Mendorong Swasta

Senin, 22 Desember 2025 | 05:47 WIB
Mendorong Swasta
[ILUSTRASI. TAJUK - Haris Hadinata (KONTAN/Indra Surya)]
Harris Hadinata | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa waktu lalu, mungkin sekitar setengah tahun silam, di rubrik ini juga, saya pernah menceritakan pertemuan saya dengan seorang petinggi salah satu perusahaan keuangan swasta. Waktu itu, saat ditanya soal kondisi ekonomi dalam negeri, si pengusaha tersebut menjawab dengan, "Saya sekarang banyak-banyak berdoa."

Sedemikian pesimistisnya dia terhadap kondisi perekonomian dan prospek bisnisnya kala itu. Karena itu, saya cukup terkejut, ketika saya kembali bertemu dengan si petinggi perusahaan keuangan tersebut di akhir tahun ini, dia dengan semangat menceritakan soal optimisme dia terhadap kondisi ekonomi dan bisnis tahun depan.

Menurut dia, strategi pemerintah menggelontorkan banyak uang ke masyarakat, baik melalui penempatan dana SAL di bank pelat merah, atau melalui berbagai program stimulus seperti bansos, perlinsos, program magang bagi lulusan universitas baru, dan lainnya, cukup efektif. Setidaknya, menurut dia, program-program tersebut menumbuhkan optimisme masyarakat.

Sejumlah data ekonomi di akhir tahun memang menunjukkan optimisme tersebut. Big Data Bank Central Asia (BCA) mencatat, konsumsi masyarakat sejak September hingga awal Desember cenderung mengalami peningkatan.

Indeks transaksi belanja (Intrabel) BCA juga terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan terakhir. Pada pertengahan Desember ini, Intrabel bahkan melonjak 4,5% secara tahunan. BCA mencatat, belanja masyarakat di mal dan pusat perbelanjaan juga naik.

Memang, sih, tidak lantas target pertumbuhan ekonomi pemerintah bakal tercapai. Kementerian Keuangan memprediksi ekonomi di kuartal IV tumbuh sekitar 5,4% dan mencapai 5,2% sepanjang 2025. Tapi banyak lembaga memprediksi ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 5%.

Kabar baiknya, proyeksi kisaran 5% dari beberapa lembaga itu lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Jadi, banyak lembaga juga menilai ekonomi Indonesia pada dasarnya membaik. Nah, ke depan, pemerintah perlu mempertahankan momentum yang sudah tercapai ini.

Jadi harapannya, tahun depan, pemerintah harus berani belanja sejak awal tahun. Jangan lupa, saat ini ekonomi masih bergantung belanja pemerintah. Sementara sektor swasta masih belum masih belum bergerak. Kalau pemerintah bisa jaga momentum, sektor swasta juga berani menggelontorkan modal, roda ekonomi berputar kencang.

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA

Terpopuler