Berita HOME

Mochtar Riady: Ada Teman-Teman Menantang Saya

Sabtu, 25 Mei 2019 | 07:00 WIB

ILUSTRASI.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada 12 Mei lalu, pendiri Grup Lippo Mochtar Riady genap berusia 90 tahun. Usia tampaknya tak menjadi penghalang bagi pria kelahiran Malang, Jawa Timur, ini untuk tetap beraktivitas seperti biasa.

Mochtar masih tampak sehat dan bugar saat KONTAN menemuinya di kantornya, di  Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Lippo Karawaci, Tangerang, pada 8 Mei lalu.

Berawal dari kesuksesan sebagai bankir, Mochtar berhasil membangun sebuah kelompok usaha dengan berbagai lini bisnis, mulai dari properti, keuangan, kesehatan, pendidikan, ritel, hingga media.

Pada 2018 lalu, Forbes menempatkan Mochtar Riady dan keluarganya di peringkat ke-12 sebagai orang terkaya di Indonesia. Forbes menaksir, kekayaan Mochtar Riady dan keluarganya mencapai US$ 2,2 miliar.

Di dunia perbankan, Mochtar dikenal sebagai bankir bertangan dingin. Sepanjang 50 tahun kariernya di dunia perbankan, Mochtar telah sukses mengelola dan membesarkan lima bank di Indonesia: Bank Kemakmuran, Bank Buana, Pan Indonesia (Panin) Bank, Bank Central Asia (BCA), dan Lippo Bank.

Mochtar sering dijuluki sebagai banking doctor karena reputasinya menyelamatkan bank bermasalah. Ia tercatat menyelamatkan Bank Buana dari krisis 1965. Pada 1966, ia mengambil alih Bank Kemakmuran dan Bank Industri dan Dagang Indonesia (BIDI) yang dalam keadaan krisis. Di 1997, ia membentuk Panin Bank, sebuah bank hasil penggabungan dari Bank Kemakmuran, BIDI, dan Bank Industri Jaya.

Reputasinya sebagai bankir membuat Liem Sioe Liong atau Sudono Salim, pendiri Grup Salim, meminta Mochtar untuk memimpin satu dari dua bank miliknya, BCA dan Bank Windu Kencana. Mochtar memilih BCA. Saat itu, Mochtar sudah meninggalkan Panin Bank.

Mochtar mulai memimpin BCA sejak 1975. Saat  itu, BCA hanyalah bank kelas biasa. Saat Mochtar masuk, BCA hanya memiliki aset sebesar Rp 998 juta atau sebesar US$ 1 juta. Di BCA, Mochtar membuat berbagai gebrakan. Hanya dalam waktu enam tahun, aset BCA telah berada di urutan keenam sebagai bank perdagangan.

Pada 1991, Mochtar keluar dari BCA. Saat itu, aset BCA telah mencapai Rp 7,5 triliun atau hampir US$ 3 miliar dollar. Jumlah tersebut melonjak tiga ribu kali lipat dibandingkan aset di saat Mochtar pertama kali masuk BCA.

Mochtar memilih fokus mengelola Lippo Bank, bank hasil penggabungan antara Bank Perniagaan Indonesia (BPI) dan Bank Umum Asia. BPI merupakan bank yang didirikan oleh Hasjim Ning. Pada 1981, Mochtar membeli 49% kepemilikan saham di BPI dari Hasjim Ning.

 Pada 1989, Lippo Bank resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tercatat sebagai bank pertama yang go public. Lippo Bank juga tercatat sebagai salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Kesuksesan membesarkan BCA dan Bank Lippo inilah yang menyebabkan orang menjuluki Mochtar sebagai The Magic Man of Bank Marketing.

Lippo Bank merupakan tonggak penting bagi sejarah bisnis Grup Lippo. Dari Lippo Bank inilah, Mochtar memperoleh aset sitaan kredit macet berupa lahan di Karawaci dan Cikarang. Dari situlah, Mochtar berekspansi ke bisnis properti hingga saat ini.

Di kemudian hari, Mochtar memutuskan menjual Lippo Bank setelah sempat terhantam krisis keuangan 1997.  Pada 1998, Mochtar terpaksa harus menyerahkan mayoritas saham Bank Lippo kepada Pemerintah pasca rekapitalisasi aset bank bermasalah. Pada 2005, Mochtar resmi mundur dari Bank Lippo dan meninggalkan dunia perbankan.

Sejak lama, Mochtar juga tidak secara langsung mengelola Grup Lippo. Ia telah melimpahkan tongkat estafet kepemimpinan di Grup Lippo kepada kedua puteranya. James Riady mendapat tugas mengelola bisnis Grup Lippo di Indonesia sementara Stephen Riady bertanggung jawab mengelola bisnis Grup Lippo di luar negeri.

Namun, Mochtar juga sempat membuat kejutan saat kembali masuk ke dunia perbankan. Pada 2010 lalu, ia membeli saham Bank Nationalnobu.

Kejutan lainnya datang baru-baru ini dalam bentuk suksesi kepemimpinan di Lippo Karawaci, lengan bisnis Grup Lippo di sektor properti. Maret lalu, John Riady, putra James Riady, ditunjuk sebagai  Chief Executive  Officer (CEO) Lippo Karawaci Tbk. Penunjukan itu disebut-sebut merupakan permintaan langsung dari Mochtar.

Berikut petikan wawancara KONTAN dengan Mochtar Riady:

KONTAN: Bagaimana Anda menyiapkan suksesi kepemimpinan di Grup Lippo?

MOCHTAR: Kira-kira pada usia saya 40-an, saya menonton televisi yang menayangkan kisah mengenai ibu elang yang mendidik anaknya untuk terbang.

Ibu elang itu mengambil anaknya, mengangkat ke atas, lalu melepas anaknya. Anak elang itu jatuh ke bawah namun segera dipegang lagi oleh ibunya. Lalu, ibu elang itu kembali membawa terbang anaknya ke atas dan menjatuhkannya lagi, Begitu seterusnya hingga anaknya bisa terbang.

Video itu memberikan inspirasi kepada saya bahwa mendidik anak-anak itu seyogyanya harus demikian. Kalau  mendidik anak itu, bukannya sedikit-sedikit kita bilang jangan ini jangan itu. Justru, kita mendidik anak itu, biar you kerja. Kalau jatuh, jangan kesal. Anak-anak kita itu baru bisa mendapat pengalaman dari dia jatuh. Dia gagal, baru dia akan berkembang.

KONTAN: Inspirasi itu Anda terapkan saat mendidik generasi penerus Anda?

MOCHTAR: Contohnya John. Kita kasih tahu dia untuk pegang e-commerce. Dia bikin Mataharimall.com. Saya tahu dia banyak salah. Tapi, biar saja dia banyak salah. Barulah dia berhasil di OVO. Dia mulai dari Mataharimall.com. Saya anggap dia gagal. Nah, di OVO ini baru dia mulai ada pengalaman dan berhasil. Saya tidak yakin kalau dia langsung mulai di OVO akan langsung berhasil. Jadi, suatu keberhasilan itu selalu adalah ambil pengalaman dari kegagalan.

Selanjutnya
Halaman   1 2 3 4
Reporter: Herry Prasetyo, Narita Indrastiti, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Herry Prasetyo

IHSG
6.236,69
0.28%
17,26
LQ45
985,92
0.27%
2,68
USD/IDR
14.100
0,57
EMAS
753.000
0,00%

Baca juga