Menguji Masa Depan CNG Pengganti LPG
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang di Timur Tengah mengguncang pasar minyak dunia. Harga Brent melonjak dari kisaran US$ 70 per barel menjadi lebih dari US$ 100 per barel, naik lebih dari 50% hanya dalam beberapa minggu. Karena liquefied petroleum gas (LPG) merupakan produk turunan minyak, gejolak ini ikut mendorong harga LPG dunia naik dan menambah tekanan bagi negara‑negara pengimpor. Di tengah situasi ini, pertanyaannya sederhana namun berat: apakah Indonesia hanya akan menerima tagihan LPG impor yang makin mahal, atau berani mengubah cara dapur rumah tangga menyala dengan lebih banyak mengandalkan gas dari dalam negeri sendiri?
Selama ini, LPG 3 kilogram menjadi tulang punggung energi jutaan keluarga dan pelaku usaha kecil di Indonesia. Dalam APBN 2025, pemerintah mengalokasikan subsidi LPG 3 kg sekitar Rp 87 triliun–Rp 87,6 triliun untuk volume sekitar 8,17 juta metrik ton, menjadikannya komponen terbesar dalam subsidi energi. Untuk APBN 2026, pemerintah dan DPR menyepakati asumsi harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar US$ 70 per barel, sehingga lonjakan harga minyak di atas US$ 100 berpotensi menggelembungkan kebutuhan subsidi LPG jauh di atas rencana awal. Di sisi lain, ketergantungan pada impor LPG terus meningkat, sementara gas bumi domestik belum dimanfaatkan secara optimal.
Baca Juga: Emiten Emas Masih Berpeluang Cuan, Ini Pemicu Lonjakan Profitnya
