Menakar Kekuatan Diplomasi Indonesia di Tengah Krisis Teluk

Rabu, 22 April 2026 | 07:43 WIB
Menakar Kekuatan Diplomasi Indonesia di Tengah Krisis Teluk
[ILUSTRASI. IRAN-CRISIS/ (SOCIAL MEDIA/via REUTERS)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik yang menjadi perhatian dunia saat ini masih terus bergulir dan tengah memasuki babak baru. Amerika Serikat dan Iran berupaya mencapai sebuah kesepakatan yang jika berhasil, maka akan melahirkan gencatan senjata.

Sebaliknya, jika poin-poin persyaratan yang diajukan kedua belah pihak tidak dapat dipenuhi, maka skenario perang kembali berlanjut dan pasar energi serta turunannya akan kembali bergejolak lebih dalam.

Namun di balik rumitnya pertikaian kedua negara tersebut, diplomasi Pakistan secara senyap mampu menjembatani kedua negara. Adapun nama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan muncul sebagai pihak yang menjadi perantara antara Amerika Serikat dan Iran.

Indonesia sebelumnya juga vokal menyodorkan diri sebagai penengah antara kedua negara. Tetapi niat tersebut disambut kritik dan pesimisme dari masyarakat, Ahli Hubungan Internasional, hingga anggota DPR.

Baca Juga: Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati

Sementara melansir Aljazeera, musabab yang membuat Pakistan dipercaya menjadi perantara adalah inisiatif yang dibangunnya. Alasan pertama adalah letak geografis Pakistan yang bersebrangan langsung dengan Iran, sehingga membuat negara tersebut bisa terkena langsung dampak dari konflik dua negara.

Alasan keduanya adalah populasi muslim Syiah di Pakistan yang mencapai 15% hingga 20%. Pada saat pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan pada 28 Februari 2026 lalu, peristiwa tersebut menyulut gejolak dan aksi protes warga Pakistan dan kelompok syiah di Pakistan, tepat sehari setelah kejadian. Bahkan aksi protes keras juga berlangsung di Kedutaan Besar AS di Pakistan hingga menewaskan 10 orang.

Inisiatif Pakistan sebagai juru damai juga terlihat pada awal Maret 2026 melalui Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dalam forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Melalui forum tersebut, Ishaq Dar mengeluarkan usulan untuk menjadi mediator bagi Washington dan Teheran, serta menjamin Teheran siap menjadi lokasi aman bagi dua delegasi dalam membahas kesepakatan damai.

Dalam kurun waktu yang sama itu, niat Presiden Prabowo untuk menjadi juru damai bagi negara yang berkonflik sudah dinilai sulit terjadi.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dalam akun instagramnya @dinopatidjalal pada Minggu (1/3) pernah menjelaskan penyebabnya. Dia menilai bahwa AS jarang menerima kehadiran pihak ketiga saat melaksanakan serangan. Dino juga berpendapat bahwa AS tidak bersedia mengirim perwakilannya ke Teheran.

Selain itu, Dino melihat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran tidak terlalu erat belakangan ini. Hal itu disorot dari minimnya interaksi antara Presiden Prabowo dengan otoritas Iran, baik melalui kunjungan kenegaraan atau pertemuan negara ketiga.

Sebelumnya, Presiden Prabowo sempat dikritik di media sosial karena belum juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran tersebut. Namun, melalui surat, Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan telah menyerahkan ucapan belasungkawa Presiden melalui Duta Besar Boroujerdi.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

INDEKS BERITA

Terpopuler