Nina Bobok Stabilitas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar baik datang bertubi-tubi pada hari pertama tahun 2026. Pemerintah melalui Kementerian ESDM memastikan tarif listrik tidak akan naik selama triwulan I-2026. Di sektor pangan, stok beras nasional mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah (3,39 juta ton per akhir 2025). Di atas kertas, kapal besar bernama Indonesia tampak tenang mengarungi samudra 2026.
Namun, kita perlu waspada. Ketenangan di permukaan ini bisa membuat lengah. Stabilitas harga dan tarif berpotensi menina-bobokan kita dari penyakit ekonomi yang sesungguhnya: keroposnya daya beli kelas menengah yang kian parah.
Kita patut mengapresiasi keputusan pemerintah menahan tarif listrik. Ini langkah logis tidak menambah beban.
Namun, jika harga-harga stabil (inflasi rendah) bukan efek pasokan yang efisien melainkan karena masyarakat memang "kurang mampu membeli", maka kita sedang dalam masalah besar. Ekonomi yang diam bukan berarti sehat; bisa jadi ia sedang pingsan. Jangan sampai stabilitas harga lebih terasa sebagai gejala "permintaan yang mati" ketimbang "pengendalian sakti".
Bagi masyarakat, terutama kelas menengah, tarif listrik yang "tetap" bukanlah diskon. Beban biaya hidup—mulai dari pajak, biaya pendidikan, hingga transportasi—sudah terlanjur tinggi. Ketika pendapatan stagnan, biaya yang "tidak naik" tetaplah beban berat yang harus dipikul dengan napas tersengal.
Fenomena mantab (makan tabungan) yang menghantui sejak tahun lalu belum terobati. Mereka menjadi kelompok paling rentan: terlalu kaya untuk layak menerima bansos, tapi terlalu lemah untuk menjadi andalan pertumbuhan ekonomi.
Jika pemerintah lupa mengupayakan kenaikan pendapatan masyarakat (daya beli), ekonomi hanya akan berjalan di tempat. Kebijakan defensif bukan obat yang menyembuhkan penyakit utamanya: minimnya lapangan kerja berkualitas dan pendapatan yang tergerus.
Sudah saatnya orientasi kebijakan di 2026 bergeser. Jangan hanya puas menjadi "penjaga gawang" inflasi dan tarif. Pemerintah harus menjadi "striker" yang agresif menciptakan insentif riil bagi industri untuk menyerap tenaga kerja.
Pada akhirnya rakyat tidak makan statistik makro yang indah dan mengagumkan. Rakyat butuh logistik yang terbeli dengan pendapatan yang memadai. Jangan sampai stabilitas 2026 menjadi ketenangan semu sebelum kemerosotan daya beli benar-benar menghantam fondasi ekonomi kita.
Kriiiiingggg!
