Pasokan Logam Industri Tersendat, Kinerja Emiten Justru Terbantu

Senin, 18 Juli 2022 | 04:25 WIB
Pasokan Logam Industri Tersendat, Kinerja Emiten Justru Terbantu
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas logam industri terpantau menurun dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan tersebut terjadi karena munculnya kekhawatiran resesi dunia. 

Analis Indo Premier Sekuritas Erindra Krisnawan dalam risetnya menuliskan, kekhawatiran akan resesi menjadi penyebab utama penurunan harga komoditas logam. Dia memperkirakan, harga tembaga antara lain berpotensi turun lagi 10% selama tiga bulan ke depan. 

Namun, persediaan yang rendah dapat mendukung harga logam dan membuka kemungkinan pemulihan lebih cepat, seperti pada 2020. "Penurunan harga logam industri kali ini lebih didorong kekhawatiran tentang resesi akibat sikap bank sentral global yang hawkish," kata Erindra.

Baca Juga: Menakar Efek Penghapusan Pungutan Ekspor CPO ke Saham Emiten CPO

Kepala Riset Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya pun sepakat mengatakan, kekhawatiran akan resesi masih bisa berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Berbagai indikator yang menunjukkan pelemahan juga terus muncul. 

Misal, penjualan properti dan ritel di China per Mei masing-masing turun 37% dan 7% secara tahunan. Produksi baja minus 3% di periode sama. "Ke depan, harga saham emiten komoditas logam pun masih akan terkoreksi, karena mengikuti underlying komoditas," jelas Cheril, Minggu (17/7). 
Dia menjelaskan, ketika terjadi resesi, maka masyakarat cenderung menunda konsumsi. Sehingga permintaan komoditas turut melemah dan harganya turun. Ini bisa berdampak negatif dalam jangka menengah untuk emiten logam industri. 

Tapi permintaan komoditas di Asia saat ini masih belum menunjukkan potensi resesi di kawasan ini. Pemulihan ekonomi tampak masih berlanjut di Asia, sehingga permintaan komoditas logam dari Asia diprediksi tinggi. 

Larangan ekspor

Tahun ini, Cheril memprediksi kinerja emiten logam masih bisa tumbuh, meski pertumbuhan akan terbatas. "Prospek pemulihan sejumlah negara juga dapat mendukung harga komoditas di paruh kedua tahun ini," proyeksi dia. Apalagi permintaan tinggi tersebut tak diimbangi dengan perbaikan pasokan. 

Baca Juga: Vale Indonesia: Operasi Berbasis Keberlanjutan Akan Diterapkan di Blok Bahodopi

Erindra juga yakin jika ada potensi rebound kinerja emiten logam industri di semester dua ini. Pendorongnya, pembukaan kembali aktivitas ekonomi yang didukung kebijakan fiskal. 

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Desy Israhyanti memperkirakan, kebijakan larangan ekspor bijih mineral serta program hilirisasi tambang mineral juga akan menjadi katalis positif bagi emiten logam industri. Tak hanya itu, pengembangan kendaraan listrik dan ekosistemnya juga memberi harapan kenaikan permintaan logam industri di tengah tekanan inflasi.

Desy menyebut, melemahnya harga logam industri tetap akan berpengaruh terhadap margin keuntungan emiten. Cuma, meski harga logam industri saat ini cenderung turun, harga masih lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. 

Jadi, ia menilai, prospek saham emiten logam industri masih cukup menarik. "Harga logam industri masih tergolong tinggi dan akan cenderung stabil," kata Desy. 

Tapi masih ada sentimen yang bisa memberatkan prospek emiten logam, yaitu kenaikan harga minyak dan pangan. "Perlambatan ekonomi China berpotensi mengurangi permintaan, lalu fleksibilitas keuangan emiten dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi tantangan," ujar Desy. 

Meski telah memperhitungkan skenario resesi, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan rating overweight untuk sektor ini. Desy juga menyebut beberapa emiten logam menarik karena memiliki potensi monetisasi aset yang positif. Misalnya PT Adaro Minerals Indonesia Tbk, PT Merdeka Copper Gold Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).    

Baca Juga: Kinerja Bank-Bank Besar Tetap Solid, Lihat Rekomendasi Sahamnya

Begini pembahasan atas rekomendasi saham emiten logam industri: 

Merdeka Copper (MDKA)
MDKA telah menambah kepemilikan di tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan smelter nikel rotary klin-electric furnace (RKEF) masing-masing sebesar 27% dan 21%. Analis percaya dalam jangka panjang valuasi MDKA bisa jauh lebih besar. MDKA juga berpotensi terus menambah kepemilikan di semua aset tersebut. 
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 7.000
Thomas Radityo, Ciptadana Sekuritas

Aneka Tambang (ANTM)
Kenaikan harga jual nikel membuat analis percaya pendapatan ANTM akan jauh lebih baik. Pendapatan ANTM pada tahun 2022 dan 2023 masing-masing akan menjadi Rp 41,3 triliun dan Rp 42,3 triliun. Ini sejalan dengan meningkatnya harga rata-rata nikel global, dengan asumsi harga menjadi US$ 28.000 per ton pada tahun 2022 dan 2023.
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 3.700
Juan Harahap, Mirae Asset Sekuritas

Timah (TINS)
TINS akan meningkatkan kontribusi bijih timah dari penambangan lepas pantai sebesar 60% di 2023. Pasalnya, biaya penambangan di darat lebih tinggi. Biaya tunai pada kuartal IV-2021 di penambangan darat US$ 22.418, dan biaya penambangan lepas pantai US$ 19.101 per ton. Ini akan menurunkan biaya tunai dan meningkatkan penjualan.
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 2.100
Hasan Barakwan, BRI Danareksa Sekuritas

Vale Indonesia (INCO)
Pembangunan smelter INCO akan meningkatkan target produksi. Ini sesuai dengan perkembangan kendaraan listrik serta permintaan baterai. Volume produksi INCO akan mencapai 62.000-64.000 ton di tahun ini. Sementara harga nikel diperkirakan akan ada di kisaran US$ 20.000 per ton pada tahun ini.
Rekomendasi: Buy Target harga: Rp 7.800
Aqil Triyadi, MNC Sekuritas

Baca Juga: Laba Diproyeksi Melesat, Berikut Rekomendasi Saham Vale (INCO)

Bagikan

Berita Terbaru

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG
| Kamis, 02 April 2026 | 09:30 WIB

Konflik Timur Tengah bisa Menahan Penerbitan Obligasi Baru, Begini Kata TBIG dan ENRG

Di tengah himpitan pasar surat utang, opsi pendanaan dari kredit perbankan menjadi sekoci penyelamat.

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan
| Kamis, 02 April 2026 | 09:00 WIB

Ketidakpastian RKAB, Bukan Halangan Bagi Prospek ITMG ke Depan

Para analis juga memperkirakan bahwa harga jual average selling product (ASP) akan mampu menutupi kenaikan biaya produksi ITMG secara sempurna.

Penjualan Tahun 2025 Naik, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Melejit Dua Digit
| Kamis, 02 April 2026 | 08:37 WIB

Penjualan Tahun 2025 Naik, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Melejit Dua Digit

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) sukses mengantongi laba bersih Rp 1,16 triliun atau meningkat 41,6% yoy dari Rp 819,53 miliar di 2024.​

Prospek Emiten Sawit 2026 Stabil tapi Volatil: Harga CPO, El Nino & B50 Jadi Katalis
| Kamis, 02 April 2026 | 08:30 WIB

Prospek Emiten Sawit 2026 Stabil tapi Volatil: Harga CPO, El Nino & B50 Jadi Katalis

Produksi global diprediksi kembali mengucur deras seiring dengan pemulihan output panen di Indonesia dan Malaysia.

Merogoh Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham
| Kamis, 02 April 2026 | 08:23 WIB

Merogoh Dana Rp 2 Triliun, United Tractors (UNTR) Gelar Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tersebut tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor PT United Tractors Tbk (UNTR).

Prapenjualan Masih Kuat, Laba Summarecon Agung (SMRA) Pada 2026 Bisa Melesat
| Kamis, 02 April 2026 | 08:14 WIB

Prapenjualan Masih Kuat, Laba Summarecon Agung (SMRA) Pada 2026 Bisa Melesat

Peluang pemulihan kinerja SMRA pada 2026 masih terbuka. Katalis pendukungnya, antara lain, realisasi marketing sales yang stabil di tahun lalu. ​

Laba Grup Merdeka Masih Belum Perkasa Pada 2025
| Kamis, 02 April 2026 | 08:07 WIB

Laba Grup Merdeka Masih Belum Perkasa Pada 2025

Pada 2026 prospek Grup Merdeka lebih cerah. Katalis datang dari potensi operasional Tambang Emas Pani PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).​

WFH 1 Hari Bagi ASN Resmi Berlaku, Begini Kesiapan Operator Hadapi Lonjakan Trafik
| Kamis, 02 April 2026 | 08:00 WIB

WFH 1 Hari Bagi ASN Resmi Berlaku, Begini Kesiapan Operator Hadapi Lonjakan Trafik

Operator telekomunikasi sudah berpengalaman menghadapi lonjakan trafik di kawasan permukiman di masa pandemi Covid-19.

Upaya Mendongkrak Saham Beredar di Publik Melalui Free Float 15%
| Kamis, 02 April 2026 | 07:45 WIB

Upaya Mendongkrak Saham Beredar di Publik Melalui Free Float 15%

Dalam jangka pendek, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terancam anjlok akibat kebijakan memperbesar free float.

Tren Kinerja MAPI pada 2025 Berpotensi Berlanjut Hingga Awal 2026, Sahamnya Kemana?
| Kamis, 02 April 2026 | 07:43 WIB

Tren Kinerja MAPI pada 2025 Berpotensi Berlanjut Hingga Awal 2026, Sahamnya Kemana?

Manuver strategis MAPI merangsek ke bisnis home improvement dengan menggandeng ACE International jadi amunisi baru.

INDEKS BERITA

Terpopuler