Mau, Tapi Tak Mampu
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat pandemi Covid-19 beberapa tahun silam, saya pernah ngobrol dengan direksi salah satu emiten. Saat itu, mengomentari soal kondisi ekonomi Indonesia yang tertekan akibat pandemi, si direktur berkata, "Orang Indonesia itu sangat resilient dan optimistis."
Saya kembali teringat dengan perbincangan tersebut saat membaca hasil Survei Konsumen dan Perekonomian yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pekan lalu. Survei ini menyebutkan, Indeks Menabung Konsumen menguat.
Rinciannya menarik disimak. Menurut survei ini, kemauan menabung masyarakat meningkat. Ini terlihat dari Indeks Kemauan Menabung yang naik 3,4 poin ke level 86,9. Artinya, kalau ditanya apakah mau menabung atau tidak, semakin banyak yang menjawab mau.
Di survei yang sama, LPS juga mensurvei kemampuan masyarakat menabung. Ternyata, meski kemauan masyarakat menabung naik, kemampuan menabung malah turun. Ini terlihat dari Indeks Kemampuan Menabung yang turun sedikit, 0,2 poin, ke level 71,8.
Survei yang sama juga menunjukkan persepsi konsumen terhadap kondisi saat ini memburuk, terlihat dari Indeks Situasi Saat Ini yang turun 2,5 poin jadi 61,5. Tapi konsumen memandang optimistis prospek ke depan. Indeks Ekspektasi naik 1,1 poin jadi 100,5.
Inilah yang membuat saya teringat kembali percakapan yang saya ceritakan di awal tadi. Masyarakat Indonesia bisa jadi merasa kondisi saat ini tidak baik, tapi tetap optimistis kondisi ke depan akan lebih baik.
Tapi, kita perlu hati-hati membaca data tersebut. Di satu sisi, data tersebut memang bisa dibaca dengan narasi masyarakat siap menabung. Di sisi lain, data menunjukkan kemampuan menabung masih turun. Bisa jadi, ini karena kondisi keuangan dan daya beli belum kuat.
Jadi, bila data ini mau dilihat sebagai indikator ketahanan finansial, ada sinyal ketahanan finansial masyarakat saat ini masih rentan. Meski sekarang konsumen masih punya ekspektasi optimistis terhadap kondisi ke depan, bisa jadi akhirnya saat masa depan itu tiba, masyarakat kembali pesimistis.
Jangan lupa, Indonesia masih berhadapan dengan sejumlah risiko yang bisa mengganggu daya beli. Salah satunya potensi kenaikan harga bahan bakar akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Pemerintah perlu punya program yang bisa memperkuat daya beli masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan, tidak hanya bertopang pada bantuan sosial.
