Nasib Apes GOTO
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah yang unpredictable sangat dibenci pelaku usaha. Aturan yang bisa mendadak berubah membuat perhitungan risiko keuangan buyar serta strategi bisnis yang telah disusun hancur berantakan. Ini berujung pada satu hal yang krusial; terkikisnya kepercayaan terhadap pemerintah.
Sayangnya, ini terjadi di negara kita, dan korbannya tak cuma pengusaha. Tengok saja nasib ratusan ribu pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang kini di ujung tanduk. Ujian bertubi-tubi datang, dan yang sama beratnya bakal menjelang. Bukan akibat salah urus manajemen perusahaan tapi mereka korban kebijakan.
Selang beberapa hari setelah GOTO mengumumkan pencapaian laba bersih pertama kali dalam sejarah, Prabowo Subianto berpidato. Di depan ribuan buruh saat peringatan Hari Buruh, ia mengumumkan potongan aplikator ride hailing dipangkas dari 20% jadi 8%.
Lewat pidato, tanpa diskusi lebih dulu, apalagi proses rule making rule. Konon, payung hukumnya adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online dan diteken Prabowo pada 1 Mei 2026. Berlaku sejak 1 Juli 2026 tapi sampai saat ini naskah aturannya tak tersedia secara publik.
Yang terhenyak bukan hanya manajemen GOTO. Begitu perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka pada Senin, 4 Mei 2026, reaksi pasar langsung terlihat. Dus, sampai detik ini, saham GOTO terjerembab di harga gocap dan tak pernah bangun lagi.
Pukulan berikutnya, bulan depan, GOTO terancam didepak dari MSCI Global Standard Indexes karena likuiditasnya yang rendah. Sejak harganya jadi gocap, nilai transaksi harian saham GOTO memang anjlok parah. Kerap kurang dari Rp 1 miliar, padahal sebelumnya bisa ratusan miliar hingga triliunan rupiah per hari.
Saban hari, ratusan juta saham antre jual di harga Rp 50. Banyak yang ingin keluar, sebagian dalam posisi rugi. Namun, yang menampung tak seberapa jumlahnya. Kalau sampai GOTO jadi dikeluarkan dari MSCI, tak terbayangkan bakal seperti apa antrean jualnya.
Nasib apes aplikator ride hailing seperti Gojek, Grab, dan Maxim kembali mengajarkan satu hal. Pelaku usaha boleh saja menciptakan jutaan lapangan kerja baru, sesuatu yang sulit dilakukan pemerintah. Namun di negeri ini, segala sesuatunya bergantung pada kepentingan, selera, dan pidato.
