KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat tengah harap-harap cemas menanti kabar. Tapi, bukan kabar soal calon menteri ya; melainkan kabar dari bank atau agen penjual lain tempat mereka memesan obligasi negara ritel (ORI). Pemerintah memang tengah menawarkan seri ORI26 dengan target Rp 25 triliun. Penawaran berakhir 24 Oktober mendatang.
Diam-diam, Surat Berharga Negara (SBN), termasuk ORI, memang telah menjadi instrumen investasi favorit. Saban bulan, masyarakat melakukan pembelian bersih (net buy) SBN tak kurang dari Rp 5 triliun di pasar sekunder; dan jika ditotal, net buy investor ritel di semua pasar hampir Rp 83 triliun sepanjang tahun ini.
Dengan animo setinggi itu, jangan kaget jika per akhir September lalu, kepemilikan SBN investor ritel telah mencapai sekitar Rp 500 triliun atau hampir 9% dari total nilai SBN yang beredar. Ini angka yang sangat besar jika dibandingkan 10 tahun lalu yang hanya sekitar Rp 60 triliun atau 5%.
Obligasi pemerintah seri eceran memang menawarkan bunga wangi. Tahun ini, pemerintah telah enam kali menerbitkan SBN ritel dengan bunga 6,25% hingga 6,6%. Ini lebih menarik dari bunga deposito bank. Sudah begitu, keamanannya juga terjamin karena diterbitkan pemerintah. Konsistensi pemerintah dalam menerbitkan obligasi jenis ini juga menawarkan keleluasaan bagi investor untuk menukar ORI mereka yang jatuh tempo dengan seri baru.
Kondisi pasar obligasi dalam negeri yang meriah ini merupakan modal sangat berharga bagi pemerintahan baru. Prabowo-Gibran bakal membutuhkan banyak dana untuk mewujudkan program-program andalannya seperti swasembada pangan, swasembada energi, hilirisasi, peningkatan gizi, dan pengentasan kemiskinan.
Dalam APBN yang telah disahkan, pemerintahan baru menganggarkan total belanja sebesar Rp 3.621 triliun. Belanja itu sebagian besar akan dibiayai dengan penerimaan dari pajak dan bukan pajak serta sekitar Rp 616 triliun dengan pembiayaan atau utang. Nah, tentu, pengelolaan utang pemerintah lebih mudah di saat animo masyarakat domestik untuk membeli SBN meningkat pesat. Sejak 2022, pasar selalu mampu menyerap terbitan SBN ritel di atas Rp 100 triliun per tahun.
Semakin tinggi kepemilikan investor domestik pada SBN juga menciptakan pasar surat utang yang lebih stabil. Mereka menjadi penyeimbang investor asing yang sering keluar-masuk pasar SBN mengikuti kondisi ekonomi dunia dan pasar finansial global.
