Berita

Pemerintah Larang Ekspor Bijih Nikel, Ini yang Akan Antam (ANTM) Lakukan

Kamis, 22 Agustus 2019 | 05:56 WIB

ILUSTRASI. Bijih nikel di peleburan milik Antam

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) telah menyiapkan strategi jika pemerintah benar-benar melarang ekspor bijih nikel (ore) mulai Oktober 2019. 

Salah satu strateginya, Antam (ANTM) akan menggenjot produksi emas.

Direktur Utama Aneka Tambang (ANTM) Arie Prabowo Ariotedjo menjelaskan, masih ada ruang untuk menaikkan produksi hingga 36 ton sampai akhir tahun ini. 

Awalnya Antam hanya memasang target memproduksi emas sebanyak 32 ton.

Hingga semester I tahun ini, Antam telah memproduksi emas sebanyak 15,74 ton. Jumlah ini naik 14,39% secara year on year dari 13,76 ton.

Antam mengakui memanfaatkan tren harga emas yang terus naik sepanjang tahun ini. 

Arie menyebut, harga emas dunia bertahan di US$ 1.300US$-1.400 per troi ons. Rabu (21/8), harga emas di Comex untuk pengiriman Desember 2019 pada US$ 1.512 per ons troi.

Baca Juga: Ekspor nikel distop Jonan, Antam bisa kehilangan Rp 2 triliun

Selama ini, pasokan emas Antam hanya dari tambang Pongkor di Jawa Barat dan Cibaliung di, Banten, yang cadangannya mulai menipis. 

"Tambang di Pongkor izin kami tinggal dua tahun lagi," beber Arie.

Tapi Antam telah melakukan eksplorasi dan menemukan cadangan baru yang bisa sampai 20 tahun. 

"Rencananya kami menambah izin hingga 10 tahun," tutur Arie.

Perusahaan ini akan menggenjot tambang lain. 

Antam  juga memiliki tambang emas lain di Gosowong, hasil kerjasama dengan PT Nusa Halmahera Minerals. 

Di Gosowong, Antam memiliki 25% saham.

Baca Juga: Duh, Larangan Ekspor Nikel Masih Menekan Harga Saham ANTM dan INCO

Antam tengah melakukan eksplorasi di Oksibil Pegunungan Bintang Papua. 

Antam juga menggelar eksplorasi tambang emas di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kerjasama dengan Vale Brasil. 

Usaha ini diharapkan bisa menutupi potensi kehilangan pemasukan Rp 2 triliun jika ada larangan ekspor bijih nikel.

Gandeng China

Menurut Arie, larangan ekspor ore nikel tak berdampak serius bagi Antam sebab penjualan dalam ore nikel hanya menyumbang 7% dari total pendapatan. 


Hingga semester I tahun ini, penjualan unaudited Antam tumbuh 22% menjadi Rp 14,43 triliun.

Emas, perak dan jasa pemurnian logam mulia masih memberi kontribusi penjualan terbesar, yakni 67% atau setara Rp 9,72 triliun. 

Sedang feronikel dan nikel berkontribusi 29%, setara Rp 4,07 triliun.

Karena itu, ke depan, Antam akan mengembangkan smelter nikel. 

Perusahaan ini telah meneken kerja sama dengan dua perusahaan China.

Pertama, kerja sama dengan Shandong Xinhai untuk menggarap nikel di Pulau Gag, Papua. 

Arie menyebut, hasil dari smelter nantinya adalah 40.000 ton feronikel dan 500.000 ton stainless steel pada tahap awal.

"Lokasi smelter ada di Sorong atau Halmahera," terang dia, Rabu (21/8). 

Di sini, Antam akan memiliki mayoritas saham atau lebih dari 51%. Nilai investasi US$ 1,2 miliar.

Baca Juga: Larangan Ekspor dipercepat, Proyek Smelter Nikel diklaim bisa terganggu

Kedua, Antam menjalin kerja sama dengan Huayou Cobalt Co Ltd untuk memproduksi bahan baku baterai mobil listrik dan motor. 

Nilai investasi proyek ini US$ 6 miliar. Dalam proyek ini, Inalum sebagai induk Antam akan ikut mendanai. 

"Dananya bisa dari obligasi, pinjaman bank dan shareholder," terang Arie.

Ekspansi tersebut tak akan menggunakan belanja modal tahun ini. 

Tahun ini, Antam fokus menggarap proyek chemical grade alumina (CGA) yang akan groundbreaking awal September 2019. 

Nilai investasi proyek di Mempawah, Kalimantan Barat tersebut sekitar US$ 900 juta. 

Di semester I, Antam telah menggunakan capex Rp 685,14 miliar dari total Rp 3,39 triliun.

Baca Juga: Asyik, Margin Keuntungan Penjualan Emas Aneka Tambang (Antam) Menebal

 

Reporter: Avanty Nurdiana
Editor: Herry Prasetyo

IHSG
6.231,47
0.21%
-13,00
LQ45
980,77
0.21%
-2,03
USD/IDR
14.085
-0,10
EMAS
756.000
0,53%

Baca juga