Melihat Kelahiran BRIS dan Potensinya di Masa Depan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di antara beberapa raksasa bank syariah di Indonesia yang mencuri perhatian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi salah satu yang terkuat di bidangnya. Hal ini bisa dilihat dari histori kinerjanya hingga prospek yang positif datang dari segmen bisnis emas ke depan.
Kehadiran BRIS cukup ikonik sebab kelahirannya merupakan hasil peleburan tiga bank syariah berpelat merah, yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Penyatuan ini disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Januari 2021 silam dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.
Dari sisi kepemilikan, mayoritas saham BRIS digenggam oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 50,83%, diikuti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 24,85%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 17,25%. Sisanya dimiliki oleh publik dengan porsi masing-masing di bawah 5%.
BRI Danareksa Sekuritas dalam paparannya mengungkapkan jika penggabungan ketiga bank milik BUMN tersebut otomatis menyatukan keunggulan tiga bank syariah sekaligus, mulai dari kapasitas permodalan, jaringan layanan, hingga basis nasabah yang lebih luas.
Dengan skala tersebut, BRIS dinilai mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam peta industri keuangan syariah global.
Berita Terbaru
Rumor Dual Listing AMMN di Hong Kong Mencuat, Agoes Projosasmito: Belum Ada Rencana
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) lebih dulu menggelar dual listing di Papan Utama HKEX dan melantai pada 26 Juni 2026.
Menakar Efek Mandatori Bioetanol E20 Terhadap Emiten Produsen Etanol
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa pada tahun depan program mandatori bioetanol E20 akan berlaku.
Smelter HPAL SLNC Bakal Beroperasi, Prospek MDKA Makin Berseri
Salah satu katalis positif bagi MDKA berasal dari akan beroperasinya smelter HPAL milik PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC).
Biaya Energi Menyusut, Margin Emiten Tambang Mineral Bisa Pulih
Biaya energi turun, profitabilitas emiten tambang diprediksi membaik di paruh kedua 2026. AMMN dan INCO paling sensitif terhadap perubahan ini.
Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia
Rupiah melemah 0,58% pekan lalu, mencapai Rp 18.065 per dolar AS. Ketegangan geopolitik dan suku bunga AS jadi pemicu. Simak proyeksi selengkapnya
Sudah Saatnya KPI Direksi BEI Diperluas
Target ambisius BEI Rp 30.000 triliun terancam. Peningkatan kualitas IPO dan daya tarik emiten asing jadi kunci agar dana global masuk.
Produksi dan Penjualan Emas BRMS Mengalami Kenaikan di Kuartal II-2026
Kenaikan volume penjualan emas sekitar 50% dibandingkan kuartal sebelumnya akan mampu mengimbangi pelemahan harga jual rata-rata.
Keyakinan Investor Anjlok, Net Sell Deras, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
Investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko. Di sisi lain, investor asing terus mencetak net sell.
Prospek Harga Emas Pekan Ini: Geopolitik, Inflasi, hingga Bank Sentral Jadi Penentu
Arah pergerakan emas tetap sangat bergantung pada hasil berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.
Persib Bandung Mau IPO, Sepakbola Domestik Sudah Jadi Industri?
Rencana PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia belakangan ini menyedot perhatian publik.
