Mulai Atur Bisnis Properti, China Batasi Pertumbuhan Tarif Sewa Rumah di Perkotaan

Rabu, 01 September 2021 | 11:43 WIB
Mulai Atur Bisnis Properti, China Batasi Pertumbuhan Tarif Sewa Rumah di Perkotaan
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Seorang warga bersepeda melintas di depan proyek konstruksi properti di kawasan pusat bisnis Beijing, China, 18 Januari 2019. REUTERS/Jason Lee/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Penyewaan rumah menjadi bisnis terakhir yang tertekan kebijakan Pemerintah China. Beijing menyatakan tarif sewa rumah di kawasan perkotaan tidak boleh naik lebih dari 5% per tahun. Ini merupakan langkah pertama China untuk membatasi harga sewa, dan merupakan bagian dari upaya negeri itu untuk menyediakan perumahan dengan biaya yang lebih terjangkau.

Pemerintah China menjadikan nasib orang-orang yang berpenghasilan rendah sebagai pertimbangan utama dalam perumusan kebijakan baru-baru ini. Presiden Xi Jinping berjanji untuk mempersempit kesenjangan kekayaan, dalam upaya untuk mencapai apa yang disebut “kemakmuran bersama.”

Baca Juga: Indeks manufaktur China kontraksi di Agustus 2021, pertama kali sejak April 2020

Biaya sewa rumah di kota-kota besar telah melonjak selama musim panas, sebagai buntut dari arus masuk para warga muda, lulusan perguruan tinggi yang mencari pekerjaan. Beijing dan Shenzhen mulai menerapkan langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan properti sewaan di tahun ini.

"Warga kota baru dan orang muda telah bekerja untuk waktu yang relatif singkat dan memiliki pendapatan kecil, sehingga kemampuan mereka untuk membeli rumah dan membayar sewa lemah," kata Wakil Menteri Perumahan Ni Hong, Selasa (31/8).

“Di kota-kota besar, 70% penduduk baru dan kaum muda menyewa rumah, tetapi rumah yang lebih terjangkau lebih terpencil dan properti di lokasi yang lebih diinginkan lebih mahal, menimbulkan kesulitan praktis,” kata Ni dalam konferensi pers seputar kebijakan pembatasan tarif sewa yang diterbitkan Kementerian Perumahan.

Baca Juga: Industri manufaktur di Asia kembali tertekan

Dalam beberapa bulan terakhir, kota-kota besar telah mengeluarkan rancangan aturan sewa rumah yang berupaya melindungi hak penyewa dengan lebih baik, termasuk larangan tuan tanah mengumpulkan lebih dari yang setara dengan uang sewa sebulan dalam bentuk deposito.

Pihak berwenang juga akan menindak praktik penyalahgunaan, seperti pemberlakuan sewa yang terlalu mahal, oleh perusahaan real estat dan platform properti online.

Aturan tersebut merupakan bagian dari pembersihan pasar properti selama tiga tahun ke depan untuk menyingkirkan apa yang digambarkan pemerintah sebagai penyimpangan yang telah memicu spekulasi dan menaikkan harga rumah.

Selanjutnya: Mayoritas Anggota Parlemen Korea Selatan Menyetujui RUU Berjuluk Hukum Anti-Google

 

Bagikan

Berita Terbaru

Kekalahan Republik di Pemilu Sela AS Mendorong Ekspektasi Harga Minyak Akan Mendingin
| Jumat, 06 November 2026 | 12:45 WIB

Kekalahan Republik di Pemilu Sela AS Mendorong Ekspektasi Harga Minyak Akan Mendingin

Ketidakpastian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.

Risiko Premium Melonjak, Waspada Gelombang Tekanan Pendanaan Korporasi Jelang 2027
| Jumat, 06 November 2026 | 10:55 WIB

Risiko Premium Melonjak, Waspada Gelombang Tekanan Pendanaan Korporasi Jelang 2027

Alternatif pembiayaan bagi korporasi selain obligasi juga tidak mudah didapat dan biayanya belum tentu lebih murah.

Bedah IPO ANDA: dari Profil Bisnis, Kinerja Keuangan, Hingga Perhitungan Valuasi
| Jumat, 06 November 2026 | 09:38 WIB

Bedah IPO ANDA: dari Profil Bisnis, Kinerja Keuangan, Hingga Perhitungan Valuasi

Selain batubara, mulai tahun ini PT Andalan Artha Primanusa Tbk (ANDA) mulai merambah bisnis jasa pertambangan nikel.

IMC Pelita Logistik (PSSI) Bagikan Saham Bonus
| Jumat, 06 November 2026 | 09:27 WIB

IMC Pelita Logistik (PSSI) Bagikan Saham Bonus

Aksi korporasi ini telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 28 Oktober 2026.​

Penjualan Tumbuh, Kepulan Laba Emiten Rokok Masih Tebal
| Jumat, 06 November 2026 | 09:17 WIB

Penjualan Tumbuh, Kepulan Laba Emiten Rokok Masih Tebal

Mayoritas emiten rokok berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih di sepanjang sembilan bulan tahun 2026.

Bedah Prospek HRUM: Lonjakan Laba, Beban Sulfur, Tekanan MHP, dan Rekomendasi Saham
| Jumat, 06 November 2026 | 09:11 WIB

Bedah Prospek HRUM: Lonjakan Laba, Beban Sulfur, Tekanan MHP, dan Rekomendasi Saham

Pada kuartal IV-2026, PT Harum Energy Tbk (HRUM) diproyeksikan mulai menanggung beban harga pasar sulfur secara penuh.

Rogoh Kocek Rp 150 Miliar, ISSP Rancang Aksi Buyback
| Jumat, 06 November 2026 | 09:10 WIB

Rogoh Kocek Rp 150 Miliar, ISSP Rancang Aksi Buyback

Lewat buyback, emiten produsen pipa baja memperkirakan dapat membeli 250 juta saham atau setara 3,48% dari total saham yang telah diterbitkan.​

PANI Meraih Marketing Sales Rp 3 Triliun Per September 2026
| Jumat, 06 November 2026 | 09:05 WIB

PANI Meraih Marketing Sales Rp 3 Triliun Per September 2026

Penjualan ditopang segmen residensial yang menyumbang lebih dari separuh total prapenjualan perusahaan.​

Saham Perbankan Menyetir Arah IHSG
| Jumat, 06 November 2026 | 09:00 WIB

Saham Perbankan Menyetir Arah IHSG

Sejak saham terkonsentrasi dikecualikan, trio saham bank besar menguasai bobot Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Laba DMAS dan SSIA Meroket, KIJA Tertekan: Bedah Prospek Emiten Kawasan Industri
| Jumat, 06 November 2026 | 08:27 WIB

Laba DMAS dan SSIA Meroket, KIJA Tertekan: Bedah Prospek Emiten Kawasan Industri

DMAS tercatat sebagai emiten yang paling terekspos terhadap euforia pertumbuhan industri data center.

INDEKS BERITA

Terpopuler