Melihat Kelahiran BRIS dan Potensinya di Masa Depan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di antara beberapa raksasa bank syariah di Indonesia yang mencuri perhatian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi salah satu yang terkuat di bidangnya. Hal ini bisa dilihat dari histori kinerjanya hingga prospek yang positif datang dari segmen bisnis emas ke depan.
Kehadiran BRIS cukup ikonik sebab kelahirannya merupakan hasil peleburan tiga bank syariah berpelat merah, yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Penyatuan ini disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Januari 2021 silam dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.
Dari sisi kepemilikan, mayoritas saham BRIS digenggam oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 50,83%, diikuti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 24,85%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 17,25%. Sisanya dimiliki oleh publik dengan porsi masing-masing di bawah 5%.
BRI Danareksa Sekuritas dalam paparannya mengungkapkan jika penggabungan ketiga bank milik BUMN tersebut otomatis menyatukan keunggulan tiga bank syariah sekaligus, mulai dari kapasitas permodalan, jaringan layanan, hingga basis nasabah yang lebih luas.
Dengan skala tersebut, BRIS dinilai mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam peta industri keuangan syariah global.
Berita Terbaru
Mencari Titik Keseimbangan RUU Hak Cipta
Cara kita melindungi hak cipta tidak boleh menciptakan hambatan baru bagi perdagangan, investasi dan pengembangan AI di dalam negeri.
HIP Bioethanol Turun di Oktober, Saham SRSN dan MOLI Langsung Terdampak
Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan investor, yakni harga bioetanol, kebijakan pemerintah mengenai impor, serta pasokan bahan baku molases.
Rezim Baru Perburuhan
Kita hanya bisa berharap, beleid baru tidak lagi pro upah murah, memudahkan PHK, juga menghambat upaya meningkatkan produktivitas kerja.
Pengendali Baru Caplok 56,84 Persen Saham TGUK, Bakal Gelar MTO dan Rights Issue
Pengendali PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK saat ini adalah pemilik jaringan Toko Daging Nusantara.
Rupiah Masih Rawan Tersandung, Bisa Uji Rp 18.200 per dollar
Meski belakangan undur dari level pelemahan krusial Rp 18.000 per dollar, namun rupiah belum bisa lega. Simak apa saja tantangannya?
Godrej Indonesia Investasi Rp 500 Miliar Bangun Pabrik Baru di Kendal
Investasi tersebut ditujukan untuk menambah kapasitas produksi seiring dengan pertumbuhan bisnis Godrej di Indonesia.
Pengembangan SPKLU Masih Belum Merata
Jika persoalan SPKLU tidak segera diatasi, kendaraan elektrifikasi lain seperti HEV, PHEV dan REEV berpotensi semakin diminati masyarakat.
Rupiah yang Sudah Keok Semakin Terpojok
Dolar Amerika Serikat (AS) yang perkasa dan kenaikan yield global bisa menekan nilai tukar rupiah lebih dalam
AUTO Memperkuat Brand Aspira di Ajang MotoGP
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) terus memperluas jangkauan pasar produk Aspira di tengah komunitas otomotif.
INTA Mengerek Kontribusi Lini Persewaan
Di tengah penurunan penjualan alat berat, bisnis persewaan alat berat dan truk PT Intraco Penta Tbk (INTA) justru positif.
