Meratapi Rupiah

Jumat, 24 April 2026 | 06:14 WIB
Meratapi Rupiah
[ILUSTRASI. Tedy Gumilar (KONTAN/Indra Surya)]
Tedy Gumilar | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali berdarah-darah dan mencetak rekor terendah baru. Namun, setiap kali mata uang kita anjlok, narasi klasik "kondisi global sedang tidak menentu" selalu jadi justifikasi. 

Mari kita lihat data secara objektif. Tepat sebelum transisi pemerintahan, pada penutupan pasar 18 Oktober 2024, nilai tukar rupiah di pasar spot masih relatif terkendali di Rp 15.495/USD. Pada Kamis (23/4/2026) di pasar spot, mata uang garuda sempat terkapar di Rp 17.315/USD, level yang tak pernah disentuh sejak republik ini berdiri.

Artinya, di masa pemerintahan Prabowo Subianto yang baru seumur jagung, mata uang kita telah terdepresiasi nyaris 12%.

Benar, mata uang negara tetangga seperti baht Thailand atau ringgit Malaysia juga sedang tertekan. Namun, koreksi mata uang negara-negara jiran terhadap USD, tak sampai menggiring mereka terus-terusan menyentuh rekor terburuk sepanjang sejarah seperti yang dialami rupiah. 

Pemerintah mesti berani berkaca dan mengakui, bahwa borok utamanya ada di dalam rumah sendiri. Situasi dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi semua negara di dunia menghadapinya, tak cuma Indonesia.

Pelemahan rupiah yang jauh melampaui tekanan global, menandakan adanya "diskon risiko" khusus yang diterapkan asing pada aset Indonesia. Ia buah dari kekhawatiran para investor asing terhadap cara pemerintah mengelola kas negara yang ugal-ugalan.

Pemerintah sejak awal telah menanam "bom waktu": memaksakan program raksasa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyedot APBN hingga ratusan triliun, di saat ruang fiskal sedang sangat sempit. Investor asing, terutama pengelola dana institusional, tidak percaya pemerintah bisa menambal defisit fiskal yang terus membengkak tanpa mencetak utang. Dan, faktanya memang demikian: kemampuan menarik penerimaan perpajakan, apalagi dalam kondisi lagi begini rupa, tak bisa maksimal.

Persoalan ini tak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti direktur jenderal di Kementerian Keuangan. Itu bukan solusi tapi lebih terkesan seperti mencari kambing hitam.

Depresiasi rupiah juga tak akan ampuh jika hanya diatasi dengan intervensi Bank Indonesia (BI). Sebab ia hanya serupa pereda rasa nyeri bukan pembasmi penyakit.

Dus, jika pemerintah tak jua insaf, bukan tak mungkin angka 17.315 baru sekadar terminal transit menuju kejatuhan yang lebih dalam.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Kinerja Sembilan Bulan ADHI Membaik, Sinyal Restrukturisasi Mulai Membuahkan Hasil?
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 17:08 WIB

Kinerja Sembilan Bulan ADHI Membaik, Sinyal Restrukturisasi Mulai Membuahkan Hasil?

ADHI tengah mengajukan restrukturisasi utang sekitar Rp 3 triliun melalui Master Restructuring Agreement (MRA).

DEWA Bentuk Anak Usaha Logistik, Bagaimana Potensi Kontribusinya?
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 17:00 WIB

DEWA Bentuk Anak Usaha Logistik, Bagaimana Potensi Kontribusinya?

Bisnis logistik umumnya memiliki karakteristik margin yang kompetitif dan ketat di awal akibat perang tarif antarpemain.

Menakar Rencana Empat Perusahaan Nikel China Pangkas Produksi ke Emiten Mitra
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 16:31 WIB

Menakar Rencana Empat Perusahaan Nikel China Pangkas Produksi ke Emiten Mitra

Pemerintah menyetujui revisi RKAB 2026 dengan target produksi bijih nikel 290 juta ton, lebih rendah dari realisasi 2025 sebesar 379 juta ton.

DOOH Gandeng Tiga Mitra Asal China Fokus Data Center, Ini Profil dan Risikonya
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 15:39 WIB

DOOH Gandeng Tiga Mitra Asal China Fokus Data Center, Ini Profil dan Risikonya

DOOH membidik pengembangan PLTS berkapasitas 2 gigawatt (GW) dan kampus AI data center berkapasitas hingga 1,6 GW di Jawa Barat.

SOHO Lepas Seluruh Kepemilikan Pfizer Indonesia
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:59 WIB

SOHO Lepas Seluruh Kepemilikan Pfizer Indonesia

PT Soho Global Health Tbk (SOHO) melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Pfizer Indonesia kepada Pfizer Corporation Hong Kong Limited. ​

SIDO Tebar Dividen Interim Rp 300 Miliar
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:52 WIB

SIDO Tebar Dividen Interim Rp 300 Miliar

Emiten produsen jamu dan farmasi tersebut akan menyalurkan dividen Rp 300 miliar. Setiap pemegang saham akan menerima dividen Rp 10 per saham.​

 Guyuran Duit Danantara Tak Menjamin Bursa Kembali Berjaya
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:41 WIB

Guyuran Duit Danantara Tak Menjamin Bursa Kembali Berjaya

Kucuran dana jumbo Danantara ke pasar modal belum tentu cukup menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Pembangunan Graha Lestari Indah (PGLI) Mengoptimalkan Bisnis Kuliner
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:43 WIB

Pembangunan Graha Lestari Indah (PGLI) Mengoptimalkan Bisnis Kuliner

Melihat strategi PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) dalam mengembangkan toko roti dan kue

Jumlah ISPA Imbas Karhutla Sentuh 333.470 Kasus
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:35 WIB

Jumlah ISPA Imbas Karhutla Sentuh 333.470 Kasus

Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten dan kota di tujuh provinsi terdampak kabut asap.            

Menembak Asap
| Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:20 WIB

Menembak Asap

Mengikuti emosi panas, memang sedap sekali meluapkan amarah pada pihak-pihak lain. Padahal, harusnya kita akui bukti-bukti di meja sendiri.

INDEKS BERITA

Terpopuler