Menembak Asap

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:20 WIB
Menembak Asap
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partwidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai jeblok yang disalahkan guru. Begitulah cara sebagian pejabat dan influencer kita membaca usulan MSCI menurunkan Indonesia ke Standalone Market. Keputusan final belum ada, tetapi tuduhan sudah final: Singapura dalangnya.

Eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut ada tekanan agar pasar kita jatuh dan asetnya bisa dibeli murah. GIC dan Temasek tentu saja membantah, tudingan tanpa bukti tersebut. Tapi tudingan ini kadung “meledak” menjadi teori konspirasi yang renyah.

Mengikuti emosi panas, memang sedap sekali meluapkan amarah pada negara-negara tetangga dan MSCI. Padahal harusnya kita akui, bukti-bukti yang ada di meja sendiri banyak diabaikan. Coba kita luruskan beberapa hal yang menjadi salah kaprah beberapa hari ini.

Salah kaprah pertama: MSCI dianggap lawan politik. Padahal MSCI hanya penyedia indeks yang bertanya apakah pasar ini cukup transparan dan harganya cukup bisa dipercaya untuk dana global. Jawabannya sejauh ini belum. Kepemilikan saham masih ada yang belum jelas, masih ada perdagangan terkoordinasi, dan penegakan hukum minim.

Salah kaprah kedua: menerbitkan aturan dianggap sama dengan membersihkan pasar. OJK dan BEI bangga dengan keterbukaan pemilik di atas 1% dan batas free float 15%. MSCI mengakui aturannya, lalu menagih hasilnya. Kita sibuk menunjukkan “kuitansi”, sementara mereka meminta barangnya.

Salah kaprah ketiga: fundamental dijadikan tameng. Pertumbuhan dan valuasi tak menjawab siapa pemilik sebenarnya saham dan apakah harga terbentuk wajar. Berdalih ekonomi sehat saat pasar bermasalah, sama saja menjawab pertanyaan auditor dengan foto pabrik.

Yang paling aneh, teori konspirasi dilontarkan di atas temuan regulator sendiri. Sehari setelah pengumuman MSCI, OJK menjatuhkan denda Rp1,5 triliun untuk perdagangan DSSA, Rp500 miliar untuk IPO BREN, dan Rp100 miliar untuk IPO CUAN, atas manipulasi terencana dan pengaburan identitas pemesan. Jelas, penyakitnya ditemukan di lantai bursa kita sendiri.

MSCI memang layak ditanya: mengapa Indonesia langsung standalone, mengapa Turki diberi waktu hingga Juni 2027? Itu pertanyaan sah, dan jalurnya konsultasi, bukan panggung kecurigaan. Pasar tidak membayar nasionalisme, ia membayar transparansi. Selama pejabat sibuk mencari musuh, investor akan sibuk mencari pintu keluar dari negeri ini.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

SOHO Lepas Seluruh Kepemilikan Pfizer Indonesia
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:59 WIB

SOHO Lepas Seluruh Kepemilikan Pfizer Indonesia

PT Soho Global Health Tbk (SOHO) melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Pfizer Indonesia kepada Pfizer Corporation Hong Kong Limited. ​

SIDO Tebar Dividen Interim Rp 300 Miliar
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:52 WIB

SIDO Tebar Dividen Interim Rp 300 Miliar

Emiten produsen jamu dan farmasi tersebut akan menyalurkan dividen Rp 300 miliar. Setiap pemegang saham akan menerima dividen Rp 10 per saham.​

 Guyuran Duit Danantara Tak Menjamin Bursa Kembali Berjaya
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:41 WIB

Guyuran Duit Danantara Tak Menjamin Bursa Kembali Berjaya

Kucuran dana jumbo Danantara ke pasar modal belum tentu cukup menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Pembangunan Graha Lestari Indah (PGLI) Mengoptimalkan Bisnis Kuliner
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:43 WIB

Pembangunan Graha Lestari Indah (PGLI) Mengoptimalkan Bisnis Kuliner

Melihat strategi PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) dalam mengembangkan toko roti dan kue

Jumlah ISPA Imbas Karhutla Sentuh 333.470 Kasus
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:35 WIB

Jumlah ISPA Imbas Karhutla Sentuh 333.470 Kasus

Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten dan kota di tujuh provinsi terdampak kabut asap.            

Menembak Asap
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:20 WIB

Menembak Asap

Mengikuti emosi panas, memang sedap sekali meluapkan amarah pada pihak-pihak lain. Padahal, harusnya kita akui bukti-bukti di meja sendiri.

Tegaskan Pembayaran Gaji PNS Transfer Langsung
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Tegaskan Pembayaran Gaji PNS Transfer Langsung

Mekanisme transfer langsung juga diterapkan untuk tunjangan profesi guru yang masih berstatus sebagai pegawai daerah

Kenaikan Margin, Kinerja Positif AKRA Berpotensi Berlanjut
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:14 WIB

Kenaikan Margin, Kinerja Positif AKRA Berpotensi Berlanjut

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melaporkan hasil kinerja keuangan yang solid hingga akhir kuartal III-2026. 

Pemerintah Tambah Rp 400 Triliun Kuota Kredit Rakyat
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Pemerintah Tambah Rp 400 Triliun Kuota Kredit Rakyat

Penambahan palfon kredit rakyat sebesar Rp 400 triliun ini tidak akan menambah beban APBN           

Uang Melimpah, Ekonomi Belum Bergairah
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Uang Melimpah, Ekonomi Belum Bergairah

Ikuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) semakin menggunung hingga mencapai Rp 10.587,9 triliun pada September 2026,

INDEKS BERITA

Terpopuler