Menguji Ketahanan Bank di Tengah Risiko
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis perbankan tengah menapaki fase yang tidak lagi dapat direspons melalui kacamata bisnis normal. Bank tidak cukup disebut resiliensi hanya karena mampu meraih laba, mengucurkan kredit, menghimpun dana pihak ketiga (DPK) ataupun menjaga rasio keuangan pada saat business as usual. Ketahanan sesungguhnya diuji ketika risiko datang berlapis: ekonomi melambat, suku bunga tinggi, rupiah tertekan, biaya dana mahal, kualitas kredit buruk, pasar keuangan bergejolak dan nilai surat berharga turun.
Dalam situasi bisnis tersebut, maka pertanyaan terpenting tidak lagi berupa: seberapa agresif bank mampu tumbuh, akan tetapi seberapa kuat mereka mampu bertahan. Karena, krisis tidak menghantam dari satu sumber risiko. Tekanan muncul dari akumulasi risiko yang semula tampak terpisah, lalu berkelindan memperbesar dampak satu sama lain. Sebut saja kenaikan suku bunga: tidak hanya menekan biaya dana, akan tetapi juga mengakibatkan penurunan margin bunga bersih, melemahnya kemampuan bayar debitur, memburuknya kualitas kredit, turunnya nilai portofolio surat berharga, meningkatnya tekanan likuiditas, hingga berkurangnya ruang permodalan suatu bank.
