Misteri Desil

Kamis, 20 Agustus 2026 | 06:01 WIB
Misteri Desil
[ILUSTRASI. TAJUK - Thomas Hadiwinata (KONTAN/Indra Surya)]
Thomas Hadiwinata | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Istilah desil kesekian belakangan ini tetiba menjadi pembicaraan seru di ruang publik. Awal mula terminologi yang sangat statistik itu popular adalah keinginan pemerintah membatasi penjualan pertalite, yang merupakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sampai sekarang memang belum ada keputusan atau rencana yang jelas tentang pelarangan untuk masyarakat dalam desil tertentu membeli pertalite. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sempat bilang, masyarakat di desil 9-10 sebaiknya tidak membeli pertalite.

Kebijakan untuk membatasi penyaluran barang-barang yang harganya mendapat subsidi dari pemerintah tentu bukan kebijakan yang baru. Itu juga bukan policy yang sulit diterima publik, selama ada penjelasan yang jelas dan tegas. 

Rencana pembatasan pemberian  subsidi didasarkan desil, yang merujuk ke Data Tunggal Sosial Ekonomi dan Nasional (DTSEN), memicu kegaduhan karena keterangan yang sudah tersedia saat ini masih jauh dari menjelaskan. 

Keterangan yang sudah ada masih sangat mendasar. Bahwa DTSEN merupakan cara membagi penduduk menjadi 10 kelompok. Ini tentu sesuatu yang sudah bisa ditebak karena adanya istilah desil. Lalu, kriteria desil adalah pembagian data menjadi 10 kelompok berdasarkan urutan tertentu, seperti tingkat pengeluaran dan kesejahteraan. Ada juga keterangan bahwa desil menunjukkan posisi relatif seseorang dibandingkan penduduk lain. 

Tetapi tidak ada keterangan yang cespleng menjawab pertanyaan seputar mengapa seseorang masuk desil sekian. Pertanyaan yang banyak terekam di media sosial itu, umumnya berasal dari mereka yang cemas kehilangan hak menerima bantuan dari negara, semata-mata karena mereka berada di dua desil teratas dalam DTSEN. Padahal, kondisi finansial mereka jauh dari kategori mampu.  

Mengingat penggolongan DTSEN ini punya konsekuensi ekonomi, bagi seluruh rakyat di negeri ini, sudah sewajarnya BPS, atau institusi pemerintah lain memberi penjelasan yang seterang-terangnya. Bukankah pemerintah menginginkan berbagai agenda perlindungan sosial itu tepat sasaran?

Jangan lupa, ketersediaan data yang akurat baru awal dari kegiatan penyaluran bantuan negara ke masyarakat. Setelah itu, masih ada tahap implementasi yang untuk sebagian barang subsidi, tidak kalah rumitnya. Ambil contoh, pengaturan titik penjualan elpiji 3 kg, yang sempat gaduh, awal tahun lalu.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

IHSG di Bulan September, Koreksi atau Lanjut Menguat?
| Senin, 14 September 2026 | 09:52 WIB

IHSG di Bulan September, Koreksi atau Lanjut Menguat?

Aliran modal hasil diversifikasi keluar dari aset dolar AS memicu rebalancing portofolio ke pasar SBN yang menawarkan yield menarik. 

Emiten Baja Menuai Berkah dari Kenaikan Harga Global
| Senin, 14 September 2026 | 09:39 WIB

Emiten Baja Menuai Berkah dari Kenaikan Harga Global

Tren kenaikan harga baja di pasar global mendorong pemulihan kinerja emiten di sektor tersebut pada 2026

Memburu Untung dari Bisnis Baru
| Senin, 14 September 2026 | 09:35 WIB

Memburu Untung dari Bisnis Baru

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) gencar berekspansi merambah sektor baru di luar bisnis inti

Merger BUMN Karya Jadi Jalan Terakhir Meski tak Berarti Urusan Utang Langsung Tuntas
| Senin, 14 September 2026 | 08:42 WIB

Merger BUMN Karya Jadi Jalan Terakhir Meski tak Berarti Urusan Utang Langsung Tuntas

Persoalan mulai terlihat di BUMN Karya sejak periode kedua pemerintahan Jokowi dan makin parah di era kekuasaaan Prabowo.

Selaras Citra Nusantara (SCNP) Terus Memperbaiki Kinerja di Tahun Ini
| Senin, 14 September 2026 | 08:03 WIB

Selaras Citra Nusantara (SCNP) Terus Memperbaiki Kinerja di Tahun Ini

Berdasarkan laporan keuangan pada 30 Juni 2026, SCNP mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 41,7% menjadi Rp 156,58 miliar,

Prospek Saham PTBA: Produksi 2026, Ekspansi Logistik hingga Target Laba Rp 5 Triliun
| Senin, 14 September 2026 | 08:02 WIB

Prospek Saham PTBA: Produksi 2026, Ekspansi Logistik hingga Target Laba Rp 5 Triliun

Peggunaan kereta api mengurangi paparan PTBA terhadap kondisi cuaca ketika di saat yang sama kapasitas logistik pesaing mengalami keterbatasan.

Prospek Saham AGII; Ekspansi Mulai Berbuah, tapi Risiko Profit Taking Mengintai
| Senin, 14 September 2026 | 07:45 WIB

Prospek Saham AGII; Ekspansi Mulai Berbuah, tapi Risiko Profit Taking Mengintai

AGII kini tidak hanya menyasar segmen gas untuk kebutuhan medis, tetapi juga diversifikasi ke segmen pengguna untuk industri lainnya.​

Rupiah Menanti Arah FOMC pada Senin (14/9)
| Senin, 14 September 2026 | 06:55 WIB

Rupiah Menanti Arah FOMC pada Senin (14/9)

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi diwarnai aksi wait and see pelaku pasar jelang rapat FOMC.

Pendapatan Melesat Ribuan Persen, Laba INET Melejit 340% Pada Semester I-2026
| Senin, 14 September 2026 | 06:47 WIB

Pendapatan Melesat Ribuan Persen, Laba INET Melejit 340% Pada Semester I-2026

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatat lonjakan pendapatan dan laba bersih pada semester I-2026.

Penawaran Sukuk Tuntas, SMDR Meraup Dana Segar Rp 1,75 Triliun
| Senin, 14 September 2026 | 06:44 WIB

Penawaran Sukuk Tuntas, SMDR Meraup Dana Segar Rp 1,75 Triliun

Dari target penawaran sebesar Rp 2 triliun, dana yang berhasil dihimpun PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR)  dari PUB Rp 1,75 triliun.​

INDEKS BERITA

Terpopuler