Optimisme Semu
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menjadikan faktor eksternal sebagai "kambing hitam" ketidakmampuan mereka mengelola negara. Konflik geopolitik, termasuk perang di berbagai kawasan, bukanlah kejutan baru.
Dua indikator untuk melihat mampu tidaknya pemerintah mengelola negara adalah nilai tukar rupiah dan pasar saham. Kini kurs rupiah terus ambruk hingga terus mencetak rekor baru di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedangkan investor asing terus hengkang alias net sell dari bursa saham Indonesia.
Kemarin asing tercatat kembali mencetak net sell sekitar Rp 1,79 triliun. Sepanjang pekan ini hingga Kamis (9/4), aksi jual investor asing mencapai Rp 3,56 triliun. Sedangkan rupiah kemarin kembali ambruk ke Rp 17.082 per dolar AS berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI).
BI telah berupaya keras menahan laju pelemahan rupiah. Selain memainkan kartu suku bunga, bank sentral rajin melakukan intervensi. Hasilnya, cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret 2026 dari US$ 151,9 miliar di Februari 2026. Sebulan menjaga rupiah, cadangan devisa anjlok US$ 3,7 miliar atau Rp 62,94 triliun.
Bank sentral sudah melakukan tugasnya. Namun intervensi BI hanya jangka pendek. Penyakit defisit fiskal tak pernah diobati. Sudah tahu peninggalan masa Joko Widodo berupa utang bejibun, pemerintah tak juga membenahi defisit. "Pelemahan rupiah akibat kebijakan pemerintah, bukan kesalahan BI dengan kebijakan moneternya," tegas Pakar Ekonomi, Ferry Latuhihin (Harian Kontan, 9 April 2026)
Ketika belanja negara meningkat tanpa diimbangi penerimaan yang kuat, pasar mempertanyakan keberlanjutan fiskal. Risiko ini bukan angka di atas kertas, tapi kredibilitas pengelolaan anggaran negara.
Respons kebijakan yang terkesan reaktif hanya memperkuat sentimen negatif. Tengok saat Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% di tahun 2026. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa malah balik menilai, Bank Dunia terlalu pesimistis dan kemungkinan besar dipengaruhi asumsi yang kurang tepat.
Sebelumnya, Februari lalu Moodys menyoroti potensi pelebaran defisit fiskal. Purbaya malah bilang, Moody's bukan mengkritik kebijakan fiskal. "Mereka tahu saya bisa kendalikan dengan baik, katanya.
Betul, tugas pemerintah memang harus menenangkan keadaan. Tapi setelah itu buru-buru melakukan perbaikan. Jangan optimisme semu atau kepedean.
