Penjualan Semen Bulan Juli Membaik & Diklaim bisa Berlanjut, Simak Prospek Saham INTP

Rabu, 27 Agustus 2025 | 11:01 WIB
Penjualan Semen Bulan Juli Membaik & Diklaim bisa Berlanjut, Simak Prospek Saham INTP
[ILUSTRASI. Suasana paparan publik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) di Jakarta (25/3/2025). KONTAN/Pulina Nityakanti]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTAPenjualan semen pada tahun ini diperkirakan masih menghadapi tantangan akibat lemahnya daya beli masyarakat serta minimnya proyek konstruksi baru di sejumlah daerah. Kondisi ini tercermin dari data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang menunjukkan, pada semester I-2025 penjualan semen domestik turun 2,5% secara tahunan menjadi 27,7 juta ton. 

Meski demikian, prospek di semester II dipandang lebih positif. Permintaan semen diprediksi akan meningkat, sejalan dengan dukungan sejumlah kebijakan pemerintah. Faktor utama pendorongnya antara lain perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), yang memberi ruang lebih bagi masyarakat untuk melakukan pembelian rumah.

Selain itu, penurunan suku bunga juga diyakini menjadi katalis positif. Dengan bunga yang lebih rendah, akses pembiayaan baik untuk pembelian properti maupun kebutuhan renovasi menjadi lebih terjangkau.

Hal ini diharapkan mendorong konsumsi semen, terutama dari segmen rumah tangga yang biasanya mendominasi permintaan di tengah minimnya proyek infrastruktur baru.

Lebih lanjut, program renovasi rumah yang dicanangkan pemerintah diklaim akan menjadi motor penggerak tambahan bagi industri semen.

Program ini tidak hanya menyasar peningkatan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga memberikan multiplier effect pada industri bahan bangunan secara keseluruhan.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, penjualan semen pada paruh kedua tahun ini berpeluang mencatatkan perbaikan dibandingkan dengan kinerja pada semester pertama.

Baca Juga: Semen Indonesia Tbk (SMGR) Tersandung Permintaan yang Lesu

Aditya Prayoga, Analis Phintraco Sekuritas dalam riset 26 Agustus 2025 bilang, penjualan semen nasional mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Juli 2025, meskipun masih tergolong rapuh. 

Ia mencatat penjualan semen bulan Juli sebesar 5,8 juta ton atau tumbuh 18,4% secara bulanan (MoM). Namun, secara tahunan (YoY) volume tersebut masih terkontraksi 3,8%.

Dengan capaian itu, total volume kumulatif sepanjang tujuh bulan tahun ini mencapai 32,9 juta ton, atau 51,5% dari target proyeksi setahun penuh 2025.

Pertumbuhan penjualan pada Juli 2025 terutama didorong oleh penjualan semen curah yang mencapai 1,70 juta ton, naik 21,7% dibandingkan bulan lalu. Sementara itu, penjualan semen kantong tercatat 4,09 juta ton, juga naik 17,1% dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, penjualan semen kemasan masih stabil di 13,56 juta ton hingga Juli 2025. Sebaliknya, semen curah mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 10,2% yoy menjadi 7,60 juta ton, terutama akibat keterlambatan realisasi sejumlah proyek infrastruktur besar, termasuk proyek Ibu Kota Negara (IKN).

Secara regional, seluruh wilayah menunjukkan rebound pada Juli. Namun, bila dilihat secara kumulatif, beberapa daerah masih mengalami kontraksi signifikan secara tahunan, di antaranya Jakarta sebesar 1,16 juta ton atau turun 17,2% YoY, Kalimantan hanya 2,45 juta ton atau turun 18,8% YoY, dan Yogyakarta sebesar 519 ribu ton atau turun 10,4% YoY.

Nah, di tengah dinamika pasar semen, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mampu meningkatkan pangsa pasarnya. Pada Juli 2025, INTP mencatat penjualan sebesar 1,69 juta ton atau tumbuh 20,5% dibandingkan bulan sebelumnya, capaian ini juga meningkat 17,1% yoy.

"Pangsa pasar perusahaan naik menjadi 29,2%, dari sebelumnya 28,7% di Juni 2025," ungkap Aditya.

Secara kumulatif, penjualan INTP selama 7M25 mencapai 8,0 juta ton, turun moderat 2,8% yoy atau lebih baik dibandingkan tren nasional yang tertekan lebih dalam. Pencapaian INTP menunjukkan ketahanan yang relatif baik di tengah pelemahan pasar semen nasional

 

 

Baca Juga: Perdana, India Impor CPO dari Kolombia dan Guatemala, Begini Dampaknya buat Indonesia

Sedangkan Cheryl Jennifer Wang, Analis Sucor Sekuritas bilang kinerja INTP di kuartal II-2025 didorong oleh efisiensi biaya dan strategi harga yang disiplin.

INTP mencatatkan laba sebesar Rp 284 miliar pada kuartal II, melonjak 44,4% YoY. Pertumbuhan ini didukung penurunan biaya pokok penjualan (COGS) berkat efisiensi berkelanjutan sebesar 3% per kuartalan.

Salah satu kunci keberhasilan efisiensi tersebut adalah peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif, yang mengurangi hingga 27,7% dari total konsumsi bahan bakar. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan capaian pada tahun 2024 yang hanya 21,4%.

Dus, laba bersih INTP pada semester I-2025 mencapai Rp 494,76 miliar atau tumbuh 13,81dari sebelummya Rp 434,71 miliar. Hal ini mendorong peningkatan margin bersih menjadi 6,2%, dari sebelumnya 5,4% pada semester I tahun lalu.

Selain efisiensi, INTP juga mengandalkan strategi harga yang disiplin. Perusahaan mengoptimalkan komposisi produk dengan mendorong semen kemasan dan merek premium yang memiliki average selling price (ASP) lebih tinggi dibandingkan semen curah.

Hasilnya, ASP INTP naik 1% pada semester I dan penguasaan pasar juga meningkat menjadi ditengah penurunan ASP industri. Capaian laba bersih di semester I merefleksikan 26% dari perkiraan dan konsensus, masih konsisten dengan rerata kontribusi selama 5 tahun terakhir.

"Kami mengantisipasi kinerja yang lebih baik di semester II didorong oleh dimulai kembali proyek pembangunan IKN, penurunan suku bunga dan perpanjangan 100% PPN DTP sampai akhir tahun 2025. Kami tetap memproyeksikan laba INTP berada di Rp 1,9 triliun," ujarnya

Dus, Cheryl tetap merekomendasikan beli saham INTP dengan target harga Rp 8.600, yang mencerminkan EV/EBITDA tahun 2025 di 6,8x. Saat ini, saham INTP diperdagangkan pada valuasi yang rendah, yakni hanya 0,9x PBV dan 4,3x EV/EBITDA untuk 2025.

INTP menjadi pilihan utama Sucor Sekuritas di sektor semen, didukung oleh profitabilitas yang unggul, neraca keuangan yang kuat, dan keunggulan struktural dalam margin. Potensi dividen yang menarik sebesar 5–7% semakin memberikan daya tarik bagi investor.

"Dengan margin yang membaik, prospek semester kedua 2025 yang solid, serta fundamental yang kokoh, kami melihat potensi kenaikan valuasi yang sangat menarik," tambah Cheryl.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Harga Minyak Lesu, Saham Migas Masih Simpan Peluang di 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 13:00 WIB

Harga Minyak Lesu, Saham Migas Masih Simpan Peluang di 2026

Sektor migas dinilai lebih cocok sebagai peluang trading hingga investasi selektif, bukan lagi sektor spekulatif berbasis lonjakan harga komoditas

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia
| Senin, 12 Januari 2026 | 10:15 WIB

Menakar Peluang Cuan Saham Migas di 2026 di Tengah Normalisasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia 2026 diprediksi US$ 56 per barel, begini rekomendasi saham RATU, ELSA, MEDC, ENRG, hingga PGAS.

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer
| Senin, 12 Januari 2026 | 09:23 WIB

UMP 2026 Naik 5,7%, Dorong Konsumsi & Saham Konsumer

Kenaikan UMP 2026 rata-rata 5,7% & anggaran perlindungan sosial Rp 508,2 triliun dukung konsumsi. Rekomendasi overweight konsumer: ICBP top pick.

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:57 WIB

Menilik Target Harga Saham JPFA dan CPIN di Tengah Ekspansi Kuota Protein Nasional

Akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen seasonal jadi amunisi pertumbuhan industri poultry.

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:30 WIB

Target FLPP Meleset, Ini Kata Pengembang

Kendala pembangunan rumah subsidi saat ini mencakup keterbatasan lahan, lonjakan harga material, hingga margin pengembang yang semakin tertekan.

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:29 WIB

Menakar Realisasi Akuisisi BULL oleh Grup Sinarmas, Antara Spekulasi & Tekanan Bunga

Ada risiko koreksi yang cukup dalam apabila proses transaksi akuisisi BULL pada akhirnya hanya sebatas rumor belaka.

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:20 WIB

Diamond Citra Propertindo (DADA) Menangkap Potensi Bisnis Hunian Tapak

Selama ini, perusahaan tersebut dikenal cukup kuat di segmen properti bertingkat atawa high rise dan strata title.

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:11 WIB

ARA 18 Hari Beruntun Bikin Saham RLCO Melesat 2.286% Sejak IPO, Masih Layak Beli?

RLCO sebelumnya mendapatkan negative covenant dari Bank BRI dan Bank Mandiri karena rasio utang belum memenuhi rasio keuangan yang dipersyaratkan.

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:10 WIB

Industri Kaca Bidik Pertumbuhan Positif di Tahun 2026

Pasar dalam negeri masih menjadi tumpuan bagi industri gelas kaca. APGI pun berharap, tingkat konsumsi dan daya beli bisa membaik.

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api
| Senin, 12 Januari 2026 | 08:04 WIB

Harga Tembaga Kian Menyala di Tahun Kuda Api

Harga tembaga seakan tak lelah berlari sejak 2025 lalu. Mungkinkah relinya bisa mereda setelah menyentuh rekor?

INDEKS BERITA

Terpopuler