Berita Ekonomi

Penerimaan pajak hingga kuartal ketiga tumbuh 16,87% per tahun

Kamis, 04 Oktober 2018 | 09:18 WIB

KONTAN.CO.ID -  Kendati ekonomi sedang dalam tekanan, penerimaan pajak tetap lancar mengalir. Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan mencatat perimaan pajak sampai dengan akhir September 2018 mencapai Rp 900,82 triliun, tumbuh 16,87% yoy. Jumlah itu setara 63,26% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 Rp 1,424 triliun.

Semua jenis pajak mengalami pertumbuhan dobel digit. Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan menjelaskan, realisasi penerimaan pajak itu sejalan dengan perekonomian yang masih tumbuh di atas 5% serta peningkatan kepatuhan wajib pajak.

Kinerja pajak juga terdorong oleh kenaikan harga komoditas. Harga batubara menembus US$ 110 per metrik ton. Lalu, pelemahan rupiah juga mendongkrak penerimaan pajak, khususnya pajak terkait impor.

Namun Robert tak menjelaskan secara rinci efek pelemahan rupiah terhadap penerimaan pajak. Hanya, mengacu analisis sensitivitas asumsi dasar ekonomi makro di APBN 2018, setiap rupiah melemah 100 poin dari asumsi awal (Rp 13.400 per dollar AS), akan menambah penerimaan pajak sebesar Rp 2,1 triliun-Rp 2,6 triliun.

Jika melihat rekam jejak data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rata-rata kurs rupiah hingga 3 Oktober 2018 sebesar Rp 14.064,03 per dollar AS. Artinya rupiah sudah melemah sekitar 764 poin, sehingga potensi tambahan penerimaan pajak mencapai Rp 16 triliun-Rp 19,86 triliun.

Meski begitu, Robert memperkirakan target penerimaan pajak sulit tercapai. "Outlook kami sekitar 95% dari target APBN," tandas Robert.

Pakar pajak dan Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analisys (CITA) Yustinus Prastowo, memperkirakan penerimaan pajak hingga akhir tahun akan mencapai 94% dari target APBN.

Jadi akan ada shortfall pajaknya sekitar Rp 80 triliun. "Kalau perhitungan kami, realisasi Agustus kan 56% dan September mencapai 63%, kalau rata-rata per bulan bertambah 10%, realisasi akhir tahun hanya 93% atau 94%," jelas Yustinus.
 

Reporter: Lidya Yuniartha
Editor:


Baca juga