Minyak Tersulut Konflik Venezuela

Sabtu, 26 Januari 2019 | 07:00 WIB
Minyak Tersulut Konflik Venezuela
[]
Reporter: Amalia Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ulah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyulut harga minyak mentah. Bahkan, pasokan minyak global diprediksi menipis dan membuat emas hitam ini bergerak dalam tren bullish.

 

Kemarin, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Maret 2019 di New York Mercantile Exchange menanjak 0,36% jadi US$ 53,32 per barel. Kenaikan mulai terjadi sejak Kamis (24/1).

 

Padahal sebelumnya minyak sudah masuk tren penurunan akibat banjir pasokan. Hal tersebut membuat harga minyak, bila dihitung sepekan terakhir, masih turun 1,33%.

 

Menurut analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengakui pimpinan oposisi Juan Guaido sebagai presiden sementara Venezuela membuat ketegangan baru di kawasan Benua Amerika.

 

Hal tersebut membuat Presiden Venezuela Nicolas Maduro berang dan memutus hubungan diplomatik dengan Negeri Paman Sam tersebut. Keadaan bertambah panas, sebab China dan Rusia mengambil posisi berada di belakang Moduro.

 

Tetapi kisruh politik di Venezuela serta perseteruannya dengan AS membuat Venezuela di ujung tanduk. Karena AS memberi sinyal bakal memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak mentah Venezuela. "Tak menutup kemungkinan AS memberlakukan sanksi ekspor minyak kepada Venezuela selaku anggota Organization of the Petroleum of Exporting Countries (OPEC)," ujar Deddy, kemarin.

 

Padahal dalam lima tahun terakhir, produksi minyak Venezuela selalu turun. OPEC merilis, pada akhir 2018 lalu, produksi minyak Venezuela hanya 1,22 juta barel per hari.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menambahkan, pelemahan dollar AS turut mengerek harga minyak mentah. Tekanan bagi the greenback muncul lantaran penghentian pemerintahan AS atau government shutdown tak kunjung kelar. "Bahkan government shutdown di AS kini sudah berlangsung 34 hari lamanya," jelas dia.

 

Namun, Deddy tetap memperingatkan potensi banjir pasokan masih menghantui harga emas hitam ini. Terlebih Department of Energy AS merilis, produksi minyak mentah Negeri Paman Sam pada pekan yang berakhir 18 Januari lalu mencapai sekitar 11,9 juta barel per hari.

 

Ini merupakan level produksi minyak AS tertinggi sepanjang masa. Hal ini membuat langkah OPEC dan Rusia memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari tampak sia-sia.

 

Deddy memprediksi harga minyak Senin (28/1) nanti bergerak di kisaran US$ 51,90–US$ 54,40 per barel. Sedang menurut Faisyal, sepekan ke depan, harga minyak bergerak dalam rentang lebar, yakni US$ 49–US$ 57 per barel.

Bagikan

Berita Terbaru

Penerimaan Negara dari Sawit Melonjak, Manfaat untuk Daerah Penghasil Masih Tersendat
| Senin, 03 Agustus 2026 | 10:15 WIB

Penerimaan Negara dari Sawit Melonjak, Manfaat untuk Daerah Penghasil Masih Tersendat

Sekitar 63% volume dan 80% nilai ekspor CPO serta produk turunannya pada 2025 berasal dari 57 perusahaan penerima fasilitas Kawasan Berikat.

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)
| Senin, 03 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)

Sentimen pasar awal pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data makro, baik dari dalam negeri maupun global. 

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:47 WIB

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mulai merasakan manfaat dari energi terbarukan. Bukan hanya mengurangi emisi GRK, sekaligus efisiensi energi.

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas

Di balik upaya menjaga pasokan energi tersebut, para pekerja pengeboran migas di sektor hulu menjadi garda terdepan.

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%

Pemulihan industri otomotif nasional juga turut mendorong peningkatan permintaan terhadap produk komponen otomotif perusahaan. 

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Apabila imbal hasil US Treasury masih terus tinggi, maka ada kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:33 WIB

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri

Kementerian Perindustrian memantau kondisi industri secara berkala guna mendeteksi potensi persoalan sejak dini.

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:31 WIB

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua

Rig pengeboran minyak PDSI 11.2 menjulang kokoh ke langit. Rig milik Pertamina EP Papua Field itu berdiri sebagai simbol eksplorasi energi negeri.

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:21 WIB

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?

Risiko domestik seperti arah kebijakan BI Rate, pergerakan rupiah, maupun sentimen eksternal, masih berpotensi menekan kinerja emiten perbankan.

History, bukan His Story
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

History, bukan His Story

Transformational leader menjadi relevan bilamana hadir tuntutan perbaikan yang begitu besar dan kebutuhan perubahan yang kuat. 

INDEKS BERITA

Terpopuler