Masalah Kepercayaan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham dan keuangan Indonesia terguncang menjelang akhir Februari 2025. Penurunan pasar ini terjadi di tengah kisruh dugaan korupsi PT Pertamina dan di pekan peluncuran Danantara.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbang 8,77% sepanjang bulan Februari ke level 6.485 pada Kamis (27/2). Kalau mau dibandingkan, indeks acuan pasar saham Amerika Serikat (AS) S&P 500 hanya turun 1,40% di periode yang sama. Indeks blue chip Dow Jones Industrial Average hanya turun 2,5% sepanjang Februari.
IHSG menjadi indeks saham berkinerja terburuk di Asia sepanjang Februari, berselisih lebih dari 1% ketimbang indeks saham Thailand yang melorot 7,51%. IHSG menyentuh level terendah sejak Oktober 2021.
Tak hanya IHSG, rupiah pun terkapar di perdagangan kemarin. Kurs rupiah di pasar spot ditutup pada Rp 16.454 per dolar AS yang merupakan level paling lemah sejak awal April 2020 atau sebulan setelah kasus pertama Covid-19 di Indonesia.
Apa yang membuat pasar saham Indonesia rontok? Apakah investor masih belum percaya dengan pemerintahan baru dalam upaya bersih-bersih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pengungkapan kasus-kasus korupsi yang belakangan marak? Lalu apakah penurunan ini ada kaitannya dengan peluncuran Danantara?
Bisnis keuangan adalah bisnis yang berlandaskan pada trust alias kepercayaan. Penurunan indeks saham yang hampir 9% rasanya tidak bisa disebut dengan koreksi sehat.
Bila ditelisik lebih jauh, tidak ada yang bisa menyebut pasar saham menjadi prioritas utama pemerintahan baru. Pekerjaan pemerintahan yang sekarang dilihat oleh rakyat adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih banyak pro-kontra, peluncuran berbagai macam lembaga, serta perubahan alokasi anggaran dari yang sudah diketok palu dan mengantongi persetujuan DPR.
Pemerintah sepertinya bertindak seperti orang tua zaman dulu yang mengambil keputusan sepihak. Rakyat sebagai anak hanya bisa melihat tindakan orang tua tanpa bisa mengacungkan tangan hanya sekadar untuk mengajukan pertanyaan.
Padahal, rakyatlah yang memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi Indonesia. Sementara pemerintah hanya menyumbang porsi hampir 8% terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun lalu.
Jadi jangan heran kalau pasar saham terguncang di tengah pertanyaan, siapa yang bisa dipercaya di Indonesia saat ini?