Pendapatan DOID Tumbuh tapi Laba Bersih Menyusut

Kamis, 08 Agustus 2019 | 06:10 WIB
Pendapatan DOID Tumbuh tapi Laba Bersih Menyusut
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendapatan bersih perusahaan jasa pertambangan batubara PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) selama semester I 2019 masih bisa tumbuh 13,23% year on year (yoy) menjadi US$ 435,35 juta.

Namun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersihnya menyusut lebih dari empat kali lipat menjadi US$ 4,07 juta.

Tren penurunan harga batubara masih menjadi tantangan Delta Dunia Makmur.

Pada saat yang sama, aktivitas produksi perusahaan itu terganggu curah hujan tinggi.

Tak ayal, tingkat keterpakaian alias utilitas alat produksi Delta Dunia Makmur pada kuartal II 2019 hanya 56%.

Informasi saja, mereka memiliki lebih dari 2.900 unit alat berat.

Meskipun rapor paruh pertama tahun ini belum menggembirakan, harapan akan perbaikan kinerja masih ada.

"Strategi yang kami lakukan adalah meningkatkan produktivitas dengan mengoptimalkan utilitas aset," tutur Regina Korompis, Head of Investor Relations PT Delta Dunia Makmur Tbk kepada KONTAN, Rabu (7/8).

Selama semester I 2019, Delta Dunia Makmur sudah membelanjakan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebanyak US$ 43 juta untuk peremajaan alat berat dan penambahan alat berat baru.

Penyerapan capex setara dengan 43% terhadap total alokasi capex tahun ini yakni US$ 100 juta.

Negosiasi kontrak

Sambil memacu utilitas alat produksi, Delta Dunia Makmur melanjutkan negosiasi perpanjangan kontrak dengan beberapa klien.

Dua di antaranya yaitu perpanjangan kontrak dengan PT Berau Coal dan PT Kideco Jaya Agung.

Kontrak dengan Berau Coal berupa jasa penambangan batubara di Site Binungan.

Sementara dengan Kideco, Delta Dunia Makmur tengah sedang memproses perpanjangan kontrak jangka panjang atau selama tambang tersebut berproduksi.

Sejauh ini, Delta Dunia Makmur telah terikat perjanjian kontrak jasa penambangan dengan sejumlah pelanggan.

Sebut saja kontrak dengan Berau Coal berjangka 19 tahun, kontrak PT Adaro Indonesia 15 tahun, kontrak Kideco 13 tahun, kontrak Geo Energy Group 13 tahun dan kontrak PT Tadjahan Antang Mineral dua tahun.

Lalu, masing-masing kontrak setahun dengan Indonesia Pratama, Petro Energy dan PT Insani Baraperkasa.

Pelangan besar

Mengintip lebih jauh laporan keuangan per 30 Juni 2019, Delta Dunia Makmur memiliki empat pelanggan besar dengan nilai transaksi masing-masing lebih dari 10% terhadap total pendapatan bersih.

Keempatnya meliputi Berau Coal, Adaro Indonesia, Kideco Jaya Agung dan PT Sungai Danau Jaya.

Total nilai transaksi keempatnya mencapai US$ 319,50 juta.

Pada semester I 2019, Delta Dunia Makmur melalui PT Bukit Makmur Mandiri Utama, mencatatkan volume overburden removal (OB) atau pengupasan lapisan tanah penutup sebanyak 191,1 juta bank cubic meter (bcm).

Sementara, volume penambangan batubara sebanyak mencapai 24,2 metrik ton.

Target pengupasan lapisan tanah hingga tutup tahun nanti 380 bcm420 bcm.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA

Terpopuler