Nasib Apes GOTO

Kamis, 23 Juli 2026 | 06:10 WIB
Nasib Apes GOTO
[ILUSTRASI. Tedy Gumilar (KONTAN/Indra Surya)]
Tedy Gumilar | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah yang unpredictable sangat dibenci pelaku usaha. Aturan yang bisa mendadak berubah membuat perhitungan risiko keuangan buyar serta strategi bisnis yang telah disusun hancur berantakan. Ini berujung pada satu hal yang krusial; terkikisnya kepercayaan terhadap pemerintah. 

Sayangnya, ini terjadi di negara kita, dan korbannya tak cuma pengusaha. Tengok saja nasib ratusan ribu pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang kini di ujung tanduk. Ujian bertubi-tubi datang, dan yang sama beratnya bakal menjelang. Bukan akibat salah urus manajemen perusahaan tapi mereka korban kebijakan.

Selang beberapa hari setelah GOTO mengumumkan pencapaian laba bersih pertama kali dalam sejarah, Prabowo Subianto berpidato. Di depan ribuan buruh saat peringatan Hari Buruh, ia mengumumkan potongan aplikator ride hailing dipangkas dari 20% jadi 8%. 

Lewat pidato, tanpa diskusi lebih dulu, apalagi proses rule making rule. Konon, payung hukumnya adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online dan diteken Prabowo pada 1 Mei 2026. Berlaku sejak 1 Juli 2026 tapi sampai saat ini naskah aturannya tak tersedia secara publik.

Yang terhenyak bukan hanya manajemen GOTO. Begitu perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka pada Senin, 4 Mei 2026, reaksi pasar langsung terlihat. Dus, sampai detik ini, saham GOTO terjerembab di harga gocap dan tak pernah bangun lagi.

Pukulan berikutnya, bulan depan, GOTO terancam didepak dari MSCI Global Standard Indexes karena likuiditasnya yang rendah. Sejak harganya jadi gocap, nilai transaksi harian saham GOTO memang anjlok parah. Kerap kurang dari Rp 1 miliar, padahal sebelumnya bisa ratusan miliar hingga triliunan rupiah per hari.

Saban hari, ratusan juta saham antre jual di harga Rp 50. Banyak yang ingin keluar, sebagian dalam posisi rugi. Namun, yang menampung tak seberapa jumlahnya. Kalau sampai GOTO jadi dikeluarkan dari MSCI, tak terbayangkan bakal seperti apa antrean jualnya.

Nasib apes aplikator ride hailing seperti Gojek, Grab, dan Maxim kembali mengajarkan satu hal. Pelaku usaha boleh saja menciptakan jutaan lapangan kerja baru, sesuatu yang sulit dilakukan pemerintah. Namun di negeri ini, segala sesuatunya bergantung pada kepentingan, selera, dan pidato.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA

Terpopuler