnis pengolahan sampah menjadi arus kas.

Mengapa Saham Murah Tetap Murah Dalam Waktu Lama?
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 07:57 WIB

Mengapa Saham Murah Tetap Murah Dalam Waktu Lama?

Mulai dengan, "Perusahaan mana menghasilkan return tinggi secara berkelanjutan, dan berapa harga yang pantas?"​

Awal Pekan Setelah Long Weekend, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (18/8)
| Selasa, 18 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Awal Pekan Setelah Long Weekend, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (18/8)

Kendati menguat, investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 1,03 triliun. Hari ini, ada sejumlah faktor yang akan dicermati investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler