Otoritas di China Minta Emiten Menyiapkan Keterbukaan Informasi yang Diminta SEC

Rabu, 23 Maret 2022 | 11:45 WIB
Otoritas di China Minta Emiten Menyiapkan Keterbukaan Informasi yang Diminta SEC
[ILUSTRASI. Ilustrasi yang menampilkan grafik dan logo Beijing Stock Exchange. 12 November 2021. REUTERS/Florence Lo/Illustration]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONGKONG/BEIJING. Regulator pasar modal di China meminta beberapa perusahaan yang terdaftar di bursa Amerika Serikat (AS) 
untuk menyediakan lebih banyak informasi, demikian penuturan seorang sumber. Ini merupakan upaya Beijing untuk memastikan perusahaan-perusahaan seperti Alibaba, Baidu dan JD.com, tetap terdaftar di New York.

Pengawas pasar modal di China sedang mempertimbangkan usul untuk mengizinkan auditor dari AS untuk memeriksa kertas kerja audit dari beberapa perusahaan China. Asalkan, perusahaan itu tidak mengumpulkan data sensitif, demikian penuturan dua sumber.

Sebagai bagian dari langkah itu, Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC) dan otoritas lain pada awal bulan ini memanggil perusahaan internet terkemuka. Termasuk pemimpin mesin pencari Baidu Inc dan perusahaan e-commerce utama JD.com Inc, empat sumber mengatakan kepada Reuters.

Baca Juga: Harga Minyak dan Makanan Naik, Jepang Siapkan Stimulus Ekonomi Tambahan

Perusahaan internet lain yang dipanggil oleh regulator termasuk Alibaba Group dan Weibo Corp, dua sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut mengatakan. E-retailer Pinduoduo Inc dan perusahaan game NetEase Inc juga menghadiri pertemuan tersebut, seorang sumber menambahkan.

Mereka diminta untuk menyiapkan dokumen audit untuk tahun keuangan 2021 dengan mengingat permintaan regulator AS untuk pengungkapan lebih lanjut, kata sumber tersebut, yang menolak disebutkan namanya karena mereka tidak diizinkan untuk membahas rincian pertemuan tersebut.

Perusahaan sebaiknya mencari saran regulator China jika mereka "tidak yakin tentang apa pun" selama seluruh proses, kata sumber pertama, yang mencakup audit dan komunikasi dengan regulator AS.

CSRC tidak segera menanggapi permintaan komentar. Alibaba, Baidu, JD.com dan Weibo tidak segera menanggapi permintaan komentar. Pinduoduo dan NetEase juga tidak segera memberikan komentar.

Langkah terbaru regulator Tiongkok menunjukkan kesediaan Beijing berkompromi untuk keluar dari jalan buntu persoalan audit emiten Tiongkok di AS yang telah berlangsung lama. Masalah itu mempertaruhkan ratusan miliar dolar investasi AS di perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Pihak berwenang AS bergerak untuk mengeluarkan perusahaan-perusahaan China dari bursa saham Amerika, jika catatan audit perusahaan tidak tersedia untuk mereka kaji selama tiga tahun berturut-turut.

Pada bulan Desember, otoritas pasar modal di AS (SEC) menyelesaikan aturan untuk menghapus perusahaan China di bawah Holding Foreign Companies Accountable Act (HFCAA). SEC mengatakan telah mengidentifikasi 273 perusahaan yang berisiko, tanpa menyebutkan nama mereka.

Baca Juga: Ajang G20 Bisa Untuk Kerjasama Membuat Vaksin secara Global

SEC awal bulan ini menyebutkan untuk pertama kalinya lima dari perusahaan ini, termasuk operator KFC Yum China Holdings dan perusahaan biotek BeiGene Ltd, yang dapat menghadapi delisting. Menggambarkan langkah SEC sebagai "prosedur normal", CSRC mengatakan pihaknya yakin akan mencapai kesepakatan dengan mitra AS untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.

Perundingan regulator China dengan perusahaan domestik yang terdaftar di New York tentang pengungkapan audit lebih lanjut sedang berlangsung, tiga sumber mengatakan.

Washington telah lama menuntut akses penuh ke pembukuan perusahaan-perusahaan China yang terdaftar di AS, tetapi Beijing, dengan alasan masalah keamanan nasional, melarang pemeriksaan kertas kerja asing dari kantor akuntan lokal.

Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2022 Menjadi 5,4%

Sebuah peta di situs web Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik (PCAOB), sebuah badan pengawas auditor yang ditugaskan untuk membantu menjaga perusahaan publik di Amerika Serikat dalam pengawasan, menunjukkan China sebagai satu-satunya yurisdiksi yang menolak organisasi "akses yang diperlukan untuk melakukan pengawasan. ".

Goldman Sachs memperkirakan pada 11 Maret bahwa investor institusi AS memiliki sekitar $200 miliar eksposur ke American depositary receipts (ADRs) perusahaan China.

Indeks Nasdaq Golden Dragon China, yang melacak perusahaan-perusahaan China yang diperdagangkan di Wall Street, turun hampir 60% selama 12 bulan terakhir.

Dalam upaya untuk menenangkan ketakutan investor, Wakil Perdana Menteri China Liu He mengatakan pekan lalu pembicaraan antara regulator China dan AS tentang perusahaan yang terdaftar di Amerika Serikat telah membuat kemajuan dan kedua belah pihak sedang mengerjakan rencana kerja sama khusus.

Bagikan

Berita Terbaru

Stock Split Saham DSSA, Upaya Keluar dari HSC Meski tak Menarik Buat Semua Investor
| Rabu, 08 April 2026 | 09:00 WIB

Stock Split Saham DSSA, Upaya Keluar dari HSC Meski tak Menarik Buat Semua Investor

Secara bisnis, DSSA sedang dalam mode ekspansif demi mempertebal portofolio EBT sekaligus melebarkan sayap di infrastruktur digital. 

Yield Obligasi Korporasi Melonjak: Apa Artinya Bagi Portofolio Anda?
| Rabu, 08 April 2026 | 08:52 WIB

Yield Obligasi Korporasi Melonjak: Apa Artinya Bagi Portofolio Anda?

Penerbitan obligasi korporasi justru naik saat ekonomi melambat. Pefindo ungkap alasan di balik strategi refinancing emiten.

Beleid Pajak UMKM Terbit Semester I-2026
| Rabu, 08 April 2026 | 08:49 WIB

Beleid Pajak UMKM Terbit Semester I-2026

Ia memastikan, aturan revisi pajak penghasilan (PPh) final untuk pelaku UMKM akan segera diterbitkan dalam waktu dekat

BI Setor Surplus Rp 78 Triliun ke Pemerintah
| Rabu, 08 April 2026 | 08:43 WIB

BI Setor Surplus Rp 78 Triliun ke Pemerintah

Surplus tersebut akan disetorkan BI kepada pemerintah setelah proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selesai

Pelemahan Rupiah Masih Jadi Pemberat IHSG
| Rabu, 08 April 2026 | 07:45 WIB

Pelemahan Rupiah Masih Jadi Pemberat IHSG

 Sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi masih akan menekan pergerakan IHSG hari ini.

Kinerja DEWA Ditopang Kenaikan Harga Batubara dan Diversifikasi Bisnis
| Rabu, 08 April 2026 | 07:43 WIB

Kinerja DEWA Ditopang Kenaikan Harga Batubara dan Diversifikasi Bisnis

DEWA raup laba bersih Rp 4,31 triliun di 2025. Namun, laba 2026 diprediksi normalisasi. Cek strategi baru DEWA untuk tetap untung.

Rupiah Melemah, Emiten dengan Utang Dolar AS Bisa Tercekik
| Rabu, 08 April 2026 | 07:39 WIB

Rupiah Melemah, Emiten dengan Utang Dolar AS Bisa Tercekik

Liabilitas dolar AS membayangi kinerja laba bersih banyak emiten, terutama emiten yang punya utang dolar AS.

Menakar Untung, Rugi, dan Risiko Dividen Tunai Plus Bonus Saham Cinema XXI (CNMA)
| Rabu, 08 April 2026 | 07:30 WIB

Menakar Untung, Rugi, dan Risiko Dividen Tunai Plus Bonus Saham Cinema XXI (CNMA)

CNMA tercatat memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 1,81 triliun per Desember 2025, turun 10,39% dari Desember 2024 yang Rp 2,02 triliun.

Gencatan Senjata Saat Rupiah Ambruk, Asing Kabur, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 08 April 2026 | 07:29 WIB

Gencatan Senjata Saat Rupiah Ambruk, Asing Kabur, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

​Kaburnya asing dan anjloknya rupiah akan mewarnai pergerakan bursa saham hari ini. AS dan Iran sepakat gencatan senjata selama dua pekan.

Superior Prima Sukses (BLES) Fokus Optimalisasi Utilitas Produksi
| Rabu, 08 April 2026 | 06:20 WIB

Superior Prima Sukses (BLES) Fokus Optimalisasi Utilitas Produksi

Dengan kapasitas produksi yang telah diperluas, efisiensi biaya yang semakin baik serta jaringan distribusi yang semakin kuat

INDEKS BERITA

Terpopuler