Minyak itu Bahan Baku
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak kerap disederhanakan sebagai persoalan harga bahan bakar minyak (BBM). Kita tahu, BBM hanya wajah paling terlihat dari dampak yang jauh lebih luas. Minyak merupakan komoditas hulu bagi rantai produksi produk modern. Saat harganya naik, gelombangnya akan merambat ke berbagai sektor termasuk produk harian.
Sebut saja industri petrokimia, yang mengandalkan minyak sebagai bahan baku produksi plastik, kemasan, serat sintetis, hingga bahan kimia dasar. Jika harga minyak ini naik, pasti biaya produksi plastik naik. Dampaknya? Harga produk makanan dan minuman yang menggunakan kemasan akan ikut naik.
Efek berikutnya akan terjadi pada sektor logistik. Hampir semua barang melewati proses distribusi yang bergantung pada BBM. Baik BBM yang digunakan kapal, maupun BBM untuk transportasi darat. Kondisi makin sulit saat pelaku industri juga menggunakan minyak sebagai bahan bakar pabriknya.
Kenaikan biaya ini akan merembet dari pabrik, distributor, lalu ke pengecer, hingga ke konsumen. Inilah yang sering disebut sebagai imported inflation dalam konteks energi, tekanan harga yang datang dari luar, tetapi menyebar ke dalam negeri melalui rantai pasok.
Sektor pangan juga tidak kebal. Produksi pertanian modern sangat bergantung pada pupuk yang bahan bakunya berbasis energi fosil ini juga. Pun demikian dengan distribusi panennya. Saat harga energi naik, biaya produksi dan distribusi pangan akan ikut menanjak.
Bagi industri, tekanan ini menjadi lebih kompleks. Kenaikan biaya energi memaksa mereka memilih antara menaikkan harga jual atau memangkas margin. Keduanya bak buah simalakama. Jika harga naik berarti daya beli menurun, jika menurunkan margin maka bisa menghambat ekspansi, investasi, bahkan penyerapan tenaga kerja.
Memang, pemerintah berusaha menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi, namun tekanan dari sisi lain tetap berjalan, khususnya dari kenaikan harga bahan baku, ongkos produksi, dan distribusi. Artinya, kebijakan menahan harga BBM tidak sepenuhnya mengisolasi ekonomi dari dampak global.
Maka itu, respons kebijakan tidak bisa semata fokus pada harga BBM semata. Diperlukan pendekatan menyeluruh, terutama diversifikasi energi dan penguatan industri hulu agar ketergantungan pada minyak bisa dikurangi. Dan harus kita ingat adalah, minyak bahan baku dan menjadi fondasi ekonomi modern.
