Pasca IPO, Kokok Dewi Shri Farmindo (DEWI) Kian Nyaring

Sabtu, 24 September 2022 | 04:30 WIB
Pasca IPO, Kokok Dewi Shri Farmindo (DEWI) Kian Nyaring
[]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan yang bergerak di bidang budidaya ayam ras pedaging dan perdagangan eceran hewan ternak PT Dewi Shri Farmindo Tbk yakin bisnisnya masih akan bertumbuh di tahun ini. Inflasi dan ancaman melemahnya daya beli dinilai tak akan banyak mengganggu rencana bisnis perusahaan ini. 

Emiten dengan kode saham DEWI ini membidik pertumbuhan laba bersih sebesar 30% hingga tutup tahun 2022. Sekretaris Perusahaan DEWI Rita Juwita mengatakan, hingga Juni 2022, perusahaan ini sudah memperoleh laba sekitar Rp 5,05 miliar, atau tumbuh hampir 25% jika dibandingkan dengan Juni 2021. 

Menurut Rita, ada beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan kinerja operasional dan finansial perusahaan ini. Salah satunya adalah perbaikan ekonomi dibandingkan masa-masa awal pandemi. 

Baca Juga: Dewi Shri Farmindo (DEWI) Bidik Kenaikan Laba Bersih 30% pada 2022

Selain itu, naiknya harga komoditas, yang diperkirakan membuat harga daging ayam meningkat, juga turut mendorong kinerja. "Trading karkas kami juga meningkat setelah mendapatkan modal kerja dari IPO Juli 2022," tutur Rita. 

Dari hajatan IPO, emiten ini mengantongi dana segar sebesar Rp 70 miliar. Dana tersebut adalah hasil dari penawaran 700 juta saham dengan harga Rp 100 per saham. 

Perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI pada 18 Juli 2022 ini mengalokasikan 11,88% dari dana IPO untuk pembelian tanah. DEWI akan membangun rumah potong ayam (RPA) di sini.

Kinerja semester I

DEWI akan membangun RPA di lahan seluas 30.707 meter persegi (m²). "Saat ini kami sedang dalam proses perizinan dan kami memprediksi RPA yang berlokasi di Cianjur akan mulai beroperasi pada 2023," papar Rita.

Selanjutnya, 15,62% dana hasil IPO, atau setara dengan Rp 9,98 miliar, akan digunakan untuk mendanai pembangunan fasilitas broiler commercial farm di tanah non-afiliasi. Broiler commercial farm ini seluas 12.215 m².

Lalu dana IPO akan dialokasikan sebagai modal kerja. Misal untuk membeli ayam day old chick (DOC) dan ayam karkas. "Dengan demikian, kami mampu memuaskan tujuan dari stakeholders, termasuk memberikan profitabilitas kepada pemegang saham," jelas Rita.

Baca Juga: Pendapatan Dewi Shri Farmindo (DEWI) Tumbuh 35,72% pada Semester 1-2022

Berdasarkan laporan keuangan DEWI hingga Juni 2022, penjualan DEWI tumbuh 35,17% menjadi Rp 55,58 miliar, naik dari sebelumnya Rp 40,95 miliar. Penjualan daging karkas tercatat naik 21,43% dari sebelumnya Rp 35,37 miliar jadi Rp 42,95 miliar. Kemudian, penjualan ayam broiler komersial mencapai Rp 12,62 miliar.

Sementara itu, dari sisi fundamental DEWI membukukan pertumbuhan nilai aset sebesar 9,03% menjadi Rp 92,79 miliar, dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp 85,11 miliar. Adapun, liabilitas DEWI tercatat Rp 15,41 miliar dengan total ekuitas sebesar Rp 77,38 miliar.

Perusahaan ini optimistis sektor bisnis peternakan dan pemotongan ayam broiler masih memiliki prospek yang baik ke depannya. Mengingat, ayam broiler merupakan salah satu ternak yang menyumbang sumber protein paling terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

Demi menghasilkan dan menjaga kualitas ternak yang optimal, DEWI juga mengembangkan teknologi modern yang tepat guna dan ramah lingkungan. Broiler commercial farm milik DEWI sudah menggunakan teknologi closed house. Sehingga, ayam yang diproduksi lebih sehat dan produksinya tidak terlalu terpengaruh faktor cuaca. 

Ini berbeda bila dibandingkan dengan peternakan yang masih menggunakan sistem open house atau tradisional. Selain itu, perusahaan ini menggunakan blower, sehingga arus angin di dalam kandang bergerak satu arah. Dus, virus akan tersedot ke satu arah, untuk pengendalian ammonia yang maksimal.

Berdasarkan prospektus perusahaan, bahan baku RPA berasal dari internal yang memiliki populasi 125.000 ekor dan akan meningkat menjadi 250.000 ekor. Ini adalah hasil kombinasi dari pembelian di pedagang pengumpul maupun agen, broker dan pemasok.

Area pemasaran DEWI mencakup Sumatra dan Pulau Jawa. Perusahaan ini juga memiliki target pemasaran yang fokus pada korporasi, ritel, food processing dan pasar tradisional. 

Baca Juga: Harga Saham DEWI Melesat 26% pada Perdagangan Perdana

DEWI berharap, dengan jaringan penjualan yang luas dan tim yang handal, maka bisa memaksimalkan penjualan dalam jumlah besar ataupun eceran. Perusahaan ini mengaku masih menjajaki kontrak baru dengan beberapa perusahaan agar target penjualan tercapai. 

DEWI berharap konsumsi daging ayam ke depan akan meningkat, terutama menjelang akhir tahun dan tahun baru. Secara umum, penjualan dan tingkat konsumsi daging ayam meningkat saat libur anak sekolah, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.               

Bisnis peternakan keluarga 

Awalnya, PT Dewi Shri Farmindo Tbk (DEWI) adalah perusahaan keluarga. Selain publik, kepemilikan saham DEWI dimiliki oleh perorangan. Hingga 31 Agustus 2022, pemegang saham publik perusahaan yang bergerak di bidang peternakan dan pemotongan ayam broiler menguasai 13% saham, setara dengan 260 juta saham. 

Pemilik saham DEWI adalah Aditiya Fajar Junus yang menguasai 22,75% saham, Greta Dewi Halim yang memegang 16,25%, Sujito Ngatiman yang punya 15,5% dan Ferry Saputra dengan 13%. Ada juga Henry Saputra yang memiliki 12,35% saham dan Rakhmat Damdami yang punya 6,5%. 

Greta adalah ibu dari Aditiya yang juga sebagai direktur utama. Sedangkan Ferry dan Henry yang juga menjabat sebagai direksi di DEWI memiliki hubungan kakak beradik. Sejak melantai hingga Jumat (23/9), harga saham DEWI masih naik 126% menjadi Rp 226 per saham.          

Baca Juga: Menyimak Rencana Pengembangan Bisnis Dewi Shri Farmindo (DEWI) Usai IPO

Bagikan

Berita Terbaru

Insentif PPN DTP Rp 2,6 Triliun dari Negara
| Selasa, 07 April 2026 | 06:05 WIB

Insentif PPN DTP Rp 2,6 Triliun dari Negara

Pemerintah menjaga agar kenaikan harga tiket pesawat sekitar 9% hingga 13% imas kenaikan harga avtur

Tak Bisa Penuhi Free Float, Solusi Tunas Pratama (SUPR) Berencana Delisting
| Selasa, 07 April 2026 | 06:05 WIB

Tak Bisa Penuhi Free Float, Solusi Tunas Pratama (SUPR) Berencana Delisting

Kondisi perusahaan yang belum mampu memenuhi ketentuan minimum free float 15%, jadi alasan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) berencana delisting.

Pelipur Lara dari Saham Pembagi Dividen
| Selasa, 07 April 2026 | 06:00 WIB

Pelipur Lara dari Saham Pembagi Dividen

Pembagian dividen bisa menjadi pelipur lara bagi investor yang terjebak penurunan harga saham. Tapi, hati-hati memburu sahamnya

Defisit Anggaran Bengkak Pasca Satu Bulan Perang
| Selasa, 07 April 2026 | 05:56 WIB

Defisit Anggaran Bengkak Pasca Satu Bulan Perang

Realisasi defisit anggaran hingga 31 Maret 2026 Rp 240 triliun, tumbuh 140% secara tahunan​         

Lonjakan Harga Komoditas Menopang Laba Emiten Nikel
| Selasa, 07 April 2026 | 05:55 WIB

Lonjakan Harga Komoditas Menopang Laba Emiten Nikel

Sejumlah emiten nikel mencatat pertumbuhan laba bersih selama 2025. Tren kenaikan harga nikel jadi salah satu penopangnya.

IHSG Terbebani Saham Terkonsentrasi Tinggi, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 07 April 2026 | 05:45 WIB

IHSG Terbebani Saham Terkonsentrasi Tinggi, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Di tengah beragam sentimen eksternal dan internal, saham-saham ini layak dipertimbangkan untuk koleksi. 

Berburu Cuan dari Saham Emiten Penyebar Dividen
| Selasa, 07 April 2026 | 05:35 WIB

Berburu Cuan dari Saham Emiten Penyebar Dividen

Di pekan ini, ada beberapa emiten pembagi dividen yang bakal memasuki tahap cum dividen. Saham ini memiliki potensi jangka pendek menjanjikan.​

Reksadana Pasar Uang Tetap Untung, Mengapa Lainnya Rontok?
| Selasa, 07 April 2026 | 05:30 WIB

Reksadana Pasar Uang Tetap Untung, Mengapa Lainnya Rontok?

Mayoritas reksadana jeblok di kuartal I-2026, reksadana saham paling parah. Ada faktor geopolitik dan ekonomi domestik yang menekan

Bisnis Kabel Ditopang Proyek Kelistrikan
| Selasa, 07 April 2026 | 05:15 WIB

Bisnis Kabel Ditopang Proyek Kelistrikan

Salah satu penopangnya adalah penambahan transmisi yang akan dibangun mengikuti RUPTL sepuluh tahun ke depan, yaitu periode 2025-2034.

Konsolidasi, MI Pelat Merah Bisa Kian Cuan
| Selasa, 07 April 2026 | 05:15 WIB

Konsolidasi, MI Pelat Merah Bisa Kian Cuan

Danantara mulai mengeksekusi penggabungan perusahaan manajer investasi (MI) di lingkungan pelat merah. 

INDEKS BERITA

Terpopuler