Mencermati Prospek Bisnis dan Investasi Agro Tahun 2021

Minggu, 03 Januari 2021 | 14:05 WIB
Mencermati Prospek Bisnis dan Investasi Agro Tahun 2021
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tak ada pakar yang berani memastikan, kondisi bisnis Indonesia dan dunia 2021. China dan negara-negara Afrika memang seakan kebal pandemi. Ekonomi mereka tumbuh pesat di atas rata-rata dunia. Itu perkecualian.

Sebab sebagian besar bisnis dunia, terutama yang terkait dengan jasa transportasi, akomodasi dan konsumsi; benar-benar ambruk.

Di Indonesia, orang bilang bisnis tanaman hias booming. Buktinya ada janda bolong seharga ratusan juta rupiah per tanaman, lalu sekarang Caladium diburu hampir semua pecinta tanaman hias. Pot lenyap dari pasar. Kios tanaman dipenuhi mobil parkir. Itu benar. Tetapi ketika omzet semua pedagang tanaman ritel ini dijumlah, tak ada apa-apanya dibanding satu atau dua grosir tanaman hias. Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat; sentra perdagangan bunga nasional, sekarang senyap.

Mal, toko, restoran, hotel sudah boleh buka dengan kapasitas terbatas. Tetapi tetap saja sepi pengunjung. Orang lalu bertanya-tanya, kapan pandemi berakhir? Pandemi virus Corona akan segera berakhir setelah penduduk dunia divaksin.

Bahkan, sebenarnya dibanding Flu Spanyol 1918; pandemi 2020 sekarang ini relatif ringan. Data Worldometers sebelum Natal 2020; korban terinfeksi Covid-2019 dunia 77,5 juta; meninggal 1,7 juta, sembuh 54,4 juta. Indonesia terinfeksi 671.778, meninggal 20.085, sembuh 546.884. Flu Spanyol 1918 diperkirakan menginveksi 500 juta penduduk bumi, meninggal 20 juta-100 juta. Indonesia, yang masih bernama Hindia Belanda, awalnya diperkirakan meninggal 1,5 juta jiwa. Penelitian yang lebih baru menunjukkan korban Flu Spanyol di Jawa dan Madura, mencapai 4,37 juta jiwa. Jadi, di seluruh kawasan Hindia Belanda diperkirakan korban Flu Spanyol paling sedikit 6 juta jiwa.

Mengapa waktu itu dunia adem ayem? Karena sarana komunikasi dan informasi, masih sangat terbatas. Sekarang ini, sebenarnya orang lebih takut pada informasi, bukan pada fakta dan data.

Padahal selama pandemi dari bulan April 2020 sampai dengan Desember 2020, ternyata ada bisnis yang justru ramai dengan omset naik. Ojek sepeda motor yang pada awal pandemi dipolitisir untuk demo, ternyata justru booming. Omzet dari mengantar orang memang turun tajam. Tetapi omzet mengantar barang naik lebih tajam lagi.

Booming seperti ini juga dialami oleh perusahaan produsen masker, tisu, dan sarana sanitasi. Sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelum pandemi. PT Pos yang selama ini seperti mati suri tiba-tiba diperlukan.

Orang tetap butuh makan

Surat pos sudah hampir tak ada, sedangkan paket pos dianggap lama dan mahal. Ternyata PT Pos punya kelebihan lain. Paket yang diantar ke Kantor Pos hari ini, pasti diantar hari ini juga. Beda dengan jasa ekspedisi swasta yang kadang harus menunggu sampai barangnya cukup. Jaringan ekspedisi swasta juga tak menjangkau semua kabupaten di Indonesia. PT Pos mampu menjangkau semua kecamatan di Indonesia. Omzet mal, toko dan restoran memang turun; tetapi komoditas-komoditas tertentu, termasuk komoditas agro, justru naik tajam lewat penjualan online. Salah satunya empon-empon, terutama jahe merah.

Pertanyaan, bagaimanakah bisnis agro 2021, sulit untuk dijawab. Tetapi, orang kan tetap perlu makan? Orang yang takut keluar rumah tetap perlu beras, sayuran, buah-buahan, tempe, tahu, daging, ikan, telur, minyak goreng, cabai, bawang merah, lada, daun salam, lengkuas, sereh, teh, kopi, susu, madu, cokelat, jahe.

Tetapi harga semua komoditas itu sudah stabil. Sudah ada petaninya, sudah ada pemasoknya, dan konsumennya juga itu-itu juga. Sebenarnya konsumen komoditas agro tak bisa disebut itu-itu saja. Sebab sekarang ini sedang terjadi pergeseran dari konsumsi massal (pesta, hotel, restoran besar); ke konsumsi di tingkat rumah tangga.

Talas bogor ukuran besar yang dulunya hanya dibeli wisatawan, sekarang masuk pasar becek. Demikian pula ikan nila, gurame, daging has dalam (tenderloin); sekarang ada di pasar tradisional. Dulu komoditas itu hanya ada di restoran dan hotel bintang. Teh, kopi, dan kakao premium; terpaksa disimpan di gudang; sebab akan rugi kalau dijual sebagai teh, kopi dan kakao biasa.

Selama ini, hampir tak ada orang tertarik ke umbi-umbian dan sayuran gulma. Setelah pandemi orang bukan hanya bertanya, tetapi juga mencari bibit umbi-umbian dan gulma; untuk dibudidayakan sebagai pangan dan sayuran prestisius pesimis akan tutup.

Mereka yang optimistis, terutama yang mampu memanfaatkan dunia digital; justru akan mendapat anugerah keajaiban.

Seorang pengusaha makanan jadi, yang memasarkan produknya di warung, kolaps pada awal pandemi. Untung-untungan, ia masuk ke dunia digital, menawarkan barang di sana, dan kaget melihat hasilnya. Omzet dari online ternyata jauh lebih besar dari warung! kata dia.

Dalam suasana chaos, juga akan datang para penipu. Mereka menawarkan iming-iming investasi agribisnis (skema bagi hasil) dengan keuntungan berlipat. Jangan tergiur. Jangan pernah menyerahkan uang ke pihak lain, tanpa jaminan hukum (PT, Koperasi, Penanaman Modal).

Selain itu, tak semua obyek wisata terdampak pandemi. Wisata besar dan mapan seperti Kuta, Ubud, Malioboro, Borobudur; memang sangat terdampak. Tetapi lihatlah Dukuh Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Butuh yang mendapat julukan Nepal Van Java, justru sangat sibuk selama pandemi. Mengapa? Karena video yang dibuat dengan drone dan viral di media sosial, telah memicu wisatawan datang.

Mereka yang takut berkerumun massal, memilih tempat sepi dan dingin seperti Butuh, nun di lereng Gunung Sumbing. Tentu sambil membeli sayuran.

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA

Terpopuler