Nasib Bursa Kita

Sabtu, 22 Juni 2024 | 08:00 WIB
Nasib Bursa Kita
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak pandemik Covid 19 mencengkeram warga dunia ini, ada banyak sekali praktik perdagangan dan berbagai aspek perekonomian yang berubah, termasuk berinvestasi. Sebelum Covid, tak pernah ada yang membayangkan, investor Indonesia  mencapai angka 12,9 juta di Mei 2024.

Pasalnya, jumlah investor kita baru 1 juta di 2017 dan hanya ada 2,45 juta investor di 2019. Lompatan investor justru terjadi di masa-masa Covid -19. 

Di masa Covid mungkin kita sering melihat status Facebook atau IG orang yang memamerkan portofolio sahamnya yang naik kencang. Bursa saham yang sebelumnya hanya dihuni para investor dengan paham fundamental atau teknikal, mulai didatangi para pemain saham.

Pemain saham yang datang, kadang hanya karena ikut-ikutan dan tergiur melihat cuan teman, saudara, atau tetangganya.

Pasar saham yang semakin ramai menjadi ajang mencari untung banyak orang, dengan jurusnya masing-masing.

Ada yang tetap di jalur analisis fundamental, ada juga analisis teknikal, money flow, bandarmology, dan ada juga investor yang mengikuti petunjuk para influencer. Investor jenis ini membayar klub-klub saham untuk bisa mendapatkan contekan saham yang akan naik di hari itu.

Semua investor berbahagia saat indeks saham, IHSG naik dari 3.900-an ke 7.300-an. Ibarat pasar induk yang sedang ramai didatangi para pembeli dan penjual, BEI pun menggenjot pasokan emitennya. Mulai dari pengusaha UKM sampai perusahaan decacorn seeperti GOTO ikut melantai di BEI.

Tapi sejak April 2022, pasar saham kita seolah tak mau bergerak, bahkan cenderung terus melorot. Para investor pun mulai berguguran dan banyak yang hengkang mencari investasi lain yang lebih prospektif. Tak banyak investor saham di BEI mengaku tetap mendapat banyak cuan walau sudah menjalankan jurus pamungkas mereka. 

Para penikmat cuan di bursa kita hanyalah orang-orang yang bisa menebak arah angin niat para pemilik perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa. Bursa Efek Indonesia yang seharusnya menjadi wasit  malah tidak banyak bergerak membela kepentingan investor.

Di masa ekonomi yang sulit ini, seharusnya pasar saham benar-benar bisa menjadi tempat untuk mendapatkan dana murah dan menumbuhkan perekonomian negeri.  Kalau saja integritas hilang dan para otoritas terus "bermain-main" maka tak akan ada lagi investor yang tetap tinggal

Bagikan

Berita Terbaru

Dilema Kebijakan Nikel, Antara Ambisi Mengendalikan Harga dan Risiko Smelter Mangkrak
| Kamis, 15 Januari 2026 | 10:00 WIB

Dilema Kebijakan Nikel, Antara Ambisi Mengendalikan Harga dan Risiko Smelter Mangkrak

Demi bisa bertahan di tengah pemangkasan produksi bijih nikel, impor terutama dari Filipina bakal melonjak.

Saat Dolar Amerika Perkasa, Mata Uang Kawasan Asia Merana
| Kamis, 15 Januari 2026 | 08:13 WIB

Saat Dolar Amerika Perkasa, Mata Uang Kawasan Asia Merana

Pergerakan valas Asia 2026 sangat dipengaruhi prospek kebijakan suku bunga Fed, geopolitik, kebijakan tarif dan arah kebijakan luar negeri AS.

Lagi, Intervensi BI Selamatkan Rupiah dari Rp 17.000, Hari Ini Melemah Atau Menguat?
| Kamis, 15 Januari 2026 | 08:02 WIB

Lagi, Intervensi BI Selamatkan Rupiah dari Rp 17.000, Hari Ini Melemah Atau Menguat?

Intervensi Bank Indonesia (BI) menahan pelemahan lanjutan rupiah. Aksi intervensi setelah pelemahan mendekati level psikologis Rp 17.000.

Harga Saham Emiten Kawasan Industri Kompak Menguat, Pilih KIJA, DMAS atau SSIA?
| Kamis, 15 Januari 2026 | 08:00 WIB

Harga Saham Emiten Kawasan Industri Kompak Menguat, Pilih KIJA, DMAS atau SSIA?

Relokasi industri dari Asia Timur serta meningkatnya permintaan terhadap produk manufaktur bernilai tambah tinggi membuka peluang bagi Indonesia.

Masa Rawan Tiba, Long Weekend Setelah ATH Berpotensi Terjadi Profit Taking
| Kamis, 15 Januari 2026 | 07:52 WIB

Masa Rawan Tiba, Long Weekend Setelah ATH Berpotensi Terjadi Profit Taking

 Namun perlu diwaspadai terjadinya aksi profit taking pada perdagangan Kamis (15/1), menjelang long weekend.

Setelah Menyerap Hampir Rp 2 Triliun, ASII Stop Buyback, Apa Dampaknya ke Harga?
| Kamis, 15 Januari 2026 | 07:37 WIB

Setelah Menyerap Hampir Rp 2 Triliun, ASII Stop Buyback, Apa Dampaknya ke Harga?

Jika mengacu  jadwal awal, periode pembelian kembali saham berakhir pada 30 Januari 2026. ASII melaksanakan buyback sejak 3 November 2025.  

Hore, Bank Mandiri Siap Bagi Dividen Interim, Jumlahnya Mendekati Rp 10 Triliun
| Kamis, 15 Januari 2026 | 07:14 WIB

Hore, Bank Mandiri Siap Bagi Dividen Interim, Jumlahnya Mendekati Rp 10 Triliun

Pembagian dividen interim ini konsistensi Bank Mandiri dalam memberikan nilai optimal bagi para pemegang saham. 

Bayer Indonesia Investasi Fasilitas Produksi dan R&D
| Kamis, 15 Januari 2026 | 07:12 WIB

Bayer Indonesia Investasi Fasilitas Produksi dan R&D

Bayer meresmikan peningkatan fasilitas produksi Multiple Micronutrient Supplement (MMS) dan pengembangan fasilitas R&D dengan investasi € 5 juta.

Menimbang Risiko dan Peluang EXCL Mengarungi Tahun 2026 Pasca Merger
| Kamis, 15 Januari 2026 | 07:01 WIB

Menimbang Risiko dan Peluang EXCL Mengarungi Tahun 2026 Pasca Merger

Memasuki tahun 2026, ketika biaya integrasi mulai berkurang, kinerja EXCL diperkirakan akan kembali positif.

Penambang Perlu Siasati Peta Pasar Ekspor
| Kamis, 15 Januari 2026 | 06:54 WIB

Penambang Perlu Siasati Peta Pasar Ekspor

Para penambang akan mendorong perlunya strategi adaptif yang diterapkan pada sektor tambang batubara dalam negeri.

INDEKS BERITA

Terpopuler