Mencari Reksadana yang Rutin Mencetak Cuan

Sabtu, 24 Juni 2023 | 11:01 WIB
Mencari Reksadana yang Rutin Mencetak Cuan
[ILUSTRASI. ANALISIS - Wawan Hendrayana, Head of Investment Research Infovesta Utama]
Wawan Hendrayana | Vice President Infovesta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai investor, ketika memilih sebuah investasi reksadana bergantung kepada tujuan investasi dan horizon tujuan tersebut. Terkait dengan hal tersebut maka dasar pemilihan reksadana tidak melulu kinerja atau return sebagai indikator.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada pasar modal, salah satu faktor yang menjadi kunci dalam mencapai tujuan investasi adalah konsistensi dari manajer investasi yang bersangkutan

Dengan demikian seleksi hanya berdasarkan angka kinerja saja tanpa melihat lebih jauh  fluktuasi reksadana yang bersangkutan, justru bisa mendorong pemilihan produk yang kurang sesuai dengan profil risikonya. 

Angka return yang tinggi namun dengan standar deviasi yang tinggi juga menunjukkan berarti produk reksadana tersebut memiliki potensi risiko tinggi. Investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang lebih disarankan menempatkan dana pada reksadana yang konsisten memberikan kinerja di atas benchmark.

Dalam lima tahun terakhir kinerja pasar modal Indonesia mengalami fluktuasi. Mulai dari pandemi Covid, perang Ukraina-Rusia hingga panasnya geopolitik Amerika dan China. 

Baca Juga: The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Lanjutan, Simak Prospek Reksadana Pasar Uang

Faktor-faktor tersebut menyebabkan pasar saham hanya tumbuh sekitar 15% dalam lima tahun terakhir. Atau hanya 2,8% per tahun.Kalah jauh dibandingkan pertumbuhan investasi di obligasi negara yang rata-ratanya sekitar 34% dalam lima tahun atau sekitar 6% pertahun. 

Dengan demikian reksadana pendapatan tetap umumnya menjadi juara dalam hal konsistensi return dibanding jenis saham atau campuran. Lalu reksadana mana yang paling konsisten?

Untuk itu, investor yang berfokus pada konsistensi kinerja manajer investasi dapat menggunakan Information Ratio yang merupakan rasio pengukuran konsistensi kinerja suatu reksadana terhadap benchmark atau pembandingnya 

Semakin tinggi Information Ratio, berarti manajer investasi mampu mengalahkan kinerja indeks secara konsisten. Dan hal ini merupakan faktor yang harus dicari dalam investasi jangka panjang.

Adapun untuk mengukur reksadana pendapatan tetap akan dibandingkan dengan kinerja indeks Infovesta Government Bond Index (IGBI) yang merupakan rata-rata kinerja Surat Berharga Negara.

Untuk melihat reksadana dengan konsistensi return terbaik maka dilakukan pengamatan terhadap reksadana yang sudah berusia 5 tahun.  

Dari hasil pengamatan dapat dilihat, sepuluh reksadana di bawah ini memiliki kinerja jauh diatas indeks dengan tracking error yang relatif rendah,
Reksadana Mandiri Obligasi Utama dari PT Mandiri Manajemen Investasi menjadi reksadana dengan Information Ratio terbaik 5 tahun terakhir.

Baca Juga: Bahana TCW Lihat Peluang Menjanjikan Industri Reksadana Hingga Akhir 2023

Tracking error yang relatif rendah ini mengindikasikan bahwa sebagian besar dana reksadana diatas ditempatkan pada obligasi negara. 

Data Kinerja IGBI dan deposito sesuai suku bunga penjaminan lembaga penjamin simpanan (LPS) belum memperhitungkan pajak 10% untuk obligasi dan 20% untuk deposito sementara untuk reksadana sudah net setelah pajak. 

Dengan demikian kinerja 10 reksadana secara rata-rata sekitar dua kali lipat dibanding penempatan pada deposito.

Pada separuh kedua 2023 dan juga tahun 2024 diproyeksikan suku bunga akan cenderung stabil dan bahkan berpotensi turun jika inflasi di Amerika Serikat terkendali menuju target The Fed di 2%. 

Dengan demikian bagi investor jangka menengah saat ini memang menarik untuk fokus pada investasi berbasis obligasi karena penurunan suku bunga akan berimbas positif pada kinerja pasar obligasi.

Tentu saja hasil dari pengamatan ini dapat berubah bila periode nya bergeser dan tidak ada jaminan kinerja yang sama akan berulang. Namun dapat menjadi referensi bagi investor yang mencari kenyamanan via kinerja reksadana unggul dari sisi return, tapi secara risiko sejalan dengan pergerakan indeks dan dikelola secara konsisten oleh manajer investasinya.                             

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Pertumbuhan Bank Digital Bisa Terganjal Wacana Pemberlakuan Pajak Transaksi Digital
| Senin, 02 November 2026 | 19:44 WIB

Pertumbuhan Bank Digital Bisa Terganjal Wacana Pemberlakuan Pajak Transaksi Digital

Pungutan pajak digital yang akan mulai dijalankan 9 November dengan melibatkan bank pemerintah, hingga platform digital, bakal memberatkan.

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya
| Senin, 02 November 2026 | 18:18 WIB

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya

BPS mencatat surplus perdagangan hanya US$ 10,61 miliar pada Januari-September 2026, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2025.

Bukan Asal Terdesak, Timbang Sebelum Kuras Dana Darurat
| Senin, 02 November 2026 | 17:35 WIB

Bukan Asal Terdesak, Timbang Sebelum Kuras Dana Darurat

Simak apa saja kondisi yang membuat dana darurat layak terpakai, menurut pandangan perencana keuangan.

Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan & Transportasi Jadi Penyumbang Utama
| Senin, 02 November 2026 | 16:56 WIB

Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan & Transportasi Jadi Penyumbang Utama

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,23% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Oktober 2026.

Utang SBN Bertambah Rp 575 Triliun, Yield Tembus 7,7%, Beban Bunga APBN Membayangi
| Senin, 02 November 2026 | 16:37 WIB

Utang SBN Bertambah Rp 575 Triliun, Yield Tembus 7,7%, Beban Bunga APBN Membayangi

Posisi surat utang pemerintah meningkat Rp 575,16 triliun dalam periode Desember 2025 hingga September 2026.

Klaim Investasi di Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Kepercayaan Investor Kian Luruh
| Senin, 02 November 2026 | 11:00 WIB

Klaim Investasi di Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Kepercayaan Investor Kian Luruh

Realisasi investasi pada periode Oktober 2024–September 2026 dominan ditopang oleh eksekusi proyek-proyek warisan periode lalu.

Harga Emas dan Perak Kompak Anjlok, Prospek hingga Akhir 2026 Masih Diwarnai Tekanan
| Senin, 02 November 2026 | 08:19 WIB

Harga Emas dan Perak Kompak Anjlok, Prospek hingga Akhir 2026 Masih Diwarnai Tekanan

Peluang penguatan harga perak tetap terbuka apabila kebijakan moneter AS menjadi lebih akomodatif dan permintaan industri kembali meningkat.

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik
| Senin, 02 November 2026 | 07:51 WIB

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik

Rencana akuisisi Frisian Flag Indonesia juga berpotensi memperkuat posisi bisnis PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG
| Senin, 02 November 2026 | 07:09 WIB

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG

Peristiwa ini membuktikan OJK independen dan menjatuhkan sanksi tanpa pandang bulu, sekalipun sekuritas tersebut dimiliki  tokoh penting,

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027

Pemerintah memberikan sinyal akan melanjutkan pengetatan kontrol kuota produksi di RKAB 2027, khususnya untuk komoditas bijih nikel dan batubara

INDEKS BERITA

Terpopuler