Pelaku Industri Pertambangan Tetap Andalkan Dana Perbankan

Senin, 06 Mei 2019 | 08:18 WIB
Pelaku Industri Pertambangan Tetap Andalkan Dana Perbankan
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengusaha pertambangan masih mengandalkan pendanaan perbankan guna mendukung ekspansi usaha. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di kuartal I-2019 menunjukkan, penyaluran kredit perbankan ke sektor pertambangan naik 11,55%. Produsen pertambangan menilai, kredit perbankan masih menarik meski suku bunga acuan (BI rate) dipatok sebesar 6%.

Salah satu produsen pertambangan yang mengandalkan pendanaan bank adalah Indika Energy Group. Head of Corporate Communication PT Indika Energy Tbk (INDY), Leonardus Herwindo menyampaikan, secara umum, fasilitas kredit mereka pilih berupa kredit modal kerja dan term loan.

Untuk proyek jangka pendek, menurut dia, biasanya Indika Energy memilih kredit modal kerja yang merupakan fasilitas kredit jangka pendek. "Biasanya harus dikembalikan dalam waktu maksimal satu tahun," kata Leonardus kepada KONTAN, Jumat (3/5).

Untuk proyek jangka panjang, INDY memilih kredit term loan yang merupakan fasilitas kredit untuk keperluan investasi jangka panjang.

Pada akhir bulan lalu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 6%. Namun, kata Leonardus, kebijakan itu tak memicu kenaikan suku bunga kredit, sehingga kredit perbankan masih menarik untuk pendanaan. "Dari sisi perusahaan, ini merupakan hal yang positif, meski persyaratan untuk memperoleh kredit menjadi lebih ketat," ujar dia.

Meski demikian, hingga kini, INDY belum mengajukan kredit. Satu hal yang pasti, Indika terus memastikan adanya komunikasi dan menjalin hubungan baik dengan kalangan perbankan, baik bank domestik maupun bank di luar negeri. Hal tersebut demi mendukung kegiatan operasional perusahaan.

Selama ini, portofolio pendanaan operasional INDY berasal dari biaya modal yang dimiliki perusahaan atau melalui bantuan permodalan perbankan. Untuk tahun ini, INDY menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 315 juta. Sumber belanja modal diperoleh dari pinjaman bank sekitar 75% dan sisanya 25% berasal dari dana internal.

Produsen batubara lainnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), juga belum berencana menambah kredit perbankan untuk mendukung kebutuhan perusahaan. Saat ini, kebutuhan dana diperoleh dari dividen anak usaha sektor batubara. "BUMI juga tidak memiliki rencana kredit tambahan," ujar Direktur BUMI, Dileep Srivastava.

Dalam catatan KONTAN, kini, prioritas utama BUMI adalah meningkatkan laba dengan membayar kembali utang atau restrukturisasi utang yang diprediksikan bisa mencapai US$ 200 juta hingga US$ 250 juta pada tahun 2019. BUMI juga mengerek produksi batubara dari tahun sebelumnya sebesar 83 juta ton.

Dengan begitu, menurut Dileep, laba bakal meningkat signifikan dan mengurangi beban bunga. BUMI berencana melakukan pembayaran kembali utang Tranche A sebesar US$ 600 juta pada Januari 2021. Sehingga BUMI bisa menekan beban bunga sebesar US$ 45 juta.

Produksi Bisa Lebih Rendah

Kondisi pasar global dan permintaan dalam negeri yang belum agresif berpotensi mempengaruhi produksi batubara di dalam negeri.

Ketua Indonesia Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo meyakini, produksi batubara pada tahun ini lebih rendah ketimbang realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 557 juta ton. Namun, penurunan produksi tahu ini tidak tajam. "Penurunan produksi karena kondisi pasar global dan permintaan di dalam negeri belum kembali agresif," terang dia kepada KONTAN.

Hingga akhir April tahun ini, produksi batubara nasional sudah mencapai 118 juta ton atau 24,12% dari target hingga akhir 2019.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai, volume produksi batubara biasanya mulai mendaki pada kuartal kedua. "Masih terlalu dini untuk menilai prospek produksi berdasarkan realisasi dalam empat bulan ini," tandas dia.

Bagikan

Berita Terbaru

Tekanan Jual Masih Kencang, IHSG Melemah 3,28% Dalam Sepekan
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:42 WIB

Tekanan Jual Masih Kencang, IHSG Melemah 3,28% Dalam Sepekan

Dalam sepekan, IHSG masih terkoreksi sebesar -3,28%. Selama sepekan ini, koreksi IHSG didominasi oleh tekanan jual yang relatif meningkat.

Valas Safe Haven Tertekan Indeks Dolar AS
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Valas Safe Haven Tertekan Indeks Dolar AS

Di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY), prospek JPY dan CHF berada di bawah bayang-bayang dominasi dolar AS. ​

Guyur Anak Usaha Rp 6,45 Triliun, Prospek EMAS Semakin Bernas
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:23 WIB

Guyur Anak Usaha Rp 6,45 Triliun, Prospek EMAS Semakin Bernas

Dana tersebut akan digunakan belanja modal (capex) dan belanja operasional (opex) PT Pani Industri Nusantara.

Strategi Bos Trisula Textile Industries (BELL):  Menakar Risiko Lewat Saham dan Emas
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:57 WIB

Strategi Bos Trisula Textile Industries (BELL): Menakar Risiko Lewat Saham dan Emas

Potensi keuntungan tetap menjadi pertimbangan, tetapi tingkat risiko dari instrumen yang dipilih juga perlu diperhatikan.​

Strategi Sido Muncul (SIDO) Menyehatkan Kinerja
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:43 WIB

Strategi Sido Muncul (SIDO) Menyehatkan Kinerja

Penjualan SIDO pada semester I-2026 turun sekitar 20% secara tahunan. Penjualan herbal dan suplemen turun 41% menjadi sekitar Rp 639 miliar.​

Bisnis Mobil Bekas Auksi MPMX Melandai, Ini Penyebabnya
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:29 WIB

Bisnis Mobil Bekas Auksi MPMX Melandai, Ini Penyebabnya

Kenaikan harga bahan bakar solar ternyata ikut memengaruhi minat konsumen terhadap mobil bekas bermesin diesel.

Reshuffle Lagi
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Reshuffle Lagi

Kita berharap sistem demokrasi bisa kembali berjalan, kritik keras bukan dijawab dengan pemblokiran akun, tapi tanggapan yang lebih membangun.

Indikasi Fenomena Makan Tabungan Menguat Lagi
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 04:45 WIB

Indikasi Fenomena Makan Tabungan Menguat Lagi

Pertumbuhan simpanan nasabah dengan nominal di bawah Rp 100 juta yang melambat menjadi 4,7% secara tahunan pada Juli 2026

Bank Kecil Menjaga Laju Bisnis Kredit
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 04:30 WIB

Bank Kecil Menjaga Laju Bisnis Kredit

Bank kecil tetap ekspansif di tengah tekanan ekonomi.                                                    

Bensin Batubara dan Ujian Ekonomi Hilirisasi
| Sabtu, 03 Oktober 2026 | 04:18 WIB

Bensin Batubara dan Ujian Ekonomi Hilirisasi

Pabrik coal-to-liquids (CTL) memerlukan modal besar yang baru kembali setelah bertahun-tahun beroperasi.

INDEKS BERITA

Terpopuler