Negara Eropa Isyaratkan Akan Kompak Menolak Tuntutan Membayar Gas dalam Rubel

Sabtu, 02 April 2022 | 15:46 WIB
Negara Eropa Isyaratkan Akan Kompak Menolak Tuntutan Membayar Gas dalam Rubel
[ILUSTRASI. Ilustrasi jaringan pipa gas berlatar belakang logo Gazprom dan bendera Rusia, 8 Februari 2022. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - LONDON. Negara-negara Eropa berjanji untuk bersama-sama menolak permintaan Rusia agar mereka membayar pasokan gas dalam rubel. Komitmen itu muncul dengan meredanya ancaman Rusia melakukan penghentian pasokan secara seketika pada Jumat.

Ibukota di berbagai negara Eropa bersiap menghadapi gangguan pasokan gas di saat Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya membalas sanksi Barat sehubungan dengan invasi negerinya ke Ukraina. Beberapa pembeli dan pemerintah sedang mencari cara untuk membayar gas dalam rubel karena Moskow dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan momok pemotongan pasokan gas jika persyaratan pembayarannya tidak terpenuhi.

Dengan beberapa minggu tersisa sebelum tagihan jatuh tempo, pemerintah di Eropa, yang bergantung pada Rusia untuk lebih dari sepertiga gasnya, berbicara dengan perusahaan energi tentang permintaan Rusia.

Namun, Komisi Eropa pada Jumat mengatakan bahwa mereka yang memiliki kontrak yang mengharuskan pembayaran dalam euro atau dolar, berpeluang untuk memanfaatkan kesepakatan tersebut.

Baca Juga: China Tidak Bermaksud Membantu Rusia Menyiasati Sanksi dari Negara-Negara Barat

"Kontrak yang disepakati harus dihormati. Sebanyak 97% dari kontrak yang relevan secara eksplisit menetapkan pembayaran dalam euro atau dolar. Perusahaan dengan kontrak semacam itu tidak boleh menyetujui permintaan Rusia," kata juru bicara Komisi Eropa. "Uni Eropa akan menanggapi secara terpadu upaya terbaru Rusia untuk menghindari sanksi kami," kata juru bicara itu.

Kremlin mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya tidak akan segera mematikan keran ke Eropa karena pembayaran atas pengiriman yang jatuh tempo setelah 1 April datang pada paruh kedua bulan ini dan Mei.

Pesan itu, dan tanda-tanda Eropa akan mengambil pendekatan pragmatis, melegakan pasar. Harga gas yang sempat naik karena kekhawatiran gangguan, kembali melandai.

"Jika keadaan tetap seperti ini, secara keseluruhan tidak banyak yang akan berubah," kata Menteri Transisi Ekologi Italia Roberto Cingolani kepada penyiar RAI.

Baca Juga: AS Ungkap Rencana Penjualan Strategis, Berlangsung Enam Bulan Sejak Mei

Pada hari Kamis, Moskow memutuskan bahwa pembeli asing gas Rusia harus membuka rekening rubel di Gazprombank yang dikelola negara mulai Jumat. Atau, mereka menghadapi risiko pemutusan pasokan.

Analis mengatakan rencana pembayaran rubel, yang memperkuat posisi Gazprom di jantung perdagangan gas Rusia, lebih tentang melindungi perusahaan minyak dan gas dari sanksi masa depan daripada merampas bahan bakar Eropa.

Gazprombank telah terhindar dari sanksi keras yang dikenakan pada bank Rusia lainnya. Jadi, pembeli gas Eropa dapat membuka rekening di bank tersebut, dan membiarkan bank tersebut membeli rubel atas nama mereka. Itu harus tetap tidak disetujui agar perdagangan terus berlanjut.

Meskipun ekspor energi merupakan kartu as Putin untuk melawan sanksi Barat, ruangnya untuk bermanuver juga terbatas. Moskow tidak memiliki pasar alternatif untuk gasnya, yang kini diserap Eropa. "Jika Putin mematikan gas, mungkin hanya untuk waktu yang relatif singkat. Dia membutuhkan uang kita dan tidak dapat mengalihkan semua gas alam," kata seorang pedagang gas Eropa.

Sementara itu, Jerman mengatakan sedang memeriksa keputusan Putin. Seorang juru bicara kementerian ekonomi mengatakan kontrak swasta sah dan bahwa negara, yang bergantung pada Rusia untuk 40% dari kebutuhan gasnya, membayar dalam euro.

Berlin telah mengaktifkan rencana darurat yang dapat menyebabkan penjatahan gas jika pasokan turun drastis. Gazprom mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya keluar dari bisnisnya di Jerman, meskipun tidak segera jelas bagaimana hal ini akan mempengaruhi pasokan gas Rusia ke ekonomi terbesar Eropa.

Tuntutan Putin agar Eropa membayar gas dalam rubel mendorong mata uang negeri itu, yang jatuh ke posisi terendah bersejarah pada awal invasi, untuk bangkit. Bahkan, rubel mampu menutup kerugian yang ia derita sebelumnya.

Pembeli Eropa masih siap untuk membeli gas berdasarkan kontrak yang ada sementara mereka mencari kejelasan tentang permintaan Putin. Gazprom mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya telah mulai memberi tahu klien tentang permintaan pengalihan mata uang pembayaran akhir ke rubel.

Baca Juga: Wall Street Kompak Melemah, Indeks Saham Cetak Kinerja Kuartalan Terburuk Sejak 2020

OMV Austria dan Gazprom telah memiliki kontak awal mengenai pembayaran gas dalam rubel seperti yang diminta oleh Moskow, juru bicara OMV mengatakan pada hari Jumat. Ia menambahkan bahwa perusahaan sekarang menunggu informasi tertulis.

Orsted Denmark, yang memiliki kontrak take-or-pay dengan Gazprom yang berjalan hingga 2030, mengatakan telah menerima permintaan dari Gazprom Export untuk membayar pasokan gas dalam rubel.

"Kami tidak berniat membayar dalam rubel. Kami sedang dalam dialog erat dengan perusahaan energi lain dan pihak berwenang mengenai tanggapan umum Eropa terhadap Ekspor Gazprom," katanya dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan gas dominan Polandia mengatakan telah diberitahu secara resmi oleh Gazprom tentang perubahan syarat pembayaran untuk pasokan gas.

Baca Juga: Ini Pergerakan Harga Sejumlah Koin Kripto dengan Market Cap Besar di Pekan Ini

Utilitas Jerman Uniper, RWE dan VNG semuanya menolak berkomentar. Grup energi Italia Edison, yang memiliki kontrak dengan Gazprom untuk 1 bcm gas per tahun yang berakhir pada akhir tahun ini, juga tidak berkomentar.

Eni dari Italia mengatakan telah menerima komunikasi dari Gazprom untuk mengalihkan mata uang pembayaran gasnya ke rubel, dan sedang menganalisis masalah tersebut.

Harga gas Eropa telah naik sebagai akibat dari ketidakpastian atas rencana Putin, dengan kenaikan 7% -10% sejak pesanannya, mendekati puncak sebelumnya.

Lega bahwa keran tidak akan dimatikan dalam waktu dekat mendorong harga untuk berubah negatif. Pada Sabtu 00.15 WIB, kontrak patokan bulan depan untuk pengiriman Mei di pasar gas Belanda turun 9,37 euro pada 111,45 euro per megawatt hour (MWh).

Bagikan

Berita Terbaru

Kinerja Apik Awal Tahun, Jadi Motor Pendorong AKRA Sepanjang 2026
| Kamis, 30 April 2026 | 02:12 WIB

Kinerja Apik Awal Tahun, Jadi Motor Pendorong AKRA Sepanjang 2026

Laporan kinerja keuangan yang positif di awal tahun ini seakan selaras pula dengan pergerakan harga saham AKRA yang juga terus menanjak.

Gejolak Geopolitik Mengancam, Momentum Emas bagi RI Akselerasi Pendanaan Hijau
| Rabu, 29 April 2026 | 17:55 WIB

Gejolak Geopolitik Mengancam, Momentum Emas bagi RI Akselerasi Pendanaan Hijau

British International Investment (BII) meluncurkan inisiatif British Climate Partners (BCP) senilai £1,1 miliar.

Tren Aksi Korporasi Asia Tenggara lebih Selektif di 2025, Regulasi Jadi Penyebabnya
| Rabu, 29 April 2026 | 17:00 WIB

Tren Aksi Korporasi Asia Tenggara lebih Selektif di 2025, Regulasi Jadi Penyebabnya

Tingginya biaya pendanaan serta kesenjangan valuasi antara pembeli dan penjual membuat realisasi transaksi skala besar menjadi lebih menantang.

BBNI Diakumulasi Asing di Tengah Tekanan Sektor, Sekadar Rebound atau Awal Tren?
| Rabu, 29 April 2026 | 16:00 WIB

BBNI Diakumulasi Asing di Tengah Tekanan Sektor, Sekadar Rebound atau Awal Tren?

Valuasi yang murah ini mulai menarik minat asing. Apalagi ada aksi buyback yang memberi sinyal manajemen melihat harga saham saat ini undervalued.

Ancaman Inflasi Global: Nasib Dolar AS di Pusaran Konflik Timur Tengah
| Rabu, 29 April 2026 | 15:39 WIB

Ancaman Inflasi Global: Nasib Dolar AS di Pusaran Konflik Timur Tengah

Indeks dolar AS stabil di 98,6, namun pasar bersiap untuk pertemuan Federal Reserve. Apakah ini sinyal beli atau justru peringatan?

Melihat Kinerja dan Masa Depan WIFI Pasca Masuk Indeks LQ45
| Rabu, 29 April 2026 | 15:30 WIB

Melihat Kinerja dan Masa Depan WIFI Pasca Masuk Indeks LQ45

Keberadaan WIFI di indeks membuka akses bagi dana asing dan meningkatkan eksposur investor institusi global. Masuk LQ45.

Tertekan Aksi Jual Asing, Tenaga IHSG Masih Terbatas
| Rabu, 29 April 2026 | 14:55 WIB

Tertekan Aksi Jual Asing, Tenaga IHSG Masih Terbatas

Aksi jual asing dan pelemahan rupiah menekan IHSG. Analis proyeksikan pergerakan terbatas hari ini, cari tahu potensi rebound dan resistance.

Harga Bahan Baku Turun, Laba Bersih Mayora (MYOR) Mendaki
| Rabu, 29 April 2026 | 14:39 WIB

Harga Bahan Baku Turun, Laba Bersih Mayora (MYOR) Mendaki

Profitabilitas MYOR membaik signifikan, margin laba bersih mencapai 10,1%. Simak rekomendasi saham dari analis

Saham Transportasi Terbang Tinggi, Intip Risiko yang Membayangi
| Rabu, 29 April 2026 | 14:34 WIB

Saham Transportasi Terbang Tinggi, Intip Risiko yang Membayangi

Saham transportasi melesat tinggi, namun tak selalu didukung fundamental. Analis ingatkan risiko profit taking, jangan sampai terjebak koreksi.

Ada Insentif Fiskal, Reksadana Bisa Mekar
| Rabu, 29 April 2026 | 14:14 WIB

Ada Insentif Fiskal, Reksadana Bisa Mekar

Menteri Keuangan membuka pintu bagi insentif fiskal jika Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (PINTAR) berjalan sukses.​

INDEKS BERITA

Terpopuler